
Satu jam kemudian, Arya sudah sampai di kampung itu, dan langsung menuju sumur tua, tempat dia dulu dibuang. dan dalam sekejap mata, sumur yang tidak bisa dilihat juga ditemukan oleh orang lain, bisa dilihat juga ditemukan olehnya.
"Ha ini dia!. Pantesan orang lain tidak bisa menemukanmu? Bentuk mu sekarang sudah berubah sih, kecil dan tersembunyi di sela sela batu besar itu. Entah siapa yang meletakkan batu itu di sini?" Ujar Arya pada diri sendiri. dan berusaha mengintip ke dalam. Kemudian melihat ke sekeliling, hanya sekedar ingin memastikan, apakah ditempat itu, ada orang lain atau tidak?
Setelah puas memeriksa, Arya pun berkata. "Bagaimana orang lain mau datang, jika tempatnya semak begini, sudah gelap belukar lagi?"
"Jika itu aku, dan tidak ada sesuatu, maka aku pun tidak mungkin mau datang. Pakal saja di suruh oleh eyang, kalau tidak, mana sudi aku kesini. Buat sakit hati saja!" Ujarnya.
Lalu melihat ke sekeliling sekali lagi, untuk sekedar memastikan, siapa tahu ada seseorang yang melihat aktivitasnya di tempat itu. Dan hasilnya, tidak ditemukan siapa siapa disitu. Namun Arya masih ragu, jadi dia memanggil pengawal setianya untuk datang.
Maka dalam sekejap mata, pengawalnya yang bernama Arga sudah ada di depan Arya, dan siap menunggu perintah darinya." Periksa tempat ini, dan pastikan tidak ada orang lain selain aku?" Tegas perintah Arya pada mereka.
"Siap laksanakan yang mulia!" Jawab Arga patuh. Kemudian membagi anak buahnya, yang berjumlah 100 itu menjadi beberapa kelompok, lalu menyebar ke seluruh tempat, untuk memeriksa keadaan.
"Aman yang mulia!, tidak ada siapa siapa di sini." Ujar Arga melaporkan.
"Bagus!. Aku ingin masuk ke dalam sumur ini. Selama aku pergi, pastikan tidak ada yang datang. Jika perlu, pagari tempat ini dengan segel kemurkaan, agar orang lain yang berniat masuk ke lokasi akan kehilangan ingatannya." Reaksi Arya cukup senang.Tapi tegas dalam memberikan arahan.
Kemudian tanpa menunggu lama lagi, langsung memasuki sumur tua itu tanpa hambatan. Cukup dengan hanya meniatkan nya saja, maka tubuhnya sudah berpindah tempat, dan sekarang sudah berada di dalam.
Begitu berada di dalam. Arya tidak bisa berkata,tapi menilai apa yang ada di tempat itu. dengan ekspresi penasaran. "Ternyata keadaannya sudah banyak yang berubah. Kolam yang ada di ruangan ini sudah tidak ada di tempatnya. Batu pipih biru nya juga entah kemana?"
"Tapi istana megah itu, masih berdiri kokoh di sana. Bahkan bentuknya sudah banyak yang berubah. Jadi semakin besar dan bagus."
"Entah siapa yang merawat serta membesarkannya?" Guman Arya. Kemudian mengelilingi tempat itu, dengan tujuan untuk memeriksa saja.
Saat berkeliling itulah terdengar Jayabaya berkata. "Ketahuilah cucu ku. Kolam serta batu pengobatan yang dulu kau masuki dan gunakan, sekarang sudah berada di dalam cincin mu itu. Kau nya saja yang tidak tahu." Ujarnya melalui transmisi suaranya pada Arya.
"Eyang!, apakah itu engkau?" Reaksi Arya tanda suka.
"Benar cucu ku!. Bahkan di sini juga ada ayah serta ibu mu. Sekarang mereka sedang melihat mu, dan menunggu saat kau mengambil api bumi itu," Jawabnya mengiyakan.
"Jadi bergegaslah pergi ke istana, dan masuki ruang penyimpanan benda pusaka di sana."
"Di dalamnya banyak tersimpan benda pusaka langka, yang tidak ada di dunia manusia. Salah satunya adalah api bumi, juga api abadi yang berasal dari langit itu."
"Tapi bukan sembarang api. walaupun penyebutannya sama yaitu api. tapi api bumi lain dari pada yang lain."
"Api bumi bisa digunakan untuk meracik pil, yang sangat bermanfaat buat manusia."
