
"Panggil anak itu kemari, aku ingin mengenalnya lebih dekat!" Ujar seorang pengusaha kaya raya, saingan terbesar Satya, dalam usaha batu mulia di negara itu.
"Tapi Ga!. Anak itu telah dimiliki oleh Satya, jadi akan sedikit sulit untuk menariknya masuk dalam kelompok kita." Protes Ares, teman satu kelompoknya meragukan niat dari temannya itu.
"Aku kenal di Satya itu Res!. Orangnya sedikit pelit, dan tidak mudah percaya pada orang lain, apalagi pada bocah itu?"
"Jika dia kasi satu, kita kasi dua. Dia kasi dua, kita kasi tiga, bahkan jika perlu lebih daripada itu!"
"Aku yakin bocah yang bernama Arya itu akan tunduk pada kita, karena kita punya kuasa, juga lebih kaya daripada Satya yang pelit itu."
"Lagipula aku dengar dia punya usaha kecil di kota ini, jadi mudah buat kita untuk masuk, dan menariknya ke dalam kelompok kita, dengan pura pura memberikan bantuan modal besar padanya."
"Kalau dia tidak mau, ya kita hancurkan saja sekalian usahanya itu, biar dia tahu, bahwa kelompok kita bukan kelompok yang bisa dipermainkan?" Jawab dan penjelasan Rangga pada temannya, terkesan menyepelekan keberadaan Satya dan Arya.
"Aku setuju dengan pendapat mu itu paman!. Kebetulan aku juga mempunyai permasalahan dengannya di kota ini." Ucap seseorang yang datang secara tiba tiba tersebut cukup mengejutkan.
"Radit?. Kapan kau datang? kenapa tidak mengabari paman?" Reaksi Rangga tentu saja kaget bukan kepalang.
"Baru juga paman. Kebetulan aku ada keperluan di kota ini, jadi sekalian saja singgah kesini." Jawab Raditya berterus terang.
"Amanda kan?" Tebak Rangga langsung pada intinya.
"Ah paman tau saja!" Reaksi Radit malu malu.
"Ya, taulah!. Paman gitu?" Jawab Rangga terlihat lucu.
"Oh ya, gimana kabar ayah mu?. Apa dia baik baik saja?" Tanya Rangga tiba tiba.
"Sedang tidak baik baik saja tuh!. Istri barunya terus saja merengek minta dibelikan mobil baru, hingga membuat ku merasa jengah, dan rasanya ingin keluar saja dari rumah itu. Tapi ayahku selalu mencegahnya, karena dia sering sakit sakitan. dan tidak ada yang diharapkan selain aku." Jawab Raditya berterus terang.
"Si Mona kan ada?. Percuma punya anak perempuan, kalau tidak bisa merawat orang tuanya?" Protes Rangga tidak suka.
"Bocah itu tidak bisa diharapkan paman. Tiap hari kerjanya keluyuran terus, tak tentu juntrungannya pula. hingga membuat ayah menjadi pusing, ditambah lagi oleh hasutan Dona, semakin membuat kami semua menjadi tidak betah berlama lama di rumah."
"Oleh karena itu, Monalisa lebih suka berada diluar rumah, daripada harus melihat ibu tiri yang serakah itu." Jawab Raditya apa adanya.
"Humm!" Respon Rangga datar, sambil berpikir keras, bagaimana caranya agar kakaknya itu terlepas dari pengaruh Dona, wanita yang baru dinikahi oleh kakaknya itu?
"Bagaimana keadaan ayah mu, Apa penyakitnya semakin parah?" Tanya Rangga lain lagi.
"Ya begitulah paman. Sembuh kambuh lagi, begitu seterusnya." Jawab Raditya apa adanya.
"Penyakit jantung memang seperti itu. Sering kumat kalau banyak beban dan pikiran. Ditambah dengan ulah istri barunya itu, akan menambah penyakitnya semakin parah."
"Oleh karena itu, kau harus menjauhkan ayahmu dari perempuan itu. kalau tidak, ayah mu bisa mati secara perlahan. karena katanya, di Dona itu ahli ramuan, sekaligus tukang sihir?. Bahaya kalau dia terus ada di rumah itu, bisa hancur keluarga kalian!" Tanggapan Rangga cukup mengejutkan Raditya.
"Darimana paman tahu kalau si Dona itu ahli ramuan juga tukang sihir?, padahal tempat tinggal kita saling berjauhan?. Apakah paman punya mata mata?" Reaksi Raditya keheranan.
