Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Kanaya dalam bahaya


__ADS_3

"Yang mulia!, Jika diizinkan, kami bisa membuat 4 buah kapal itu tenggelam, seolah-olah seperti kecelakaan." Yang Cha bergegas datang melaporkan.


"Tidak perlu! Itu tugas abdi negara. Cukup cegah jaring mereka menangkap ikan. Buat jaringnya koyak besar karena tersangkut karang."


"Selain itu cegah agar kapal tersebut tidak hidup mesinnya saat petugas laut datang." Jawab Arya cukup membingungkan.


Tapi yang Cha, yang ditemani oleh panglima Arga mengangguk senang, karena tuannya sekarang tidak beringas lagi. Segala sesuatunya diserahkan kepada petugas yang berwenang. Sementara dia cukup mempermudahnya saja.


Tak lama kemudian. Iring iringan kapal pengamanan pun datang, di dampingi oleh dua buah kapal perang. berbobot mati sepuluh juta gros ton jika digabungkan. ditambah dengan dua kapal karantina besar, yang siap menarik kapal tersebut jika akan ditenggelamkan.


Setelah tugas menahan kapal itu selesai, Arya memutuskan untuk segera berlayar pulang.


Dalam perjalanan pulang. Arya menyerahkan sejumlah uang yang cukup besar. kepada masing masing anak buah kapal sebesar dua ribu dolar, yang langsung ia konversikan menjadi 30 juta rupiah, untuk masing masing orang orang.


Melihat itu membuat mereka sangat senang, karena baru kali ini mereka mendapatkan bonus yang begitu besar. Biasanya mereka hanya mendapatkan gaji. bulanan, dan tunjangan keselamatan. Itupun tidak begitu besar.


Namun saat Arya datang dan memperkerjakan mereka. Anak buah kapal sebanyak 45 orang untuk empat buah kapal ikan itu, langsung dibuat senang dengan bonus penangkapan ikan.


Kepada 16 petugas pengamanan kapal pun Arya berbuat demikian. Masing masing mereka mendapatkan 15 sampai 20 juta rupiah. dan langsung mereka terima tangan terbuka.


Lain kali jika Arya akan melaut lagi. mereka akan berada di barisan paling depan, agar bisa diikutsertakan.


***


Satu hari kemudian. Berita penangkapan enam buah kapal nelayan berbendera asing, serta aktivitas penangkapan ikan menjadi viral. Entah siapa yang memberitakannya.


Beruntung siapa yang melakukan penangkapan serta siapa yang mengadakan aktivitas pemancingan tidak mereka sebutkan. Mungkin karena otoritas dua jenderal besar, atau dikarenakan kekuasaan wakil ketua Dave tua dan Satya yang melakukannya.Tapi itu semua tidak berpengaruh buat Arya.


Dia malah menjadi senang, karena tugas negara yang berat itu bisa dia ringankan. Jika lain kali berkesempatan, mungkin Arya akan melakukannya lagi.


"Panglima Arga dan panglima Yang Cha! Apakah ada kemungkinan buat anak buah kalian untuk menjaga kedua perbatasan itu dari penjarahan. Jika memang ada, aku ingin menugaskan kalian untuk melakukannya." Ucap Arya disela sela melakukan tugasnya itu.


"Izin menjawab yang mulia! Untuk masalah itu sangat mudah buat kami. Sekarang juga bisa kami kirimkan, 5 sampai 10 ribu pasukan, untuk menjaga wilayah itu agar aman." Jawab Arga cukup lancar.


"Bagus kalau begitu!. Segera lakukan. Karena persepsi ku merasakan, ada aktivitas ilegal yang sedang dilakukan."

__ADS_1


"Kirimkan 10 ribu pasukan, dan sebar di delapan lokasi perbatasan yang cukup rawan. agar mereka tidak berani macam macam untuk menjarah kekayaan laut kita!" Respon Arya.


"Dimengerti yang mulia.Mohon undur diri." Jawab kedua jenderal pengawalnya cukup senang, karena mendapatkan kepercayaan dari tuannya.


"Tidak ku sangka, kegiatan memancing yang iseng itu bakal mendapatkan pengalaman yang sangat berharga?"


"Selain mendapatkan ikan, aku juga mendapatkan pengalaman. Ternyata laut kita yang luas itu, selama ini isinya telah dijarah oleh bangsa luar?"


"Jika dari dulu aku punya kekuatan dan kekuasaan, aku akan membuat bangsa-bangsa tersebut tunduk padaku, dan tidak akan berani lagi berbuat macam-macam!" Batin Arya dalam hati.


Kemudian berniat ingin menghitung seluruh jumlah kekayaan yang ia dapatkan, baik dari hasil penjualan pil kiansi bumi dan lainnya.


Selain menghitung kekayaan tersebut, dia juga ingin menghitung uang yang ia dapatkan dari hasil penjualan sup tulang naga dan sup jamur dewa. Ditambah dengan hasil penjualan ikan.


Maka satu setengah jam kemudian. Arya sudah tahu berapa jumlah uang yang ia dapatkan. Seluruhnya berjumlah 87 triliun rupiah. Belum ditambah dengan penjualan sebuah pil Kianshi bumi level 10. yang harganya mencapai 875 milyar dolar. Jika ditotal seluruhnya, Arya mendapatkan kekayaan sebesar, satu biliun, tiga ratus 62 triliun rupiah. suatu pencapaian yang sangat luar biasa sekali.


"Wah ini hebat! Dengan semua uang-uang ini, aku bisa memulai rencanaku untuk menghidupkan kembali kejayaan trah Wangsa."