"Oleh karena itu, bergegaslah kesana, dan ambil benda berharga itu. Kami semua menunggu aksi mu di sana!" Jawab Jayabaya apa adanya.
__ADS_1
"Baik eyang, ayah juga ibu!" Jawab Arya patuh. Kemudian berjalan mendekati Istana, dan bergegas ingin memasukinya.
Begitu sudah berada di dalam ruangan, Arya jadi melongo sendiri, karena di depan matanya, berjejer gunung gunung emas, permata dan benda benda berharga lainnya.
Belum lagi dengan yang ada di ratusan peti peti besar yang ada di sana. Mungkin isinya juga emas, atau barang berharga lainnya?
Itu semua membuat Arya jadi tidak fokus, dan terus memandangi emas emas yang berkilauan itu. Seolah olah baru pertama kali melihatnya. Padahal di rumah, juga banyak benda serupa, namun jumlahnya tidak sebanyak itu.
Saat kagum dan takjub seperti itulah, tiba tiba terdengar suara yang cukup kuat, hingga membuat Arya jadi tersadar dari rasa kagumnya tersebut.
"Mau sampai kapan kau berdiri bengong di situ pangeran Arya?. Cepat ambil kotak emas yang sedang mengambang itu. dan lihat isinya, serta buat kontak darah dengannya!" Ujar suara tersebut terdengar kesal, yang ternyata berasal dari pangeran Purbaya, ayahnya.
Mendapat teguran keras tersebut, membuat Arya jadi malu sendiri. Kemudian bergegas melakukan apa yang diperintahkan padanya. dengan mengambil kotak emas yang sedang melayang di udara itu, lalu membuka nya "Ah. silau sekali!. Api apa ini?" Responnya penasaran. kemudian berdiri bengong, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.
"Tunggu apa lagi?. Cepat buat kontrak darah dengannya!" Ujar Jayabaya, yang terus memberi tunjuk ajar pada cucunya.
"Baik eyang!" Jawab Arya patuh. Kemudian melukai jarinya, dan langsung meneteskan beberapa tetes darah ke atas api itu, dan hasilnya sangat luar biasa.
Api tersebut tiba tiba membesar, dan menutupi tubuh Arya."Api tujuh warna!" Ujarnya tiba tiba.
"Benar apa yang kau katakan itu cucu ku. Api yang menyelimuti tubuhmu tersebut, adalah api tujuh warna, yang hanya bisa menurun pada keturunan Prabu Wangsa Baladewa. dan itu adalah kau Arya."
"Sekarang api itu sudah menjadi milik mu, dan selamanya akan menemani mu, untuk menjadi seorang penguasa dunia."
"Tapi dari sekian banyak orang kaya itu, ada beberapa diantaranya yang tidak senang dengan kemajuan mu, terutama dari praktisi pembuat obat obatan langka, karena usahanya tersaingi, bahkan terancam bakal gulung tikar."
"Oleh karena itu berhati hatilah. Seleksi siapa siapa saja orang yang ingin berteman dengan mu. Jangan mudah percaya dengan kata kata manis dari mereka, apalagi yang bertujuan ingin memanfaatkan mu saja." Wejangan Jayabaya pada cucunya.
"Maaf eyang!. Kenapa aku harus membuat pil dewa segala?. Bukankah dengan semua harta harta ini, juga yang ada di bawah rumah ku itu, sudah lebih dari cukup, untuk membuat perusahaan ku jadi terkenal?. Kenapa harus menjadi alkemis dulu, baru bisa terkenal?" Tanya Arya cukup mengejutkan.
"Apa kau mau di tuduh yang bukan bukan?. Mana ada ceritanya, seorang anak SMA yang tiba tiba menjadi kaya raya dan banyak harta, kalau bukan hasil dari pesugihan?. Apa kau mau dituduh seperti itu?" Jawab Jayabaya malah membalikkan pertanyaan.
"Ya tentu saja tidak eyang. Enak saja!" Respon Arya berterus terang.
"Pandai pun?. Jadi apa usahamu agar kau tidak dituduh seperti itu?. Apa kau masih ingin mengandalkan semua harta ini untuk membesarkan usaha mu secara tiba tiba?" Respon Jayabaya cukup senang, saat mulai mendapatkan celah untuk memberi pengertian pada cucunya.
"Aku akan melakukan seperti yang eyang katakan. dan secara berangsur angsur, membangun kerajaan bisnis pengobatan, agar usaha ku jadi semakin besar, serta dikenal oleh dunia." Jawab Arya tumben tumbennya benar.