"Seberapa jauhlah Seraya dengan kota mu itu?. Hanya dipisahkan oleh gunung saja sudah sampai kesana."
"Kebetulan paman punya mata mata di rumah mu itu. Mang Karta, kau ingat itu?" Jawab Rangga berterus terang.
"Mang Karta, tukang kebun itu?" Respon Raditya tidak menyangka.
__ADS_1
"Ya, dia orangnys. Paman sengaja menempatkannya di sana, karena mensinyalir akan adanya bahaya di rumah mu, setelah ayah mu memasukkan Dona ke rumah itu."
"Jadi paman berinisiatif untuk mengirimkannya ke sana, untuk mengawasi tindak tanduk Dona, yang ingin menguasai ayah mu juga hartanya."Jawab Rangga berterus terang.l lagi.
"Kenapa aku tidak tahu. Memang apa yang paman sembunyikan dari kami?. Apakah sebahaya itu?" Reaksi Raditya tentu saja bertambah penasaran.
"Nantilah paman ceritakan, siapa sebenarnya si Dona itu, agar sedari dini, kau bisa mencegah rencananya untuk menguasai harta ayah mu itu." Jawab Rangga membingungkan semuanya.
"Sekarang saja paman. Aku harus tahu lebih awal, agar nyawa ayahku bisa diselamatkan." Desak Raditya tidak sabaran.
"Huh!. Baiklah. Paman akan menceritakan tentang Dona yang sebenarnya pada mu.Tapi kau jangan kaget ya, dan siapkan mental mu agar tidak mati penasaran." Jawab Rangga masih buat Raditya dan teman pamannya penasaran.
"Apa, Perempuan itu dulunya simpanan paman?Kenapa ayah tidak tahu tentang itu?. Kenapa paman merahasiakannya dari ayah?" Respon Raditya keheranan, sesaat setelah Rangga pamannya itu menceritakan hal sebenarnya tentang Dona padanya.
"Paman juga baru tahu jika perempuan yang ayahmu nikahi itu adalah Dona. Jika paman tahu itu sejak awal, tentu pernikahan itu tidak akan terjadi?" Jawab Rangga begitu adanya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan paman. Apakah membiarkan saja masalah itu terus terjadi,atau...?"
"Mencari orang pintar, yang bisa mengobati penyakit ayah mu, sekaligus menyembuhkan sakit jantungnya itu!" Sambung Rangga cukup tanggap, memotong pertanyaan dari Raditya barusan.
"Orang pintar?. Maksud paman, dukun gitu?" Respon Raditya kembali dibuat penasaran.
"Lebih dari dukun, lebih dari orang pintar, tapi master metafisika, yang bisa mendeteksi segala bentuk aura negatif di tubuh seseorang."
"Jika kita datangkan orang itu, paman yakin ayahmu akan bisa disembuhkan!" Jawab Rangga berterus terang.
"Tapi siapa master itu? apakah di kota ini ada?" Tanya Raditya penasaran.
"Ada!. Dia master yang sangat terkenal di kota ini. Keahliannya adalah bertarung, sekaligus menghilangkan aura negatif di tubuh seseorang. Dia adalah...?"
"Master Prana, guru dari tuan Teja itu. Berarti..?" Respon Raditya tiba tiba mendapatkan secercah harapan.
"Kau kenal master Teja, murid dari master Prana itu?" Respon Rangga keheranan.
"Ya jelas kenal paman. Dia orang yang pernah menolong ku, saat syaraf punggung ku kejepit waktu jatuh itu?"
"Berkat pertolongannya, nyawaku bisa diselamatkan. Oleh karena itu, aku sangat berhutang budi padanya, dan telah mengangkat saudara dengannya." Jawab Raditya berterus terang.
"Baguslah kalau begitu. Dengan demikian, kita bisa meminta bantuannya untuk menghubungi gurunya, agar mau mengobati ayah mu yang terkena guna guna itu." Reaksi Rangga cukup senang, tapi membuat Raditya juga Ares mengerutkan keningnya.
"Guna guna?. Maksud paman?" Reaksi Raditya keheranan.
"Ya guna guna, mau apa lagi?. Ayah mu sekarang sedang berada dalam pengaruh sihir pemikat jiwa, yang dilepaskan oleh Dona itu. makanya dia manut saja pada istri barunya itu." Jawab Rangga apa adanya.
