Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Wejangan Wangsa


__ADS_3

Sementara itu ditempat lain pada waktu yang sama. Sekelompok orang terlihat sedang berusaha memasuki apartemen milik Arya, atau lebih tepatnya tempat yang dipinjamkan padanya.


Mereka terdiri dari delapan belas orang laki laki dewasa, dan dua puluh dua remaja sepantaran dengar Arya. Kedatangan mereka kemungkinan ada kaitannya dengan ketidaksenangan seseorang, yang waktu pertama Arya serta teman temannya masuk. dia langsung memprotesnya.


Orang tersebut adalah Wasudewa. Makhluk abadi yang sulit untuk mati. Karena dia telah kerjasama dengan makhluk penunggu tanah larangan, sewaktu Wangsa Baladewa mengikrarkan dirinya sebagai seorang raja. ratusan tahun yang lalu.


Selain seorang makhluk sakral. Dia juga dikenal dengan seorang pengusaha sekaligus kultivator, yang sangat disegani pada jamannya. Namun sejak Draco datang, lingkup usaha serta kekuasaannya jadi semakin menyempit, dan akhirnya hanya berpusat di kota itu saja. karena dia tidak mampu melawan kesaktian dari lawannya.


Hari ini dia menyuruh puluhan anak buahnya untuk menyatroni tempat Arya dan teman temannya menginap, sekedar ingin memperingatkan mereka saja.


Namun tanpa dia sadari. Tindakan tersebut bakal berbuntut panjang. Karena Arya jelas saja tidak terima kalau tempatnya di kunjungi saat teman temannya sedang tidur. Lagipula stamina mereka sedang drop, akibat kebanyakan diforsir saat orientasi pengenalan kampus dan mahasiswa baru, walau kegiatannya sekarang sudah selesai.


Empat orang satpam tentu saja menghalangi niat mereka. Walau mereka tahu bakalan babak belur dubuatnya. Dari gelagatnya saja mereka sudah tahu, bahwa orang orang tersebut datang dengan niat tidak baik.


Itu terlihat saat salah seorang diantara mereka berkata." Suruh semua penghuni tempat ini untuk bangun, dan segera meninggalkan lokasi. karena tempat ini akan kami ambil walau kalian nantinya tidak terima!" ujarnya.


"Mana bisa begitu? Pemilik tempat ini sudah berpesan. Apapun yang terjadi, jangan mengijinkan orang lain untuk masuk, apalagi kalian!" jawab Rana tidak kalah garangnya.


"Hajar mereka! Jangan sisakan satupun yang hidup!" reaksi Wangkara tidak suka.


"Jangan berani macam macam! Apartemen ini milik tuan muda Arya. Kalau kau berani memprovokasinya, kami jamin kalian pulang hanya tinggal nama!" bantah Rana, sekedar memberi peringatan pada lawan bicaranya.


Tapi usahanya tidak berhasil. Malah tubuhnya serta tubuh tiga anak buahnya yang menjadi korban. Dengan beringasnya puluhan orang itu merangsek ke empat orang satpam itu, dan melakukan penganiayaan terhadapnya.


"Hentikan! Apa yang telah kalian lakukan?" tiba tiba terdengar suara keras dari dalam apartemen, dan itu adalah Kanaya.


"Ha! Ada gadis cantik mendatangi kita dengan sukarela. Tunggu apalagi? Tangkap dia!" ujar salah seorang yang datang itu dengan mata berbinar terang.


"Jangan berani kurang ajar! Aku peringatkan pada kalian kalau tidak mau celaka!" respon Kanaya.


"Hahaha! Lucu! Sungguh lucu! Seorang gadis lemah sepertimu mau menakuti kami. Percuma! " reaksi mereka.


"Hiaaaa!" teriak Kanaya tiba tiba.Sambil menerjang orang yang bermulut lemes itu hingga membuat tubuhnya terjengkang.


"Kurang ajar! Dikasi hati malah minta jantung!" respon orang orang yang melihatnya. Lalu tanpa basa basa lagi langsung mengarahkan tendangannya ke tubuh Kanaya. Namun dengan mudahnya dihindari olehnya. Malah tendangannya pula yang masuk, dan membuat lawannya lagi lagi terpental.


