
"Tuan muda Arya!" reaksi Dave tua seakan tidak percaya. atas kedatangan Arya yang tiba tiba itu.
"Biasa saja! Jangan terkejut begitu." jawab Arya dibuat bercanda. Padahal kedatangannya yang tiba tiba tersebut, memang sangat luar biasa. Arya nya saja yang merasa tidak ada apa apanya.
"Oh ya, satu lagi. Jangan panggil saya tuan muda. Rasanya tidak pantas untuk pengusaha sekaliber anda memanggil saya dengan panggilan tuan muda. Panggil saya Arya saja. Karena bagaimanapun saya yunior anda." ucapnya.
"Ah tidak, tidak! Anda adalah atasan saya, juga atasan mereka semua. Jadi sudah seharusnya kalau kami memanggil anda tuan muda?"
"Mau dipanggil pak masih terlalu muda. Jadi apa salahnya kalau kami menggelari anda tuan muda?" protes Dave tua apa adanya.
"Benar itu! Pun sudah sepantasnya anda mendapatkan kehormatan yang tinggi tersebut, karena anda memang layak untuk itu." sambung Satya menguatkan pendapat dari temannya.
"Master Arya, bagaimana?" celetuk Prana.
"Ah terserah kalian sajalah! Saya saja sudah merubah kebiasaan aku menjadi saya. Karena level anda semua sudah jauh diatas saya. Pun anda semua ini adalah senior saya. Jadi sudah seharusnya saya bersikap begitu."
"Namun untuk memanggil saya, cukup Arya saja. Jangan tuan muda." respon Arya.
"Nantilah akan kami pikirkan. Apa panggilan yang pantas untuk anda?" Sambut Dave tua. mewakili teman temannya.
"Ya sudah! Sekarang seperti rencana anda untuk memulai pembangunan dermaga. Saya setuju untuk itu. Karena harinya juga tepat, waktunya juga demikian."
"Jadi tunggu apalagi? Segera instruksikan pengerjaannya kepada pihak yang bertanggungjawab. Mumpung saya sedang ada disini?" jawab Arya masih menyimpan kekecewaan, atas sikap senior seniornya. Namun apa boleh buat, bukan kehendak Arya juga.
Satu setengah jam kemudian. Pemancangan tiang pertama untuk dermaga di pulau Angsa sudah selesai dilakukan, karena alat alatnya canggih canggih semua. Dan dilanjutkan kepada tiang kedua, ketiga dan seterusnya.
***
Tiga hari pengerjaan pun sudah berjalan. Progres pembangunan sembilan dermaga sudah nampak hasilnya. Terutama di pulau Angsa dan pulau Permata. Dimana di tempat itu Arya menempatkan tujuh lapisan formasi pertahanan, agar jenis pesawat serta kapal jenis apapun tidak bisa masuk kesana, sebelum mendapatkan ijin dari tuannya.
Hal itu sengaja ia lakukan, karena Arya tidak mau diganggu saat dalam pengerjaan. Pun menurutnya. tidak lama lagi akan datang bala bantuan, yang dikomandoi oleh negara Naga, yang masih belum puas juga dengan hasil yang mereka terima.
Jadi mereka meminta dukungan, dari negara negara yang pro kepada mereka. Mumpung mereka masih berkuasa. "Percuma itu kalian lakukan.Toh Nusantara tetap tidak akan mengijinkan, kalau dua pulau itu untuk kalian kuasai."
"Penjaga sembilan pulau itu, tentu saja tidak akan tinggal diam. Kalau kalian tidak percaya, lakukan saja!" ucap seorang utusan dari Arya, yang menyamar sebagai duta besar di negara Naga.
"Kami tidak mau tahu, dan percaya dengan mitos tersebut. Karena bagi kami. Tidak ada satupun yang kami takuti di dunia. Apalagi sekedar bocah yang bernama Arya Kamandanu itu!"
"Hanya dalam sekali serang. pasti dia akan mati!" reaksi mereka tidak percaya.
"Itu terserah anda. Kami hanya sekedar mengingatkannya." jawab seorang duta besar tidak suka. Lalu keluar dari ruangan, untuk kembali ke kedutaannya.
