
"Maaf ketua! Eh maksud ku komandan. Kami ini orang baik dan taat hukum. Bahkan sudah pernah mendapatkan predikat warga teladan, dengan kontribusi ikut menyukseskan program pemerintah dalam masalah kebersihan serta keindahan taman laut yang harus dijaga."
"Jadi tidak mungkin bagi kami untuk melawan pemerintah, karena kami juga...?"
"Diam! Jangan menghalangi pemeriksaan, kalau tidak mau dicap melawan aparat yang berwenang!"
"Kami hanya menjalankan kewajiban, untuk menjaga ketertiban dan hukum yang ada. Jadi biarkan kami periksa mereka, termasuk anda!" sergah kolonel Bima mengejutkan Gaksa.
Lalu melanjutkan lagi perkataannya. "Bawa orang orang itu kemari, dan periksa data datanya!" ujarnya.
"Bagaimana ketua? Keberadaan kita sudah mulai diketahui? Apa kita harus diam saja saat diperiksa?" tanya seorang nelayan campuran dari negara tetangga pada ketuanya.
"Ikuti saja apa kata mereka. Jangan tunjukkan kegugupan kita. Nanti setelah keadaan tidak terkendali, keluarkan ilmu pelumpuh jiwa, dan buat mereka semua pingsan. Termasuk warga desa"
"Setelah itu kita melarikan diri, dan kembali ke negara kita masing masing." jawab ketua dua nelayan samaran itu memberi instruksi pada anak buahnya.
Tak lama kemudian. Pemeriksaan pun sudah berjalan, dibawah todongan senjata otomatis, walau tidak diarahkan langsung pada mereka.
Sedang gencar gencarnya pemeriksaan. Tiba tiba salah seorang dari mereka diberi kode oleh ketuanya, untuk segera mengeluarkan aura penindasan pelumpuh jiwa, yang pernah diperagakan pada Satya dan Dave tua.
Tindakan mereka yang tiba tiba itu, tentu saja membuat kolonel Bima dan anak buahnya tidak bisa berbuat apa apa, termasuk dua belas orang petugas kepolisian.
Bukan mereka tidak punya penolaknya, tapi pengaruh aura hitam itu dengan cepat memasuki alam kesadaran mereka, dan membuat waktu seakan berhenti, serta harus patuh pada keinginan pembuatnya. "Cepat lucuti senjata mereka. dan ambil apa saja yang berharga!"
"Kita hanya punya waktu saja jam. Setelah itu mereka akan sadar, dan pasti akan menangkap kita!" teriak ketua gerombolan nelayan itu kuat juga.
Maka bergegaslah hampir dua ratusan orang lebih itu mengambil senjata senjata pihak musuh, dan memasukkannya ke dalam kapal kapal mereka. Namun saat hampir mencapai finish. Tiba tiba kesadaran para tentara juga polisi itu kembali. Begitu juga dengan seluruh warga desa. Tapi tidak termasuk Gaksa. Karena ternyata dia adalah ketua kelompok besar tersebut, yang menyamar sebagai penduduk desa, dan berhasil menjadi kepala kampung itu sudah cukup lama.
Kolonel Bima yang pertama sadar atas kejadian itu. Disusul oleh anak buahnya. Namun sudah sangat terlambat. Senjata yang mereka bawa sudah dilucuti, dan sedang diarahkan pada mereka." Siapa sebenarnya kalian? Kenapa bisa berada di wilayah kami. Apakah kalian pemberontak?" tanya Bima.
"Ya, kami memang pemberontak! Tapi pemberontak terhormat. Karena kami bukan berasal dari negara kalian!"
"Tujuan kami mencari makan di sini, karena tahu bahwa kalian mudah di suap, dan dijanjikan kehidupan layak!"
"Baru dikasi beberapa juta saja sudah sangat senang. Padahal kami sudah mengeruk keuntungan milyaran dolar, dari tambang emas tersembunyi yang ada di sana!" jawab Gaksa, yang menyamar sebagai kepala desa itu cukup bangga.
