
"Apa?.Tanah dan bangunan yang kita inginkan itu sudah dibeli oleh Arya. Lalu apa kerja kalian selama ini?. Bukankah aku sudah menugaskan pada kalian untuk menggagalkan rencananya itu?. tapi kenapa tetap jalan juga?" Reaksi Theo tidak senang.
"Maaf bos!. Itu semua di luar kemampuan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap tidak mampu juga mengalahkan bocah yang bernama Arya itu, karena kekuatannya benar-benar luar biasa!"
"Bahkan Tanu yang terkenal kuat itu, juga dikalahkan olehnya. Alex apalagi, Sementara Dirga juga demikian." Jawab anak buahnya berterus terang.
"Dirga!. Apakah dia masih hidup?" Tanya Theo penasaran.
"Masih bos!. Sekarang dia malah menjadi anak buah Arya, dan kemana-mana selalu bersamanya, kecuali kalau Arya pergi sekolah." Jawab Bara apa adanya.
"Arya masih sekolah?" Reaksi Theo tidak percaya.
"Benar bos!. Arya masih anak SMA." Jawab Bara.
"Di mana dia bersekolah?" Tanya Theo lagi.
"Di SMA Tunas Bangsa, di mana adik perempuan Alex juga ada di situ. tapi sayangnya sekarang dia sudah berhenti, akibat tidak tahan di bully oleh teman-temannya." Jawab Bara berterus terang.
"Ternyata begitu?. Kamu tahu di mana rumah Arya?" Respon Theo ingin tahu yang lainnya pula.
"Tahu bos!. Dia tinggal di pinggiran kota, yang bernama kampung Rawa." Jawab Bara apa adanya."
"Kampung Rawa?. Tapi setahuku tidak ada rawa di sana?" Reaksi Theo penasaran.
"Itu hanya namanya saja bos, karena kata orang orang terdahulu, tempat itu dulunya adalah Rawa, walau tidak begitu luas.
Tapi penduduk asli yang tinggal di sana, lebih suka mendiami rawa-rawa daripada daratan yang berbukit-bukit itu."
"Namun setelah para pendatang baru datang. mereka lebih suka tinggal di daratan, walaupun sedikit berbukit, tapi jauh lebih nyaman daripada tinggal di rawa-rawa."
"Namun sekarang rawa nya sudah tidak ada, karena sudah ditimbun oleh pendatang baru tersebut." Jawab Bara apa adanya lagi.
"Oh begitu?. Dengan siapa dia tinggal di sana?" Respon Theo datar.
"Untuk saat ini dia masih tinggal sendiri. Tapi rumah yang ditinggalinya itu sering ditinggal olehnya, karena dia harus pergi ke tempat usahanya tersebut." Jawab Bara menjelaskan.
"Bagus itu?. aku jadi punya ide. Begini saja!. tengah malam nanti kalian pergi ke sana dan bakar rumahnya!" Respon Theo mendadak jadi senang.
"Tapi bos?. Apakah itu tidak terlalu riskan?. Pengamanan di kampung tersebut kalau malam hari sangat ketat." Jawab Bara.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Theo dengan ekspresi penasaran.
"Tidak tahu juga bos!. Tapi kemungkinan Arya yang melakukannya. Karena sejak ia tinggal di sana, kampung itu jadi aman."
"Entah kenapa orang-orang di tempat itu berinisiatif sendiri untuk menjaga kampung tersebut, karena katanya orang tua Arya dulunya adalah kepala kampung di situ." Jelas Bara.
"Siapa sekarang kepala kampungnya?"
"Kalau tidak salah pak Supomo atau pak Pomo bos?" Jawab Bara.
__ADS_1
"Pak Supomo?. Apakah aku tidak salah dengar?. Bukankah itu orang tua dari Natasya Bella, sahabat adik perempuan ku itu?" Reaksi Theo terkejut.
"Kemungkinan iya bos!, karena aku tidak begitu mengenalnya." Jujur Bara mengakuinya.
"Sialan!. Alot juga si Arya itu. Kalau begini terus, sulit buat kita untuk mengalahkannya. Apalagi enam master bela diri katanya sudah ikut bergabung dengannya?"
"Hah!"
Bamm!
Tangan kekar Theo, membanting kursi yang ada di depannya, akibat rasa kesal yang sudah tidak tertahankan.
"Begini saja!" Ujarnya tiba tiba.
"Tetap pada rencana semula. Bakar rumahnya atau bakar tempat usahanya itu!. Kalau ketahuan gunakan pistol ini."
"Aku yakin bocah itu tidak akan mampu menghindari peluru. Kalau dia sudah mati aman kita!" Ujar Theo memberi instruksi.
"Siap bos!. Kalau dengan benda ini aku yakin bocah itu pasti mati!" Respon Bara merasa senang. Kemudian mengambil pistol yang diberikan oleh Theo padanya.
Sementara itu ditempat lain. Argani yang menjadi pemimpin pengawalan Arya datang melapor padanya.
"Lapor tuan!. Mata mata yang saya sebarkan mendapatkan berita, bahwa ada sekelompok orang yang ingin membakar rumah tuan juga tempat ini. Lalu apa yang tuan ingin kami lakukan terhadap mereka?" Ujarnya Argani bertanya.
"Dari kelompok mana?. Alek, Tanu, atau kelompok lainnya?" Responnya.
"Kelompok lain yaitu Theo." Jawabnya.
"Aku ingin hidup normal, tanpa harus ada yang berusaha mengacaukannya!"