"Bagus!. Itu baru cucu ku!" Reaksi Jayabaya merasa senang. Kemudian berkata kembali pada cucunya. "Setelah ini, kau temui lah pemilik tanah di atas sana, Beli dan bersihkan. lalu bangun perusahaan di atasnya."
"Eyang yakin, usaha mu itu, akan membuat orang orang yang dulunya menghina mu jadi sungkan, serta berbalik ingin menjalin hubungan dengan mu."
__ADS_1
"Tapi saran eyang, jangan pedulikan mereka, karena mereka hanya ingin memanfaatkan mu saja. Sebaliknya, acuhkan orang orang itu, karena mereka tidak tulus berteman denganmu. Mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dari mu saja." Respon Jayabaya senang sekaligus mengingatkan.
Kemudian menyuruh Arya untuk duduk, agar bisa diajarkan, bagaimana caranya meracik banyak ramuan, untuk diubah menjadi pil.
Sekitar beberapa jam. Barulah Arya mahir melakukannya. yang mulai mula hasilnya nihil serta mengecewakan. Tapi akhirnya setelah sekian lama, barulah usahanya menampakkan hasil dan sempurna nilainya.
"Itulah yang dinamakan pil dewa. Bentuknya cukup kecil, seperti pil pada umumnya. Namun jangan diragukan khasiatnya."
"Orang yang memakannya, akan langsung naik tingkat sepuluh kali lipat tingginya. Apalagi jika orang itu sudah bergelar master? Bisa bisa langsung naik belasan tingkat yang ada."
"Sebelum orang lain yang memakannya, kau dulu yang harus mencobanya, karena tingkatan mu harus lebih tinggi dari orang lain, agar mereka tidak bertindak sewenang wenang pada mu." Ujar Jayabaya menjelaskan.
"Duduk dan makanlah, seperti seseorang yang sedang memakan permen. dan rasakan perbedaannya." Ujarnya lagi.
Tak lama kemudian, Arya pun sudah melakukan apa yang diperintahkan. dan langsung duduk seperti yang diarahkan.
Tiba tiba tubuhnya berguncang, seperti mau jatuh, dan berguling guling di lantai. keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya, hingga membuat pakaian yang dikenakannya jadi basah.
Namun enam detik kemudian, terdengar belasan kali bunyi teredam yang cukup kuat, sekitar delapan belas kali, sampai membuat tempat itu turut bergetar. dan tubuh Arya sudah tidak di tempatnya lagi, tapi sudah mengambang di udara.
Selain itu, Arya merasakan kekuatan yang sangat luar biasa dalam tubuhnya. Jadi ringan dan mudah bergerak tanpa harus menggunakan tenaga.
"Aha!. Apakah aku sudah menjadi semakin kuat,dan tingkatan ku sudah naik?" Tanya Arya pada diri sendiri.
"Benar!. Kau sekarang bukanlah Arya yang dulu. Kekuatan mu sekarang sudah meningkat seratus kali lipat."
"Pukulan mu sudah hampir mendekati 10 juta ton. Dan bisa menghancurkan batu sekeras apapun, untuk kau ubah menjadi potongan potongan kecil yang kau mau. Merubahnya jadi debu juga bisa."
"Sedangkan tingkatan metafisika mu pun bukan master lagi, tapi master penguasa. Yang tidak mudah bagi orang lain untuk mencelakai mu."
"Jadi sekarang keluarlah, karena seluruh yang kau butuhkan sudah kau dapatkan."
"Tapi sebelum kau pergi, ambillah istana itu, dan masukkan kedalam cincin mu, agar bisa kau gunakan, untuk berlatih didalamnya." Ujar Jayabaya mengingatkan.
"Baik eyang. Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan buat ku untuk lebih maju."
"Kedepannya, aku akan melakukan apa saja yang eyang perintahkan." Jawab Arya cukup sopan.
"Itu sudah sewajarnya. karena kau keturunan ku, juga cicit dari prabu Baladewa. Maka kami harus berbuat itu."
"Karena itu pula, kami akan selalu mengawasi dan melindungi mu, serta akan memberi peringatan jika ada bahaya yang mendekati mu." Respon Jayabaya cukup senang. Kemudian membantu Arya, untuk menyempurnakan dan menstabilkan kekuatannya, agar tidak. berbalik menghantam duri sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Arya sudah berada di permukaan, setelah mengambil istana atas awan itu, dan dimasukkan kedalam cincinnya.
Arga dan seluruh anak buahnya, masih tetap setia menunggu di luar, dan senang saat tuannya datang.