"Jadi selama ini kami bekerja pada pengkhianat bangsa ya? Sungguh keterlaluan kau Gaksa. Katakan siapa kau sebenarnya?" geram warga pada mantan kepala desanya.
__ADS_1
"Kalian ingin tahu siapa aku! Ha? Aku tegaskan pada kalian ya. Namaku yang sebenarnya adalah Braga. Ayah dari Govinda atau Naga Bhaskara. Musuh seorang pengusaha kaya raya tapi bodoh. yaitu Arya!"
"Dalam pertempuran besar itu dia sangka kami telah mati. Padahal sebenarnya tidak. Anak ku yang mempunyai ilmu malih rupa, berhasil mengelabui bocah bodoh itu dan selamat karenanya."
"Yang bertarung itu bukan raga asli kami, tapi orang yang kami pengaruhi, serta kami serupa kan untuk melawan Arya. Sedangkan kami melarikan diri dan singgah di pulau ini, dan menjadi Gaksa kepala desa kalian."
"Sementara anak ku menjadi seorang petinggi di kota tetangga, serta mempunyai pengaruh besar di sana."
"Sekarang kalian sudah tahu siapa aku dan kami semua kan? Namun sayangnya kami tidak akan membiarkan masalah ini tersebar keluar. Kalian harus mati karena telah berani mendengar dan melihat keberatan kami!"
"Untuk itu bersiaplah untuk menemui Sang Pencipta, agar kematian kalian tidak sia sia!" jawab Gaksa.
Lalu berseru kembali dengan suara yang cukup lantang." Tembaki mereka!. Jangan biarkan seorang pun yang hidup, termasuk para pekerja itu!" ujar Braga pada anak buahnya.
Maka dalam sekejap saja. Bunyi tembakan menggema di angkasa pulau itu, dan menewaskan selusin an lebih warga desa. serta menciderai tujuh orang polisi, serta menewaskan seorang tentara, yang terkena tembakan di kepalanya.
Namun tanpa mereka sadari. termasuk oleh Braga. Orang orang yang mereka tembaki itu bukanlah manusia, tapi anak buah Yang Cha, yang entah bagaimana berhasil mengambil alih peran, dan menjadi warga desa, termasuk menyerupakan diri menjadi polisi serta tentara.
Jadi yang mereka kira mati itu hanya fatamorgana, dan tidak benar benar terjadi. Setelah tertembak, mereka segera menghilang, dan menjadi orang lainnya." Sekarang sudah cukup main mainnya. Kini giliran kami pula yang menembaki kalian!" ujar Yang Cha, yang diamini oleh sahabatnya, Arga. Pengawal pribadi Arya, dari bangsa Wangsa Baladewa.
"Tepat sekali!. Kami bangsa lelembut yang tidak akan bisa mati, kecuali atas keinginan kami sendiri!"
"Selama ini yang mulai pangeran mengetahui bahwa kalian berdua masih hidup. Tapi tidak mengetahui keberadaan kalian secara persisnya!"
"Ternyata salah satunya ada di pulau ini, dan menjadi pemimpin desa, serta mengeruk jutaan dolar, dari tambang emas ilegal yang sudah kami ketahui posisinya."
"Namun jangan kalian kira, apa yang sudah kalian dapatkan itu menguap begitu saja? Anak buah ku sudah langsung pergi kesana, dan mengambilalih harta yang telah kalian rampok, serta memindah bukukan uang milyaran dolar dari buku rekening kalian dan membawa anak mu itu kesini."
"Kau lihatlah kesana! Bukankah itu Govinda, alias Naga Bhaskara, anak mu yang sudah sukses di negara tetangga?"
"Sekarang dia meringkuk tidak berdaya, karena semua ilmunya sudah dicabut oleh yang mulia pangeran, dan telah menjadi orang biasa tanpa kesaktian."
