
"Huh palingan hanya bisa berlari saja?. Sedangkan melompat tinggi itu belum tentu bisa?" Ujar Noviana atau Novi dengan ekspresi sinis.
"Ya tuh!. Kita saja yang sudah lama berlatih, belum mampu juga melewatinya, apalagi anak baru itu. Menyebalkan saja!. Sok bisa!" Reaksi Natasya mendukung pendapat dari temannya barusan.
"Ayo Arya!. Jangan ragu ragu lagi!"
"Waktu mulai sudah ibu hitung, tapi kenapa kau masih diam saja?"
"Ayo cepat lompat!, ibu ingin tau kemampuan mu!" Ujar buk Siska sudah tidak sabaran lagi.
"Dia mana bisa buk!. Badan saja bagus tapi mental kerupuk!"
"Jadi percuma menunggu nya untuk mulai, karena belum apa apa dia sudah merasa takut." Ucap seorang siswa yang terkenal Badung pada gurunya.
"Diam kamu!. Jangan mengganggu konsentrasi Arya!" Hardik bu Siska tidak senang.
"Huh!. Aku sudah bilang bahwa Arya itu hanya badannya saja yang tinggi, tapi mentalnya...."
Tap! Tap Tap!
Wus!
Krak!
"Arya!" Pekik Jelita, teman satu kelasnya cukup kuat, hingga membuat suasana menjadi gaduh.
Galah yang dipakainya untuk melompat itu patah, akibat tidak mampu menahan berat badan Arya, hingga membuat semua orang yang melihatnya terkejut, termasuk Shinta, Natasya, Novi, apalagi Amanda Khairani.
Tapi ketakutan mereka tidak beralasan. Saat galah nya patah itu, Arya memanfaatkan galah yang masih berdiri tersebut sebagai pijakan, kemudian digunakannya untuk melompat ke atas, dan justru hasilnya sangat luar biasa.
Tubuhnya terbang tinggi, melewati mistar yang ada di tiang tersebut. Jaraknya cukup tinggi yaitu sekitar satu setengah meter, sampai membuat mulut semua orang terbuka lebar. Kemudian dengan mulus Arya mendarat di matras yang tersedia di bawahnya, tanpa harus terjatuh seperti biasanya.
Untuk sementara tidak ada yang bisa berkomentar. bertepuk tangan apalagi. Mereka semua melongo dengan mulut terbuka lebar. Mata melotot tidak percaya, dengan apa yang terjadi di depan mata mereka.
Tapi itulah kenyataannya. Tubuh Arya melewati mistar yang dipasang itu, bahkan tingginya melewati ukuran tersebut. Mendarat pun tidak sampai terjatuh, bahkan posisinya tegak, dan sangat kokoh sekali.
Buk Siska yang tadi meragukannya, hingga berani menantang Arya untuk tampil, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia hanya berdiri diam. dengan pikiran kemana mana. Sementara perasaannya berkecamuk tidak karuan.
Kelompok lain yang masih mengambil nilai pun mendadak menghentikan aktivitasnya, karena hanya tinggal dua orang lagi yang belum sempat melakukan gilirannya.
Mereka malah mengacuhkan teriakan dari guru-gurunya, dan lari mendekati kelompok Arya, yang jaraknya tidak begitu jauh dari kelompok mereka.
Saat Arya melompat tadi, mereka melihatnya. Mereka juga melihat saat galah yang Arya gunakan itu patah. Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya Arya bisa memanfaatkan galah yang patah itu untuk pijakannya, dan melompat tinggi-tinggi melewati mistar sepanjang 4.5 meter, yang terpasang di tiang mistar itu?.
Yang mereka tahu saat ini Arya sudah berdiri dengan posisi yang sangat kokoh sekali.
__ADS_1
"Arya!" Reaksi pertama buk Siska langsung terdengar.
"Ibu tidak menyangka, bahwa kau bisa sehebat itu Arya?"
"Tapi kalau boleh ibu tahu, bagaimana caranya kau bisa melakukan hal yang mustahil seperti itu,ha?"
"Atlet profesional saja tidak mampu melakukannya, Tapi kau bisa?"