"Kurang ajar!. Ternyata perempuan yang terlihat baik itu, adalah siluman rubah yang berhati jahat?"
"Jika aku punya kemampuan, tentu tangan ku sendiri yang akan menghancurkannya!" Reaksi Raditya tidak senang.
"Kau tenanglah Radit!. Ayahmu masih bisa diselamatkan. asal master Prana mau mengobatinya."
"Untuk sementara, tinggal saja kau di sini. Bawa juga adik mu yang liar itu, agar dia juga bisa di obati." Ucap Rangga apa adanya.
"Adikku juga terkena pengaruhnya paman?" Respon Raditya bertambah penasaran.
__ADS_1
"Ya, tentu saja!" Jawab Rangga singkat.
"Jadi..?"
"Usahakan agar ayah juga adik mu mau di ajak kesini, dengan alasan mengurus bisnis yang sedang terlilit masalah."
"Jika dia tidak mau, maka siap siap saja, perusahaan tersebut akan diakuisisi oleh orang lain." Jawab Rangga mencari alasan.
"Baik paman!. Demi kesembuhan ayah juga adik ku itu. aku akan membawa mereka berdua kesini untuk diobati" Jawab Raditya tegas, sambil mengepalkan tangannya erat erat. dengan pandangan mata penuh dendam.
***
Sementara itu ditempat lain,saat Arya sedang berniat ingin pergi setelah liburan sekolah tiba.
"Salam tuan!. Anak buah hamba melaporkan, bahwa orang yang bernama Rangga, Ares juga Raditya, sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada anda." Ucap Argani pada Arya.
"Raditya?. Dia ada di kota ini?" Respon Arya mendadak penasaran.
"Benar tuan!. Dia ada di kota ini. Ternyata orang yang bernama Rangga itu adalah pamannya, adik dari orang tuanya."
"Terus..?"
"Saat itu dia mengeluh, bahwa keluarganya sekarang sedang tidak baik baik saja. Jadi dia mengadu pada pamannya, agar bisa menolongnya."
"Namun apa yang dia dapatkan malah di luar dugaan.Ternyata istri baru ayahnya itu adalah mantan pamannya, sekaligus seorang ahli ramuan, juga penganut ilmu sihir, yang bekerja sama dengan siluman rubah yang licik itu."
"Kenapa kau ceritakan itu padaku. Apa hubungannya denganku?" Tanya Arya memotong penjelasan dari anak buahnya.
"Justru disitulah serunya yang mulia." Jawab Arga menimbulkan tanda tanya.
"Kenapa?" Tanya Arya.
"Orang orang itu ingin meminta bantuan pada anak buah anda, yaitu master Prana juga master Teja." Jawab Arga.
"Buat apa?" Tanya Arya lagi.
"Untuk mengobati Permana, ayahnya itu." Jawab Argani lagi.
"Permana?. Sepertinya di kota ini ada orang yang bernama Permana, tapi dimana dia tinggal aku sudah lupa. Lagi pula baru mendengar namanya saja." Respon Arya penasaran.
"Nama lengkap orang itu adalah Dirgantara Permana, cucu dari pengusaha kaya raya pada masanya dulu."
"Permana adalah nama keluarga besarnya. Sedangkan nama aslinya adalah Dirgantara, yang selalu dipanggil tuan Dirga oleh orang orang nya."
"Kemungkinan besar orang yang bernama sama itu adalah kerabatnya?" Jawab Arga apa adanya.
"Humm!. Ternyata begitu!. Lalu apa rencana mereka lagi yang kau ketahui. Apakah mereka ingin mencelakai ku?" Respon Arya sekaligus bertanya.
"Mereka ingin menarik tuan, agar mau mejadi orangnya. Jika tuan menolak, maka perusahaan kecil tuan akan mereka hancurkan." Jawab Arga apa adanya.
"Sampai sejauh itu?. Tapi kenapa?" Respon Arya kembali dibuat penasaran.
"Karena mereka ingin, agar orang jenius seperti tuan, mau bekerja untuk mereka, dengan harapan, perusahaan mereka akan bertambah besar, dikarenakan pengaruh anda." Jawab Argani seperti apa adanya.
__ADS_1
"Oh, ternyata begitu?. Aku jadi penasaran, dan ingin melihat, apa yang bisa mereka lakukan, jika sudah berhadapan dengan raksasa yang menggurita itu, apakah mereka berani berhadapan dengannya?" Respon Arya, yang tiba tiba mempunyai rencana terhadap mereka.