Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Kemajuan yang sangat menggembirakan


__ADS_3

Delapan hari pun sudah berlalu. Di atas sembilan pulau tersebut sudah banyak perubahan. Nampak ratusan peralatan sedang dan berat mondar mandir meratakan lahan, Menimbun bagian yang rendah, serta orang yang ada mengukur luasnya.


Sementara dibagian lain. Terlihat kesibukan untuk pemancangan tiang, buat digunakan untuk menahan gelombang, karena sesudah itu akan ditimbun serta diratakan.


Di pulau Permata yang tiga hari lalu ingin dikuasai oleh pihak luar, pun sudah nampak perubahan yang cukup signifikan. Dimana ditempat itu, dibuat lapangan seperti bandara, yang cukup panjang serta lebar.


Ya. Pulau permata memang direncanakan sebagai basis pertahanan. Karena pulau tersebut merupakan pulau terluar, yang kemungkinan bisa diklaim sebagai milik mereka. Pun sudah banyak pihak asing yang menginginkan pulau itu. Tapi karena perjanjian internasional, mereka jadi segan dengan reaksi dunia.


Di pulau itulah nantinya Arya akan menempatkan peralatan perangnya. juga dua pulau lainnya.


Seperti yang sudah diceritakan di muka. Tujuh kapal perang yang sedang berlayar ke perairan Nusa, dibuat berbelok semua oleh Arga dan bawahannya. Bahkan karena penumpangnya membandel, kapal tersebut dibuat menghilang, dan dimunculkan di depan istana pemimpinnya.


Kejadian itu, tentu saja membuat orang ramai keheranan. termasuk Tatsuya dan semua bawahannya.


Mereka tidak menyangka, ada kejadian seperti itu di dunia. Bukan karena bencana alam, tapi berasal dari kerja manusia. Maka dengan kejadian itu, mereka jadi tahu, bahwa memang benar kalau sembilan pulau yang disengketakan tersebut, telah dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata. Katakanlah dewa. Menurut persepsi mereka.


Jadi mulai saat itu. Tatsuya tidak berani lagi berbuat macam macam. Karena dia tahu, bahwa pemuda yang bernama Arya, adalah legenda yang tidak bisa dia capai.


***


Satu bulan pun sudah berlalu. Dari satu setengah bulan yang ada. Pembangunan sembilan pulau tersebut terus saja berjalan. Di tiap pulau yang ingin dikembangkan. Arya meminta pada mereka agar mempercepat laju pengerjaannya.


Bukan hanya itu saja yang Arya lakukan.Demi suksesnya rencana yang dia gulirkan. Arya memerintahkan pada bawahan tak kasat matanya, untuk membantu pekerjaan Dave tua, dan sembilan petinggi manusia yang lainnya,


Maka dibawah komando Arga serta Yang Cha. Dengan membawahi 150 ribu prajurit pekerja. Pekerjaan dermaga di sembilan pulau itu sudah selesai dikerjakan. Karena yang berat menjadi ringan. Yang tak mungkin menjadi mungkin.


Kini terlihatlah dermaga yang sangat megah. kuat dan lebar. Dengan terminal, kantor serta gudang gudangnya yang sangat besar. Dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan canggih, layaknya terminal di kota kota besar.


Bandara pesawat tempur di Pulau Permata pun hampir selesai. Begitu pula dengan bandara komersil di dua pulau lainnya. Pengerjaan itu, hanya tinggal memolesnya saja.


Pelabuhan kapal kapal besar juga sedang diselesaikan. Termasuk pelabuhan kapal kapal perang, dan peralatan tempur lainnya.


Sementara ditempat lain. Atau tempatnya di sekolah menengah atas kenamaan. Pengumuman kelulusan siswa SMA Tunas bangsa juga sudah di umumkan. Dimana seluruh siswa yang ada dinyatakan lulus semua. Dengan hasil yang sangat memuaskan. Arya tentu saja yang menjadi bintangnya.


Di suatu kesempatan, saat pengambilan ijazah tanda kelulusan. Kepala sekolah yang bernama Sentanu, juga dua guru lainnya bertanya pada Pramudya. Atau kalau di sekolah dulu dipanggil Badung oleh orang orang yang ada. Tapi tidak termasuk Arya juga kelompoknya. "Universitas mana yang ingin kamu masuki. Apakah Trunajaya atau Pramudya, Sama dengan namamu?" ujarnya.


"Mungkin saya tidak melanjutkan pelajaran pak? karena keterbatasan biaya. Pun orang tua saya kurang mendukung kayaknya?"

__ADS_1


"Saya yakin itu karena biaya untuk masuk kuliah dan seterusnya tidak ada." jawab Pramudya lemah suaranya.


"Sayang sekali! Kami tidak bisa membantu." respon Sentanu tidak berdaya.


"Tunggu dulu. Bukankah tuan muda Arya pernah berkata, kalau bagi siswa yang kurang mampu, dan ingin melanjutkan pendidikannya, semua biaya akan ditanggung olehnya?" ucap Safrizal. Salah satu teman Pramudya datang menyela.


"Apa Arya berkata begitu?" tanya Pino pula.


"Ya adalah! Kau nya saja yang otak ya lelet! Padahal sudah tiga kali dia mengatakan itu."jawab Pramudya malu malu. Karena kepala sekolah juga dua orang gurunya masih ada disitu.