"Apa benar apa yang dia katakan barusan? Pulau Angsa dan sekitarnya mempunyai penjaganya sendiri sendiri? Kalau memang iya tapi apa?" Guman menteri pertahanan merasa geram, yang saat duta besar Nusa kembali ke negaranya. Dia baru muncul ke ruangan.
"Tuan menteri! Kapan anda datang?" respon panglima perang pada atasannya.
__ADS_1
"Duduklah! Kebetulan aku ingin
menemui mu, untuk membicarakan langkah selanjutnya." jawab menteri tersebut cuek saja.
Lalu duduk di sofa dan langsung berkata." Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan peralatan tempur kita. Kenapa semuanya hancur walau tidak diserang?" ujar nya.
"Itu juga yang aku pikirkan selama ini. Kenapa hal itu bisa terjadi? Padahal peralatan tempur kita canggih canggih semua. Tapi begitu mudahnya dihancurkan oleh mereka?"
"Tapi eh tunggu dulu! Apa benar mereka yang menghancurkannya? Buktinya kan tidak ada?" sambung rekannya.
"Ada atau tidaknya, kita tetap harus menuntut mereka!. Jika kita melakukannya, mau ditaruh dimana muka kita ini?"
"Pemimpin tertinggi saja sudah setuju untuk itu. Apalagi dia sangat mendukung rencana kita untuk menguasai dua pulau tersebut, karena bahan tambangnya yang luar biasa banyaknya!"
"Kalau kita berhasil menguasainya. Ratusan pesawat tempur. Puluhan kapal perang, dan enam kapal induk. Itu tidak sebanding dengan kekayaan hasil buminya!"
"Jadi apapun yang terjadi! Kita tetap akan menuntut mereka. Jika perlu menguasai negaranya. Apapun respon dunia?" bantah menteri pertahanan pada bawahan nya.
"Dasar orang orang tidak ada kerjaan! Sudah jelas itu kesalahan mereka. Masih juga tidak mau mengalah. Baik aku cabut saja aura kesadaran mereka. Biar menjadi pembelajaran buat yang lainnya." Guman seorang mata mata Yang Cha, pada rekan kerja yang ada di sebelahnya.
"Ya! Aku setuju dengan ide mu. Aku rasa panglima Yang Cha juga setuju dengan tindakan kita?"
"Selama ini kita masih memberi kesempatan untuk kedua orang itu untuk hidup. Tapi ternyata mereka tidak menyadarinya juga."
"Kesadaran spiritual mereka itu yang utama. Ditambah dengan aura kesadaran mereka. Jadi lakukan saja. Agar rencana mereka tidak terlaksana." jawab temannya.
Tak lama kemudian. Kejadian yang belum pernah terjadi di dunia. Sekarang sedang terjadi di negara Naga. Dimana dua orang yang selama ini menjadi punca pertikaian, tiba tiba menggelepar tidak berdaya, saat aura kesadaran mereka ditarik secara paksa. Dilanjutkan dengan menghilangkan kesadaran spiritual mereka.
Setengah jam kemudian merekapun terdiam, dan tidak tahu apa apa" Rasakan kebandelan mu! Sekarang kalian berdua tidak ubahnya seperti domba, yang bisa ditarik serta diperintah kemana mana."
"Nikmati saja hukuman itu. Kami pergi dulu. Sayonara..!" ujar salah seorang diantara mereka dibuat bercanda. Lalu pergi dari tempat itu, dan kembali ke negaranya.
***
Satu jam kemudian. Dua unit ambulan meraung di jalanan ibukota, dan menuju rumah sakit untuk mengobati mereka.
"Aneh? Kondisi mereka baik baik saja.Tidak ada hal yang ditemui, apalagi luka? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" ucap dokter kepala pada bawahannya.
"Mereka memang tidak terluka. Sepertinya hanya luka dalam? Ini bukan ranah kita, tapi ranah ahli metafisika."
"Jadi kita panggil mereka saja. agar teka teki ini segera terpecahkan." jawab bawahannya.
"Apa yang kau tahu Dika? Urus saja pekerjaan mu. Jangan ikut campur dan jangan mengada ada!" bentak atasannya tidak suka.
