Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Memulai debutnya di sekolah


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Arya sedang bersiap siap ingin pergi ke sekolah.


Dia berniat ingin memasuki ruangan bawah tanahnya, dan mengambil pusaka ajaib berupa sepatu untuk dipakainya pergi ke sekolah.


Selain sepatu, dia juga ingin mengambil rompi Antakusuma dan cincin Brajamusti untuk dipakainya sekaligus.


Begitu dia sudah masuk ke dalam, dan menuju ke ruangan yang hanya dia dan Argani saja yang bisa memasukinya, maka Arya pun langsung berkata. "Hari ini aku ingin memakai Kasutpada Kacarma untuk pergi ke sekolah."


"Jadi silakan datang menghampiri ku tanpa perlu aku sendiri yang mengambilnya."


"Selain itu aku juga ingin memakai rompi Antakusuma dan cincin Brajamusti untuk melengkapi penampilan ku hari ini."


"Katanya kalau memakai sepatu itu, pemakainya bisa terbang?"


"Kalau memang itu benar, kebetulan sekali hari ini ada pengambilan nilai olahraga. Jadi aku bisa melompat tinggi tinggi saat lompat galah dan lompat jauh nanti"


"Kalau begitu biar aku coba sepatu itu saja. Siapa tau aku benar benar bisa terbang?" Ujar Arya pada diri sendiri sambil mencoba sepatu barunya itu.


"Salam yang mulia!" Ucap Argani pada tuannya.


"Oh paman Arga!. Ada apa paman?. Apakah ada sesuatu yang ingin paman sampaikan?" Respon Arya cukup kaget.


"Seperti yang saya katakan tempo hari. Sekarang mereka sudah datang ke sini"


"Yang mulia Jayabaya telah mengirim 100 pengawal elit lain, untuk melengkapi jumlah kami yang sedikit itu."


"Sekarang mereka sedang berada di ruang latihan, dan sedang menunggu tuan datang.!" Jawab Argani atau Arga itu berterus terang.


"Yah bagaimana ini?. Aku harus pergi ke sekolah, karena waktu masuk kelas tinggal setengah jam lagi?"


"Jika aku pergi menemui mereka, tentu saja aku akan terlambat dan pasti akan mendapatkan hukuman."


"Selain itu hari ini juga ada ulangan dan pengambilan nilai olahraga?"


"Jadi tolong kasi solusinya paman. Apakah aku harus menemui mereka, atau langsung pergi ke sekolah saja?" Reaksi Arya kebingungan.


"Masalah itu tuan jangan risau kan . Salah satu di antara kami bisa menggantikan posisi tuan untuk pergi ke sekolah." Jawab Argani mencoba meyakinkan tuannya.


"Menggantikan ku?. Bagaimana caranya?" Respon Arya penasaran.


"Apakah tuan lupa siapa kami?"


"Kami semua bisa menyerupai siapapun yang kami kehendaki, kecuali menyerupai raja dan keturunannya, karena itu sangat dilarang."


"Namun dalam masalah ini sangat genting sekali. dan butuh penanganan cepat."


"Maka kami meminta izin kepada tuan untuk menggantikan posisi tuan pergi ke sekolah, dan tentunya wajah serta bentuknya juga sama dengan tuan." Jawab Argani apa adanya.


"Kalau begitu coba kau tunjukkan. Sepertinya aku belum percaya dengan apa yang kau katakan itu?"


"Tapi jika kalian bisa membuktikannya, maka aku akan pertimbangkan, apakah posisiku akan kalian gantikan atau tidak?"


"Karena hari ini adalah penentuan untuk menentukan posisi tiga besar. Maka aku harus mempertimbangkan masak masak tawaran kalian itu."


"Jika kalian bisa meyakinkan ku, maka aku akan menuruti saran dari kalian barusan" Ucap Arya terkesan ragu-ragu.


"Ada solusi satu lagi tuan. Sepatu yang tuan pakai itu bisa digunakan untuk berlari cepat, bahkan untuk terbang pun bisa."


"Walaupun waktunya tinggal lima menit, tuan tidak mungkin akan terlambat."


"Jadi silakan tuan temui mereka dulu, untuk sekedar menyapanya saja." Ucap Arga memberi usul.


"Kalau itu saran mu, akan aku lakukan!"


"Jadi mari kita temui mereka dan menyapanya." Reaksi Arya senang.