"Gawat! Naya dikeroyok! Ayo kita bantu dia!" ujar salah seorang teman Arya pada dua orang temannya.


"Jangan! Mereka ramai. sedangkan kita hanya bertiga. Sementara yang lain sedang pada tidur!" jawab temannya.


"Tapi Kanaya dalam bahaya. Bagaimana kalau dia terluka. Apa yang harus kita katakan pada arya?" protes temannya.


"Ya mau bagaimana lagi. kita bukan orang kuat. Kalau....?


"Hah. banyak omong kau! Ayo Dika kita bantu Kanaya!" hardik temannya


"Ayo!" jawab Dika.

__ADS_1


"Menyerah saja anak manis, agar kau bisa menemani kami tidur barang sejam dua jam bersama sama." ejek salah seorang dari mereka dengan ekspresi kurang ajar. Namun tiba tiba kekuatan tak kasat mata menerjang tubuhnya.


Bugh! .


Bamm!


Kemudian disusul oleh tubuh tubuh lain yang bertumbangan. Muntah darah dan pingsan sesudahnya.


Wangkara yang melihat itu hanya melongo diam. Dia tidak melihat siapa yang menyerang anak buahnya. Yang terlihat hanya sekelebatan bayangan hitam. dengan aura yang sangat menakutkan. Tapi tiba tiba tubuh tubuh tidak berdaya dibuatnya pingsan.


Jleb!


Jleb!


"Argh!"


Bruk!


Tubuh Wangkara ambruk ke tanah, karena kedua kakinya dibuat terluka, dengan dua buah besi sepanjang dua jengkal, menembus kedua pahanya.Tak lama kemudian dia juga pingsan.


Kanaya yang melihat itu tentu saja keheranan. Dalam hatinya bertanya tanya. Siapa gerangan yang telah membantunya barusan. Kalau itu Arya tidak mungkin. Lalu siapa? batinnya.


Setelah pertarungan itu keadaan kembali tenang. Hanya tinggal tubuh tubuh tidak berdaya yang satu persatu menghilang, dan dibawa seseorang entah kemana?


"Kau tidak apa apa Kanaya? apa yang terluka?" tanya Harbi tiba tiba.


"Aku sebenarnya mau membantu tapi takut mengganggu langkah Kanaya. Kan bisa bahaya?" jawabnya enteng saja.


"Pandai lah kau tu!" reaksi teman temannya tidak suka. Lalu mengajak Kanaya untuk masuk, setelah membangunkan empat orang penjaganya.


"Syukurlah mereka sudah diamankan! Kalau tidak bisa menimbulkan masalah." guman seseorang yang sejak dari awal melihat perkelahian itu cukup tenang. Lalu menghilang dengan memasuki koyakan ruang, dan kembali ke tempatnya.


***


"Kau harus berterima kasih pada orang itu Arya. Karena dia telah menyelamatkan wanita mu dan menyelamatkan yang lainnya." ucap Wangsa pada cucunya.


"Mamang ada apa eyang. Apa yang terjadi?" tanya Arya.


"Ish! Sekarang mata batinmu semakin lemah. Hingga kejadian sebesar itu tidak kau ketahui. Percuma berjuluk pendekar penakluk naga, kalau kemampuan mu semakin menurun!" keluh Wangsa.


"Maafkan aku eyang! Aku mengaku salah. Kedepannya aku tidak akan ceroboh lagi, dan berjanji akan menjaga mereka seperti aku menjaga diriku sendiri." jawab Arya.


"Rumahmu didatangi orang. dengan niat mengusir kalian dari sana."


"Siapa?" reaksi Arya.


"Orang orangnya Wasudewa. Sepupu jauh eyang. Tapi kau tenang saja. Mereka semua sudah dikalahkan oleh seseorang." jawab Wangsa.

__ADS_1


"Uh syukurlah!" guman Arya lemah. Namun tidak berniat untuk mengeceknya.


Wangsa yang melihat itu jadi tahu, apa yang ada di hati Arya. "Eyang tahu kenapa kau bersikap begitu cucuku!. Itu semua karena kau belum bisa menerima kenyataan, kalau kita ini hanya keluarga abdi setia, dari seorang raja digdaya pada jaman dulu. walau sekarang sudah dibebaskan."