"Kalau bukan suatu keajaiban. Mana mungkin kau bisa melaluinya tanpa cidera?"
"Ini suatu hal yang tidak mampu kami prediksikan. Tapi yang jelas, kau memang sangat luar biasa!" Reaksi bu Siska penuh kekaguman.
"Itu hanya kebetulan saja buk!. Saya lihat galah itu sudah tua, bahkan rapuh lagi. Hingga saat saya gunakan, Ia nya patah."
"Namun beruntung saat genting itu, saya bisa memanfaatkan momen yang singkat itu untuk melompat."
"Lagipula saya kaget dan terburu-buru buk. maka saya berbuat sebisanya agar tidak jatuh, dan melewati mistar itu sebagai peruntungan. Ternyata saya bisa?. Tapi sebenarnya saya tidak bisa buk." Jawab Arya terkesan merendah.
"Tidak mungkin?. Itu bukan suatu ketidaksengajaan. Kau pasti menyembunyikan kemampuan mu pada kami?"
"Coba kau ulangi lagi dengan galah itu!. Jika kau mampu melewatinya seperti tadi, maka ibu akan mengakui mu sebagai yang terhebat dari yang terhebat, dari yang pernah ibuk lihat selama ini."
"Tapi jangan buat galah itu patah lagi. ya?" Bantah Siska jelas tidak percaya.
Lalu menyuruh Arya untuk melakukannya sekali lagi, karena dia ingin memastikan, bahwa itu bukan suatu kebetulan.
Tapi buk Siska, yang dibantu oleh pak Darmadi dan pak Permana, tetap ngotot menyuruh Arya untuk melakukannya sekali lagi. Bahkan berjanji kalau Arya berhasil melompat, maka dia yang akan menjadi perwakilan sekolah itu untuk melawan sekolah sekolah yang lain.
"Ayo Arya!. Kami yakin kamu pasti bisa!" Teriak beberapa orang kawannya, yang mendadak berbalik mendukungnya itu.
"Benar apa yang dikatakan oleh kawan-kawanmu itu Arya!. Kau pasti bisa!" Ucap Permana mendukung perkataan dari murid muridnya tersebut.
"Ayo Arya, kau pasti bisa!" Teriak mereka lagi. Padahal mereka berharap agar Arya jatuh dan tentunya gagal.
Kalau tadi mereka anggap suatu kebetulan, Maka sekali ini tidak mungkin Arya akan bisa melakukannya lagi.
Bukan tanpa alasan mereka mendadak mendukung Arya. Mistar yang dipasang di tiang itu adalah ukuran tertinggi khusus pemula, atau sekitar 3,3 meter tingginya.
Jadi jika Arya melakukannya sekali lagi, mereka sangat berharap agar Arya jatuh.
Tapi kenyataannya berbeda dari apa yang mereka harapkan, sebab Arya tahu bahwa mereka mendukungnya tersebut karena ada maksud yang tersembunyi. Maka dengan yakin Arya maju sekali lagi, dan mengambil galah yang sebenarnya tidak dia perlukan.
Kalau hanya melompat setinggi 3,3 meter, dia tidak memerlukan media galah, tapi karena memang itu aturannya, mau tidak mau dia harus memakainya juga.
"Pegang galah itu dengan benar. Jangan ragu-ragu melakukannya!" Teriak Siska mencoba mengajari Arya.
Tapi Arya mengacuhkan nya. Setelah mengambil ancang-ancang sejauh 25 meter, Arya membawa galahnya maju ke depan. Kemudian menancapkan ujungnya di kotak tumpuan, dan tubuhnya melenting ke atas ingin melewati mistar.
__ADS_1
Benar saja. Tiang penyangga mistar yang tingginya hanya 3,3 meter itu, mampu Arya lewati dengan mudah, tanpa cela lagi.
Bahkan tingginya bukan seukuran itu. tapi melebihi dua meter. jadi praktis Arya mampu melompat setinggi 5,3 meter, dan mendarat di matras dengan mulus tanpa harus terjatuh.
Peristiwa itu tentu saja membuat orang-orang merasa keheranan, apalagi Siska. Untuk kedua kalinya, dia melihat penampilan Arya yang sangat sangat luar biasa tersebut.