"Tapi tunggu dulu!. Mana antakusuma dan Brajamusti?. Bukankah tadi ada di depan ku?. Tapi kenapa sekarang tidak ada?" Ucap Arya sesaat Argani ingin mengajaknya pergi.


"Dua pusaka itu sudah ada di tubuh tuan, tanpa perlu tuan memakainya sendiri."


"Rompi Antakusuma sangat tipis, dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa."


"Jadi keberadaannya cukup aman. Walaupun orang bisa mengambilnya tetapi tidak akan mampu memakainya."


"Sedangkan cincin Brajamusti sudah menyatu dengan cincin tuan sebelumnya, dan melebur menjadi satu. hingga bentuknya tidak bisa terlihat."


"Jika tuan menginginkan sesuatu, maka cukup meniatkannya saja. Maka apapun yang tuan sebutkan itu akan muncul di hadapan tuan." Jawab Argani menjelaskan.


"Ternyata begitu?. Aku kira mereka tidak ada?" Respon Arya senang.


Kemudian pergi ke ruang latihan untuk menemui anak buahnya, karena dia juga penasaran siapa sebenarnya 100 pengawal elitnya itu?


Baru saja dia sampai, Arya langsung disambut dengan suka cita oleh anak buahnya, dengan berkata " Selamat datang yang mulia pangeran!. Kami siap mendampingi yang mulia kemana saja yang mulia perintahkan." Ujar mereka serempak sambil berlutut di lantai.

__ADS_1


Tapi Arya hanya diam saja. Dia malah memandang ke arah Argani, seolah meminta penjelasan darinya.


"Inilah orang-orangnya tuan!. Mereka dikirim oleh yang mulia Jayabaya untuk mendampingi tuan kemanapun tuan pergi. Sekaligus memastikan keselamatan tuan." Ucap Argani menjelaskan.


"Oh begitu ya?. Lalu berapa jumlah mereka?. Sepertinya lebih dari 100 orang?" Reaksi Arya jadi paham.


"Dari jumlah awal, ditambah dengan yang baru itu termasuk saya, jumlahnya jadi 125 orang."


"Jika yang mulia belum merasa cukup. Maka jumlahnya bisa ditambah lagi" Jawab Argani berterus terang.


"Oh tidak perlu. Ini sudah lebih dari cukup." Reaksi Arya senang. Kemudian mendatangi mereka satu persatu dan menyalami nya.


Setelah itu Arya memberikan pengarahan kepada anak buah barunya tersebut dengan berkata. "Kepada kalian!. Silakan buat kegiatan!. 10 orang ikut aku, 10 lagi pergi ke tempat usaha ku, dan sisanya menyebar serta cari lokasi yang bagus untuk mendirikan usaha."


"Tapi harus ada yang tinggal, karena tempat ini harus dijaga juga."


"Jika ada hal hal yang ingin kalian tanyakan atau sampaikan, tunggu aku pulang dari sekolah."


"Sekarang aku harus pergi dulu. Selamat tinggal!" Ujar nya.


Lalu keluar dari tempat itu dan menuju ke permukaan.


Begitu dia sudah berada di luar, Arya langsung membatin dalam hati. "Ini saatnya untuk menguji kegunaan dari sepatu baru ku."


"Jika memang bisa membuat ku terbang, Maka selamanya aku akan memakai sepatu ini."


"Tapi jika tidak, maka cukup kali ini saja aku memakainya." Ujarnya lagi.


"Ayo sepatu!, buat aku terbang!" Perintahnya dengan suara lantang.


Whus!


Jeduk!


"Ah!. Bagaimana ini?. Kenapa arahnya tidak beraturan."


"Sakit kepala ku terbentur dahan pohon ini!. Sialan!"


"Sepatu macam apa kau itu?" Rutuk Arya tidak senang.


"Mohon maaf tuan. Saat ingin terbang. yang mulia harus tenang dan fokus pada tujuan."


"Jika tuan bersikap seperti itu, maka sepatu tersebut akan meresponnya seperti yang tuan tunjukkan."


"Oh begitu ya?. akan aku coba!"


"Sepatu ajaib!. Aku ingin terbang dan mulus seperti burung di angkasa."


"Tolong antarkan aku ke sekolah dalam waktu yang tidak lama!" Respon Arya malu malu.


Kemudian meloncat ke atas dengan gerakan ringan, tapi hasilnya sangat luar biasa.


Tubuh Arya terangkat ke atas secara perlahan, lalu meluncur cepat di udara dan..