"Tapi karena berhutang budi harta dan nyawa padanya, kita harus tetap menghormati mereka, termasuk pada anak cucu keturunannya. yang memang sudah selayaknya kita lakukan."


"Jadi bersikaplah legawa, dan menerima semua kenyataan yang ada!" jawab Wangsa, sembari mengingatkan Arya agar selalu bersikap rendah hati, serta menerima kenyataannya.


"Aku hanya heran saja eyang. Kekuatan yang sudah setinggi ini, bahkan levelnya sudah level semesta. Kenapa masih dibilang rendah? Apa masih ada kekuatan lain, yang jauh lebih tinggi dari yang kita miliki?" jawab Arya.


"Kau tentu pernah mendengar istilah, bahwa diatas langit masih ada langit kan? Begitulah yang ada."


"Kalau kita kuat. diluaran sana masih ada yang lebih kuat dari kita, dan ditempat lain juga demikian."


"Jadi sebaiknya kita jangan berpuas diri dulu, serta menganggap bahwa kita yang paling kuat di atas dunia. Masih ada kekuatan lain yang berada diatas kita." wejangan Wangsa pada Arya.


"Lalu semua harta yang kita miliki itu asalnya dari mana? Apa berasal dari Prabu Ditya juga?" tanya Arya.


"Anggaplah seperti itu. Karena semua harta harta tersebut. berasal dari kesaktian suatu ajian dan amalan, yang bisa merubah, menemukan serta menarik benda apa saja yang kita inginkan. Misalnya emas, permata, intan, berlian dan lain sebagainya."


"Berkat ilmu itu Eyang dulunya mampu memberikan upeti tiap tahunnya dengan jumlah banyak. dan itu diketahui oleh sang raja. Namun dia tidak mempermasalahkannya. Bahkan mendorong agar levelnya terus ditingkatkan. agar kualitas barang yang dibuat semakin tinggi, dan mendekati benda aslinya."


"Namun sayang. Dari enam puluh lima keturunan eyang. Ada seseorang yang menginginkan ilmu itu diturunkan padanya. Karena dia mau mendirikan kerajaan sendiri, yang terpisah dari yang mulia Prabu Ditya."


"Tapi tentu saja keinginan itu eyang tentang. dan segera melaporkannya pada raja. Maka saat itu juga ilmu tersebut diambil kembali, dan diberikan pada muridnya."


"Kalau tak salah namanya Ajisaka. serta satu orang murid kesayangannya, yang eyang lupa siapa namanya?"


"Jadi harta yang kau temukan itu. semua berasal dari Prabu Ditya Maka kau jangan menganggap bahwa semua harta itu kita yang punya. Itu hanya titipan semata." jawab Wangsa.


"Apakah ilmu yang eyang berikan pada ku ini juga berasal darinya? tanya Arya kembali.


"Ya tentu saja! Oleh karena itu levelnya masih rendah. Beda dengan ilmu yang berasal dari kitab Wahyu Taqwa dan kitab Kalamurka. Tingkatannya jauh sekali."


"Walau kau bisa mengalahkan Rahwana juga Ziangga. Itu karena kekuatan mereka tergolong rendah. Jika kau melawan penguasa alam jiwa. Tentu dalam sekali serang nyawamu akan melayang." jawab Wangsa apa adanya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan eyang? Apa harus meminta bantuannya agar ilmu ku bisa disejajarkan dengan ilmu mereka?" tanya Arya.


"Itu tergantung dari situasi. Itupun jika kau beruntung. Maka yang mulia Suta akan mengajarkannya pada mu." jawab Wangsa.


"Sesulit itukah?" batin Arya.


"Tidak juga!" bantah Wangsa.


"Sekarang kembalilah ke dunia nyata, dan menemui orang orang mu disana!"


"Satu lagi. Berdayakan Arga ataupun Yun Wangsa, agar menugaskan pasukannya untuk menjaga rumah mu dan orang orangnya dari gangguan orang lain. Jangan menganggap bahwa itu sudah biasa!" nasehat wangsa menyadarkan cucunya.

__ADS_1


"Baik eyang Setelah ini aku akan selalu bersikap waspada!" jawab Arya malu dibuatnya.


__ADS_2