"Salam pak Sentanu. Pak Bima juga ibu Siska!" ucap seseorang yang baru datang ketempat mereka. Lalu tanpa basa basi, menyalaminya satu persatu.


"Tumben telat? Biasanya datang yang paling awal?" tegur Siska sambil bercanda.


"Khusus untuk hari ini memang agak sedikit terlambat bu. Kan acaranya setengah jam lagi?" jawab Arya. Sambil mengamati wajah wajah mereka.


"Ya kau benar tuan muda!" jawab Siska pula.


"Oh ya? Apa kalian sudah mendata siapa siapa saja siswa yang kurang mampu dan ingin melanjutkan pendidikannya?" tanya Arya.


"Kebetulan belum. Karena maaf saja kami lupa. Pun pendaftarannya masih lama!" jawab Siska.


"Baiklah! Dengan senang hati akan kami lakukan." jawab Bima mendahului Siska.


"Sip kalau begitu!" reaksi Arya. Kemudian meminta ijin untuk meninggalkan mereka, setelah mengambil raport serta ijazahnya.


"Arya!" panggil seseorang dari belakangnya.


"Manda, Tasya dan kau Shinta! Mengejutkan saja!" respon Arya.


"Memangnya tidak boleh? Dengar ya kak Arya. Kami bertiga khususnya, dan 61 siswa dari kelas lainnya, akan mengikuti kemana kak Arya akan mendaftarkan diri."


"Kalau kak Arya ke Trunajaya Maka kami juga akan kesana. Begitu juga kalau ke Pramudya. Kami tentu akan mengikutinya!" ucap Shinta mendahului teman temannya.


"Kenapa begitu? Bukankah jurusan kita nantinya akan berbeda?" Apa tidak masalah itu?" tanya Arya.


"Walau jurusan kami berbeda. Asal kampusnya sama tidak masalah. Toh kak Arya kan ada untuk kita?" ucap Manda.

__ADS_1


"Iya sih! Tidak masalah kayaknya?" respon Arya.


"Oh ya? Setelah dipikirkan. Aku akan mengambil jurusan manajemen bisnis, di universitas Trunajaya. Karena kebetulan tak jauh dari kampus itu, ada apartemen cukup bagus, yang kebetulan pula aku pemiliknya."


"Kebetulan juga satu kamar pun belum ada yang menempati. karena masih baru. Jadi alangkah baiknya kalau kita semua tinggal di sana?" ujar Arya.


"Wah! Sultan mah bebas mau tinggal dimana. Kalau kami sih ikut saja." reaksi Natasya apa adanya.


"Deal! Nanti kita semua akan tinggal di sana. Kecuali Manda. Karena rumahnya memang berada di ibukota." jawab Arya.


"Aku akan ikut kemana kak Arya akan tinggal. Toh Trunajaya cukup jauh lokasinya dari rumah ku. Jadi apa salahnya kalau kita tinggal di tempat yang sama?" protes Amanda.


"Terserah Manda saja. Aku sih tidak masalah. Kebetulan apartemen milikku itu cukup besar. Ruangannya juga luas. Banyak kamar kamarnya pula."


"Seribu orang pun muat kalau tinggal disana." jawab Arya.


"Baik sudah diputuskan! Kita semua akan kuliah ditempat yang sama. Tempat tinggal pun juga sama. Cuma ruangannya saja yang berbeda." jawab Manda senang hatinya.


***


Setengah bulan kemudian. Tes untuk masuk kampus sudah selesai dilakukan. Kelompok Arya dinyatakan lulus semua, dan berhak berkuliah disana.


Dari yang berhasil dikumpulkan. Mantan siswa SMA Tunas Bangsa yang mau melanjutkan pelajarannya di tempat yang sama. Berjumlah 175 orang. Sedang sisanya berkuliah di tempat lain, tapi masih berada di ibukota. Sementara yang lainnya juga demikian.


Hanya 45 orang yang melanjutkan pendidikannya di kota provinsi lain, dengan alasan ada keluarganya disana.


Berkat Arya. Juga didukung oleh kemauan mereka. Pramudya dan delapan orang lainnya, atau kala itu merupakan kelompok siswa nakal, juga berkuliah di tempat yang sama, yang tentu saja biaya serta akomodasinya ditanggung oleh Arya.


Mereka tahu bahwa Arya adalah orang kaya. Uangnya tidak akan habis habis, malah bertambah banyak saja. Jadi membiayai mereka so fun saja! Guman mereka..


***


"Bagaimana apartemen yang cukup strategis itu bisa berpindah tangan? Siapa yang mengakuisisinya?" ucap seorang pria paro baya pada bawahannya.


"Kami juga tidak tahu detailnya ketua! Tiba tiba saja menurut berita. Pemilik modal menjualnya pada konsorsium yang sangat terkenal di ibukota. Katanya sebagai hadiah pada seorang tuan muda?" jawab bawahan apa adanya.


"Seorang tuan muda? Siapa?" reaksi ketua itu dengan mimik tidak suka.

__ADS_1


"Arya!"


"Apa? Jadi tempat itu sekarang telah menjadi miliknya? Bagaimana bisa?" responnya.


__ADS_2