Wus!


Slash!


"Uh ternyata bisa?. ini sangat luar biasa!"


"Dengan demikian aku sudah bisa terbang!. Asik sekali!" Respon Arya benar-benar senang.


Lalu meluncur begitu cepatnya. yang terlihat hanya bayangan saja hingga orang lain tidak bisa melihat tubuh Arya yang sedang terbang itu.


Sebentar saja Arya sudah berada di lokasi sekolah, tanpa melalui pintu gerbang lagi, dan langsung menuju ke kelasnya.


"Arya?" Sapa salah seorang teman barunya di kelas tersebut.


"Kenapa kamu terlambat? Bukankah ini sudah waktunya untuk memulai pelajaran?" Ujarnya bertanya.


"Masih ada 3 menit juga. Jadi belum bisa dikatakan terlambat kan?" Protes Arya apa adanya.


"Iya aku tahu itu!. Tapi kau belum bersiap-siap mengganti baju dengan baju olahraga?" Jawab temannya tidak mau kalah.


"Oh ya aku lupa!. Tunggu sebentar!. Aku akan mengganti baju ku dulu!" Reaksi Arya malu-malu. Kemudian membawa tasnya untuk mengganti baju di ruang ganti pakaian pria.


"Kenapa harus di situ?. Bukankah di kelas ini juga bisa?" Ucap temannya protes.


"Apakah kau gila?. Kau lihat di sana!. Bukankah itu CCTV?"


"Jika aku buka di sini, apa kata operator yang ada di sana?" Jawab Arya tidak suka.


"Oh ya kau benar! Jadi silakan ganti baju. Aku akan menunggumu di sini, eh bukan di depan kelas kita." Respon temannya beralasan.

__ADS_1


"Baik!. Beri aku waktu satu menit. Aku akan ganti baju dulu." Jawab Arya pula.


Maka satu menit kemudian. Arya sudah berganti pakaian


dengan pakaian olahraga.


Sepatu yang ia pakai juga sepatu itu, karena hari ini guru olahraganya ingin mencari tiga besar, agar bisa diikutsertakan dalam perlombaan lompat tinggi, lonpat jauh dan lompat galah antar Kecamatan.


Kebetulan hari ini adalah kelas Arya yang ingin diambil nilainya. Jadi guru olahraga yang bernama Siska, ingin mencari bibit unggul dari kelas Arya pula.


Setiap tahun, sekolah tempat Arya belajar itu, selalu ikut berpartisipasi untuk memenangkan event tahunan tersebut.


Tapi selama ini sekolahnya selalu kalah, dan hanya menduduki peringkat ke 23, dari 115 sekolah lanjutan tingkat atas yang ada di provinsi tersebut, karena ada beberapa sekolah, siswanya jago berlari, lompat tinggi, dan lompat jauh.


Jadi kepala sekolahnya, melalui tiga guru olahraganya menginginkan, agar tahun ini sekolah yang dipimpinnya tersebut, bisa memenangkan pertandingan, minimal naik beberapa tingkat dari tingkat sebelumnya, dan jika memungkinkan, bisa menjadi wakil Kabupaten untuk mengikuti perlombaan di tingkat provinsi. dan jika menang melaju ke tingkat nasional.


Oleh karena itu, guru olahraga yang bernama Siska, menaruh harapan besar pada kelas Arya, karena dia tahu di kelas tersebut, ada 6 orang siswa yang loncatannya cukup bagus, walaupun selalu kalah di tingkat kabupaten.


Priiitt!"


Terdengar bunyi peluit ditiup oleh guru olahraga yang bernama Siska itu kuat sekali. hingga membuat


puluhan murid berbaris dengan rapi dan menghadap ke arahnya.


Selain guru Siska, masih ada dua orang lagi guru olahraga yang ada di sekolah tersebut. Satu bernama pak Permana dan satunya lagi bernama pak Darmadi.


Mereka berdua merupakan guru junior, karena usianya terpaut jauh dari ibu siska, yang sekarang sudah berumur 28 tahun. Sedangkan keduanya baru berumur 23 tahun. Tapi sudah bisa menjadi guru di sekolah elit tersebut.


"Hari ini!. Tiga kelas akan disamakan jam olahraganya, guna mencari bibit terbaik dari siswa siswa yang ada di sekolah ini."


"Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa 3 hari dari sekarang, akan ada pertandingan antar sekolah, untuk mencari bibit terbaik, agar bisa mewakili Kabupaten untuk dikirim ke provinsi."


"Maka hari ini. Kami bertiga sengaja menggabungkan kalian untuk diuji kemampuannya dalam lompat tinggi, lompat galah dan lompat jauh."


"Siapa lompatannya yang paling tinggi, juga yang terjauh, apalagi lompat galah, dan tidak menyentuh galah itu, maka dia yang akan dinyatakan sebagai pemenangnya, dan berhak untuk ikut serta dalam pertandingan antar sekolah di kabupaten ini."


"Oleh karena itu mari kita mulai"


"Dari IPS 3, ada 32 orang. IPA 1 ada 32 orang sedangkan dari IPA 2 ada 31 orang, karena yang satunya lagi sedang sakit. jadi otomatis tidak diikutsertakan."


"Untuk pengambilan nilai lompat tinggi, akan dinilai oleh pak Permana. Sedangkan untuk lompat jauh, akan dipandu oleh pak Darmadi."


"Sedangkan ibu sendiri, akan memandu pengambilan nilai dalam lompat galah, yaitu kelas IPA 2."


"Dimulai dari abjad paling belakang!"


"Ayo dimulai!" Ucap Bu Siska sesaat setelah selesai memberikan pengarahannya itu.


Tak berselang lama. kelas IPS 3 yang dipimpin oleh pak Permana, sudah mulai melakukan aktivitas lompat tingginya.


Tapi sampai sejauh ini, belum ada yang melampaui rekor tahun sebelumnya. Jadi praktis kebanyakan dari mereka gagal.


Kelompok IPA 1 juga begitu. Hanya ada satu orang yang lompatannya cukup jauh. Tapi itu belum mampu memecahkan rekor tahun sebelumnya. yang kebetulan siswanya sudah tamat.


Sedangkan kelompok IPA 2, di mana Arya duduk di situ, baru 13 orang yang melakukan lompat tinggi dengan menggunakan galah


Tapi dari 13 orang tersebut, tidak satupun yang bisa melewati rintangan yang tingkat ketinggiannya memang sudah diatur.


Sementara giliran Arya masih jauh karena dia menempati posisi pertama abjad A.


"Kalau begini terus, alamat sekolah kita tidak akan bisa mengirimkan utusannya untuk berlaga di event tahunan itu nanti."


"Jadi ibu berharap bagi kalian yang belum melakukan uji coba tersebut, harus menunjukkan performa terbaik kalian termasuk murid baru itu!"


"Aku ingin melihat kemampuan mu, sampai membuat pemilik sekolah ini merekomendasikan mu untuk masuk ke sini!"


"Jika ternyata kau mengecewakan sekolah apalagi aku, maka kami akan menganggap bahwa kau sebagai murid biasa saja, dan akan kami perlakukan seperti murid lainnya."


"Tapi jika kau mampu menunjukkan performa terbaikmu, maka aku Siska berjanji akan memberikan nilai terbaik untukmu dan merekomendasikan mu menjadi siswa teladan." Ucapnya menantang Arya, karena dia yakin Arya tidak akan mampu melakukan itu, disebabkan rintangan yang dipasang cukup tinggi.


Atlet profesional saja belum tentu mampu melewatinya. Pikirnya. Maka dengan berani Bu Siska menantang Arya, dengan tujuan agar di dalam hatinya timbul keberanian. dan kini adalah giliran Arya untuk melakukan lompatan dengan menggunakan galah panjang itu.


Semua orang memperhatikannya, karena menurut mereka, debut Arya dalam mata pelajaran sangat bagus, tapi banyak dari mereka meragukan kemampuan Arya dalam bidang olahraga. termasuk Natasya Bella, Novi dan Shinta. Karena palang lintang yang dipasang di alat itu cukup tinggi. Jadi sangat sulit untuk bisa melaluinya tanpa terjatuh


Mereka saja yang sudah lama berlatih berkali kali gagal, apalagi Arya.


Lalu disaat pikiran mereka sedang berkecamuk seperti itu, terdengar bu Siska bersuara. "Sekarang adalah giliran Arya. yang kita sama sama belum tau kemampuan olahraganya."


"Jadi sekarang mari kita saksikan penampilannya." Ujar Bu Siska cukup lantang.


"Ayo mulai Arya!. Satu, dua, tiga!"


"Lompat!"

__ADS_1


__ADS_2