"Oleh karena itu terimalah hukuman kalian, karena telah berani menipu bangsa, dan merampas hasil buminya!" jawab Yang Cha, disusul dengan teriakannya yang cukup lantang.
"Teknik keserakahan jiwa! Musnahkan mereka semua!"
"Hiaaaaa!"
__ADS_1
"Tunggu! Jangan bunuh kami! Aku mengaku bersalah! Akulah yang sebenarnya mengarang cerita, saat perusahaan tuanmu ingin beroperasi di sini!"
"Walau itu perusahaan...?"
Dhuar!
"Argh!"
Tanpa memperdulikan rengekan Gaksa alias Braga. Yang Cha tetap meledakkan formasi keserakahan, yang diperkuat oleh kesaktian Arga, hingga membuat tempat itu menjadi porak poranda.
Lebih dari 188 orang mati dibuatnya. yang semua orang orang itu adalah pengkhianat bangsa, tanpa sempat membela diri atau melawan.
Ilmu sakti yang mereka banggakan, tidak berpengaruh apa apa buat Yang Cha, serta anak buahnya. Jadi tanpa terkecuali, mereka mati semua, dengan membawa rasa tidak puas dan percaya, kalau mereka bisa dikalahkan.
Kini nyawa mereka sudah diamankan, dan pergi menemui Sang Pencipta. "Ayo kita kembali. dan serahkan keadaan pada petugas petugas itu."
"Jangan sampai keberadaan kita dilihat oleh mereka, karena yang mulia pangeran telah melarangnya." ucap Arga pada seluruh anak buahnya, termasuk pada Yang Cha. Kemudian menghilang bersama sama, setelah mengembalikan kesadaran orang orang desa, pekerja, serta ratusan petugas itu.
"Apa yang terjadi?" ujar Bima dengan ekspresi penasaran, setelah keberadaan serta kesadarannya dikembalikan ke tempat semula.
"Itu juga yang ingin saya tanyakan komandan. Semula ada ratusan orang orang yang terlihat asing, termasuk kepala desanya. Tapi sekarang dimana mereka? dan kenapa tempat ini terlihat porak poranda. Lalu siapa yang membuatnya?" jawab komandan polisi itu keheranan, sekaligus bertanya pada rekannya.
"Aku juga tidak tahu ketua! Keadaan benar benar membuat ku keheranan. Semula banyak orang disini. Tapi sekarang orang orang berpenutup muka itu telah tiada. Entah pada kemana mereka?" jawab Bima.
"Ah terlalu membingungkan! Pantas saja disebut pulau angsa, karena keberadaannya kadang terlihat kadang tidak."
"Lebih baik kita tanyakan masalah ini pada penduduk desa, sekaligus mengecek keberadaan ketuanya." respon Bima. Lalu memerintahkan pada bawahannya untuk memeriksa pulau itu untuk menemukan jawabannya.
Namun walau dicari selama dua jam. Keberadaan Braga atau Gaksa itu tetap tidak bisa ditemukan. Tapi tiba tiba sebuah notifikasi masuk ke handphone milik Bima, yang mengatakan bahwa Gaksa itu adalah pengkhianat bangsa. dan keberadaannya tidak perlu dicari lagi, karena dia sudah mati, berikut ratusan anak buahnya tersebut.
Jadi biarkan itu menjadi misteri, dan jangan dipersoalkan lagi. Bunyi pesan itu, yang tertera dilayar handphone milik Bima. tertanda Dave tua.
Membaca notifikasi tersebut, membuat Bima jadi mengerti, siapa yang telah melakukannya.
Pasti Arya, yang keberadaan tidak berani ia singgung. Jadi bergegas menyuruh anak buahnya untuk cepat meninggalkan pulau itu, serta tidak berani lagi untuk ikut campur.
"Biarkan waktu yang membuktikannya." batin Bima. Lalu meninggalkan tempat tersebut begitu saja, dibawah tatapan keheranan puluhan pasang mata yang melihatnya.
__ADS_1