"Perusahaan yang sedang aku bangun, dan tidak lama lagi akan selesai, juga akan aku beri nama dengan " Perusahaan Wangsa Baladewa" Gabungan dari nama buyut, kakek juga nama ku. Tidak lupa nama kedua orang tua ku. Semuanya sudah tercakup di situ." Guman Arya pada diri sendiri sambil tersenyum senang.


"Apa kabarnya Amanda dan Kanaya ya?. Apa mereka berdua baik baik saja?" Ucap Arya tiba tiba.


"Ah kenapa bisa lupa? Ditubuh mereka kan sudah aku taruh aura kesadaran ku. Jadi biar aku sebarkan persepsi ku pada mereka. Siapa tahu jaraknya tidak akan menjadi penghalang untukku mengetahui keadaan mereka?" Batinnya.


Sementara itu di tempat lain, atau tepatnya di kediaman Dave tua. Kanaya yang ingin keluar dari dalam rumah mewahnya, tiba tiba disergap oleh empat belas laki laki berbadan besar. Mereka rata rata berpenampilan seperti petarung yang cukup berpengalaman. Karena sepintas Kanaya melihat, empat orang pengawal, yang berjaga di depan rumah, tergeletak di lantai. Sementara di pos penjagaan pintu gerbang, tidak terlihat siapa-siapa.


"Siapa kalian?. Bagaimana kalian bisa masuk?. Ini kediaman pribadi milik ketua organisasi! Apakah kalian maling yang ingin mencuri?" Ucap Kanaya asal bicara. Agar kedok keempat bekas orang itu terbongkar semua. Sambil berusaha melumpuhkan mereka dengan beberapa pukulan dan tendangan.


Namun malang. Mereka bukanlah orang sembarangan. Pukulan dan tendangan Kanaya yang cukup cepat dan keras itu, sangat mudah dipatahkan. Hanya dengan menangkis dan mengelak saja. sambil sesekali berusaha menyentuh anggota tubuh Kanaya.


Menyadari itu, tidak otomatis membuat Kanaya ketakutan, tapi malah membuat dia marah dan semakin beringas, hingga pada suatu kesempatan, dua orang penyergapnya dibuat tumbang, karena mendapatkan tendangan menyilang, dan lurus yang ia lakukan.


Ternyata Kanaya jago beladiri juga. Dia sekarang menyandang sabuk hitam. Sebuah prestasi karateka yang luar biasa, untuk ukuran gadis seusianya.


Namun apa mau dikata. Jumlah musuh yang sedang ia lawan terlalu banyak. Sementara dia hanya sendiri. Sedangkan para pengawalnya sudah dilumpuhkan dan ayahnya entah di mana?

__ADS_1


"Jangan macam macam gadis cantik! Menyerah saja! dan bersedia untuk dihadapkan pada ketua kami." Ucap seorang laki berperawakan besar pada Kanaya.


"Tidak ada angin tidak ada mendung tiba-tiba saja turun hujan. Katakan siapa kalian, dan siapa yang menyuruh kalian untuk membuat kekacauan di rumahku?" Bentak Kanaya cukup mencengangkan.


"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang ikut kami dengan sukarela, sebelum tubuh mu yang mulus itu kami hancurkan!" Jawab laki laki tersebut cukup menakutkan.


"Aku tidak akan menyerah, sebelum tangan burukmu itu aku patahkan!" Respon Kanaya kembali membuat heran.


"Kawan kawan! Cepat tangkap bocah itu. Jangan biarkan dia melawan! Kurang ajar dia!" Reaksi pria besar itu dengan wajah tegang.


Tak lama kemudian...


"Hiaaaaa!"


Plak!


Bugh!


Des!


"Argh! Kurang ajar!. Dasar jhalang! Akan ku patahkan tangan dan kaki mu itu!"


"Hiaaaaa!"


Bamm!


Tubuh Kanaya terbanting ke lantai. dan mengerang kesakitan. Namun saat dia akan bangkit, sebuah pukulan cukup keras mendarat di tengkuknya, membuat kesadarannya langsung hilang. Gelap gulita dan tidak ada penerangan.


"Angkat bocah itu dan masukkan ke mobil ku. Cepat!" Instruksi pria itu cukup senang. Lalu ikut masuk dan meninggalkan rumah itu tanpa meninggalkan jejak kekerasan.


Namun tidak mereka sangka. Seorang pelayan mengabadikan momen perkelahian itu melalui ponselnya. dan segera ia simpan, untuk diberikan pada majikannya setelah ia pulang.


Kini Kanaya dalam kesendirian. Tubuhnya yang terbungkus dengan pakaian kasual nan elegan itu, terlihat sangat menggoda sekali, apalagi dua bukit kembar terlihat cukup menantang, sampai membuat tangan Brata gatal untuk menyentuhnya.Tapi cepat ia urungkan, karena bos mereka akan tahu perbuatan yang seperti itu, dengan aura yang tertinggal di tubuh seseorang.


Maka cepat cepat ia batalkan." Sialan! Makanan enak seperti ini harus disia siakan. Pakal saja diawasi, kalau tidak sudah habis kau bocah!" Rutuk Rozan cukup kesal, karena kegagalannya menikmati kecantikan Kanaya.

__ADS_1


Sambil meninju jok kursi, dimana Kanaya sedang terbaring tidak beraturan. Mobil mereka pun terus melaju ke arah selatan, serta berhenti di sebuah rumah mewah cukup besar tapi menakutkan.


"Semoga kau tidak apa apa Naya?" Guman Arya cukup tenang. Tiba tiba dia menghilang, dan pergi entah kemana.


__ADS_2