Jadi dengan langkah tergesa-gesa dia mendekati Arya, dan tanpa sadar memeluknya erat erat tanda bersuka cita.
Darmadi dan Permana tidak ingin ketinggalan memeluk Arya. Mereka sangat bangga dengan penampilan Arya, yang bisa melompat setinggi itu.
Atlet profesional saja belum tentu bisa melakukannya. tapi Arya bisa. Dengan demikian, mereka sepakat untuk menjadikan Arya sebagai duta SMA Tunas Bangsa, untuk melawan SMA lain tiga hari lagi.
Kini tiba giliran Arya untuk melakukan lompat tinggi tanpa galah. Ukuran yang dipasang sengaja ditinggikan menjadi ukuran minimal, yang harus dilalui oleh seorang atlet menjadi 2,5 meter.
Itu sengaja mereka lakukan karena ingin melihat kemampuan Arya yang sebenarnya.
Kalau tadi dia mampu melompat setinggi 5,3 meter, itu karena menggunakan media galah. Tapi sekarang dia hanya bertumpu pada kaki, semoga saja dia bisa." Batin ketiga guru olahraga tersebut dalam hati.
Benar saja seperti yang diperkirakan. Arya juga mampu melakukannya dengan baik. yaitu setelah dia mengambil ancang ancang, dia berlari dengan kencang, dan melompat tinggi tinggi melewati mistar atau cross bar sepanjang 3,15 meter, dan mendarat mulus di belakangnya.
Tepuk tangan sangat kuat segera terdengar, mengiringi keberhasilan Arya melompati mistar setinggi itu. Kini mata mereka baru terbuka, dan tahu siapa Arya sebenarnya.
Kalau tadi mereka meragukan serta mencibir Arya karena dia siswa baru, Maka sekarang mereka hanya bisa diam membisu
Selama ini mereka hanya seperti tong kosong nyaring bunyinya. tapi isinya tidak ada.
Namun saat orang yang mereka remehkan itu mampu melewati mistar setinggi 2,5 meter, bahkan melampauinya. mereka jadi sadar, bahwa tidak baik menilai buku hanya dari sampulnya saja.
Berarti selama ini mereka telah salah menilai Arya. Apalagi setelah Arya mampu melompat sejauh 10 meter, dari ukuran lapangan lompat jauh yang hanya sepanjang 9 meter, mata mereka semakin terbuka, dan tidak berani lagi meremehkan Arya.
"Luar biasa kau Arya!. Kau benar benar hebat!"
"Ukuran lapangan lompat jauh yang ada, tidak mampu menampung lompatan mu, bahkan lebih 1 meter dari ukuran yang ditetapkan."
"Kau memang benar-benar luar biasa!. Selain kemampuan akademik mu, kemampuan dalam olahraga juga luar biasa!"
"Dengan demikian, Kami bertiga sudah memutuskan untuk mengutus mu menjadi wakil SMA Tunas Bangsa, untuk berlaga melawan sekolah-sekolah lainnya." Ucap Siska mewakili teman-temannya.
"Hidup Arya!. Hidup Arya! Hidup Arya!" Teriak beberapa orang teman teman yang pro dengannya cukup kuat, dan akhirnya diikuti oleh semua siswa yang tadi sempat meremehkannya.
"Coba kau berlari, siapa tau bisa menjadi wakil sekolah kita, untuk tampil dalam ajang yang sama tiga hari lagi."
"Kalau kau bisa mencapai garis finis dalam waktu yang ditentukan, maka kau juga akan mewakili sekolah ini dalam even atletik juga." Ucap Siska memberi tawaran pada Arya.
"Baik bu, saya akan melakukannya, dan untuk sekolah kita juga." Jawab Arya patuh. Kemudian menuju lapangan atletik untuk melakukan sprint 100 meternya.
"Wah!. Waktu yang kau butuhkan dalam sprint 100 meter cuma 9,6 detik, mengalahkan rekor dunia yang selama 10,01 detik itu?"
__ADS_1
"Berarti kau bisa mengikuti even internasional yang akan dilakukan tiga bulan lagi?" Respon Siska, Darmadi dan Permana merasa senang. Kemudian mengajak Arya untuk menemui kepala sekolahnya.