"Yah, kalau itu keputusan anda, saya keluar dari tim ini, dan melapor pada direktur kita, bahwa saya tidak diterima disini!" jawab Dika cuek saja.
__ADS_1
"Pergilah. Jangan ganggu pekerjaan kami!" respon dokter tersebut keras kepala.
"Huh! Sudah diberitahu bahwa sakit mereka itu tidak biasa. Masih juga ngeyel dan berpegang teguh pada prinsipnya."
"Mereka itu hanya kehilangan semangat hidup saja. Bukan sakit jantung seperti yang didiagnosa. Padahal jelas jelas aku melihat, bahwa kesadaran hidup mereka saja yang telah tiada.Jadi hidup layaknya mayat tanpa nyawa." Guman Dika. Sambil keluar dari ruangan besar itu, dan menuju ke ruangan direkturnya.
Kebetulan direktur rumah sakit tersebut adalah pamannya. Tapi selama ini pihak rumah sakit tidak tahu tentangnya.
***
Di pulau Angsa. Arya yang sedang duduk di kursi kantornya itu. Tiba tiba dikejutkan oleh kedatangan Yang Cha serta anak buahnya.
Kedatangan mereka berdua ingin melaporkan, bahwa biang rusuh dari negara Naga sudah dilumpuhkan. Tinggal menguasai pemimpinnya saja." Aku kira ada apa?" respon Arya.
"Lalu apa yang terjadi di sana? Apa ada reaksi dari mereka?" tanya Arya.
"Ada yang mulia! Saat ini mereka sedang kebingungan menghadapi reaksi warganya. Ada yang pro dan ada yang kontra."
"Tapi rata rata mereka bersikap kontra, karena sudah jelas terbukti mereka berdua adalah sumber masalahnya. Jadi untuk sementara meredam dulu reaksi warga. Setelah itu baru mengambil tindakan pada kita." jawab Yang Cha
"Cegah itu agar tidak terjadi! Aku sedang tidak ada mood untuk berkonfrontasi dengan mereka!"
"Buat mereka jadi tenang, dan sebisa mungkin hindari peperangan!" reaksi Arya.
Lalu diam. kemudian menghubungi pengawal yang satunya. "Paman Arga! Cepat menghadap ku! Ada yang ingin aku tanyakan!" ujarnya.
"Saya menghadap yang mulia!" tak lama kemudian Arga pun datang, dan langsung berlutut pada junjungannya.
"Apa mereka sudah datang?" tanya Arya.
"Belum yang mulia. Tapi mata mata saya mengatakan, bahwa di laut bagian Utara, ada tujuh buah kapal perang, sedang berlayar menuju ke perairan kita. Mungkin mereka yang tuan maksudkan?" jawab Arga.
"Ya itu dia! Cegah agar kapal mereka tidak mendekati perairan kita, sebelum dunia menyadari usaha mereka!" jawab Arya pula.
"Dimengerti yang mulia!" respon Arga.
"Kalian berdua pergilah kesana! Pimpin beberapa ribu pasukan. untuk mengirim kapal mereka kembali ke negaranya!"
"Letakkan tujuh kapal itu di depan istana pemimpinnya sebagai peringatan!" ucap Arya.
"Siap laksanakan yang mulia!" jawab mereka berdua patuh saja. Kemudian menghilang dari depan Arya. Lalu menuju ke markas mereka.
Kejadian itu, tentu saja tidak disadari oleh Dave tua, yang sudah satu minggu berada di Pulau Angsa. Kebetulan minggu pertama ini adalah gilirannya berada di sana, dan tiga hari lagi akan kembali ke ibukota.
Mereka berlima. memang ditugaskan untuk menjadi pemimpin mereka. Itupun dilakukan secara bergantian, dan puncaknya sebulan sekali mereka berlima akan dikumpulkan, untuk melaporkan kemajuan pembangunan Pulau Angsa dan delapan pulau lainnya.
__ADS_1
Wakil mereka yang lima orang lagi, selalu stand bye disana, dan rutin melaporkan kemajuan pembangunan pada atasannya.
Arya yang menjadi pemimpin tinggi mereka, hanya memantau yang penting penting saja. Dengan dibantu oleh para pengawal yang tidak kasat mata nya.