"Tapi kalau begini. Kapan usaha ku bisa maju?. Belum apa apa sudah di ganggu orang. Mana tempat itu lagi direnovasi, tempat usaha lain belum ada pula?. Huh, Pusing jadinya!" Batin Arya.
"Paman Arga!. Temani aku ke tempat mereka!. Aku ingin menantang mereka berduel, siapa tahu aku menang?" Ucapnya tiba tiba.
"Tapi tuan?. Apakah tidak berbahaya?. Mereka bersenjata api memang dipersiapkan untuk mencelakai anda kalau Tuhan tetap datang Bukankah malah akan mengantarkan nyawa protes harganya merasa khawatir
"Kau tenang saja!. Aku bisa menjaga diri. Lagipula ada kalian kenapa harus takut?"
"Ambil semua peluru yang ada di pistol mereka, dan berikan pada ku diwaktu yang tepat. Bukankah itu kelihatan keren?" Jawab Arya.
"Ya, tuan benar!. Maaf saya telah melupakannya." Respon Arga malu malu.
"Namun tuan hendaknya..."
"Mengajak enam orang master untuk ikut dengan ku kan?. Kalau untuk masalah itu paman tenang saja!. Aku sudah menghubungi mereka. dan kapan pun aku perlukan, mereka tetap stand by dan akan datang ke tempat yang aku tentukan." Ucap Arya memotong usul dari anak buahnya itu.
Argani langsung terdiam, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun dalam kebingungan seperti itu, terdengar Arya berkata.
"Sekarang ayo ikut aku!. mumpung hari belum begitu malam. Akan lebih baik mendatangi mereka dulu, daripada mereka yang mendatangi rumah ku!" Perintah Arya pada Arga.
__ADS_1
"Baik tuan!" Tegas jawabnya.
Lalu berjalan menuju motornya, untuk pergi ke tempat Theo, tanpa mengajak anak buahnya lagi. "Maaf bos!. Kalau boleh tahu bos mau kemana?" Tanya Jodi tiba tiba.
"Oh kau Jodi?" Respon Arya.
"Kebetulan aku sedang ingin olahraga." Jawab Arya dibuat bercanda.
"Olahraga?. Malam-malam begini?. Sudah setengah sembilan juga bos. Apa tidak sebaiknya besok saja?" Reaksi Jodi mencoba memberi usul.
"Olahraga yang aku maksudkan itu adalah menantang Theo untuk berduel, karena menurut kabar yang aku dengar, mereka mau membakar rumahku juga tempat ini."
"Jadi sebelum mereka datang, aku akan mendatangi mereka duluan." Jawab Arya berterus terang.
"Kalau begitu kami ikut bos!, karena kami juga khawatir tentang keselamatan bos." Reaksi Jodi cepat.
"Terserah apa mau mu?. Tapi tidak boleh pergi semua. yang ikut denganku hanya kamu dan Alam saja. yang lain tetap berada di sini. Tapi di mana dia ya?" Jawabnya sekaligus bertanya.
"Saya di sini bos!" Jawab Alam tiba-tiba.
"Ayo ikut aku!. Malam ini kita akan membuat perhitungan dengan orang yang ingin mencelakai kita, Theo!" Jawabnya.
"Apa?. Bos ingin mendatangi dia?. Apa tidak salah tuh bos?. Mereka ramai, sementara kita?" Reaksi Alam tidak percaya.
"Apakah kau lupa, jika kelompok kita sekarang sudah ada enam orang master?. Bukankah dengan adanya mereka, jumlah banyak pun tidak akan jadi masalah?" Tanya Arya mengingatkan.
"Oh ya benar juga. Kenapa saya bisa lupa ya?" Reaksi Dirga malu-malu.
"Ayo kita ke sana!. Aku sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada Theo yang sombong itu!" Ujar Arya saat ingin mengajak Alam dan Jodi untuk ikut dengannya.
"Baik bos!" Jawab Jodi dan Dirga serempak. Kemudian sama-sama memasuki mobil bak terbuka untuk mendatangi markas musuhnya.
"Mereka mau ke mana ya?. Kenapa kita ditinggal dan tidak diberi tahu?" Tanya Dika pada temannya.
"Mana aku tahu?. Mungkin ada sedikit urusan?. Tapi kenapa mereka tidak mengajak kita ya?" Jawab yang lain mengulangi lagi rasa penasaran temannya.
"Huh dasar bakul semprul!. Kalau kita ikut, lalu siapa yang akan menjaga tempat ini?. setan?" Reaksi Gobang tidak senang.
"Ah kau ini?. Kita sama sama anak buah.Jadi jangan bergaya lah!" Respon Dika tidak disangka.
"Bukan bergaya, tapi mengingatkan. Tapi ah sudahlah!. Ayo kita patroli! Aku takut ada yang ingin mencuri bahan-bahan bangunan yang sedang digunakan untuk merenovasi gedung ini." Jawab Gobang merespon mereka.
"Kau patrolilah sendiri, aku mau tidur!" Jawab Dika uring uringan.
"Eits!. Jangan macam macam!. Kalau bos kita tahu habis kau!" Respon Gobang menakut-nakuti.
"Iya iya!. Aku akan patroli!" Jawab Dika akhirnya menyerah. Kemudian mengambil peralatannya untuk melakukan patroli di sekitar bangunan tersebut.
"Kalian tetap di sini!. Aku akan mengecek barang barang di sebelah sana!" Perintah Gobang pada teman-temannya.
__ADS_1
"Baik komandan!" Jawab dua yang lainnya sambil bercanda.
"Awas kalian ya!. berani meledekku!" Reaksi Gobang terlihat senang.