Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Memotivasi


__ADS_3

"Pukulan bocah itu benar benar membuat ku sakit. Beruntung pengalaman ku sudah cukup banyak. Jika tidak, aku yakin akan memakan waktu lama untuk menyembuhkannya." guman Ziangga sambil menggelengkan kepalanya.


"Panggil anak mu untuk datang! Aku ingin mengatakan sesuatu padanya!" perintah Ziangga pada Dasamuka.


Tak lama kemudian, pangeran Sura sudah berada di hadapan Ziangga, dan sedang bersiap untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh leluhurnya itu dengan hati berdebar debar.


"Kekuatan mu belum cukup untuk memprovokasi manusia yang bernama Arya. karena kekuatannya sendiri sudah hampir menyamai kekuatan ku. Bahkan gerakannya sudah melampaui gerakanku."


"Oleh karena itu untuk sementara, tingkatkan dulu kekuatanmu, dan perkuat pondasi jiwamu, agar saat berhadapan dengannya nanti, kau tidak kalah telak."


"Anak itu bukan anak sembarangan. Hentikan penyamaran mu, dan putuskan jangan lagi muncul di dunia manusia. karena keberadaan mu sudah diketahui oleh Arya." ujar Ziangga.


"Seberapa kuat kah dia eyang? Kenapa eyang yang sudah berada di level puncak pun bisa terluka? Apakah dia menggunakan artefak untuk melindungi nyawanya?" jawab Sura malah balik bertanya.


"Ayahmu saja jika berhadapan dengannya, belum tentu bisa menang. Apalagi kau?"


"Kekuatannya sudah tidak bisa diukur lagi. Ada lubang hitam di dalam tubuhnya. Eyang pun sudah tidak bisa melihat dasarnya. jaraknya terlalu jauh. Tapi dia belum menyadarinya."


"Mungkin setelah ini, dia akan bisa mengontrol kekuatannya. Itu berarti, dunia kita sedang terancam keberadaannya."


"Oleh karena itu untuk sementara, hentikan keinginan mu untuk mendapatkan darah kembaran mu itu, karena darah mu juga bisa, walau tidak sekuat darah Amanda."


"Eyang harap kau bisa memahaminya?" jawab Ziangga tidak berdaya.


"Baiklah leluhur. Aku akan mematuhinya!" patuh Sura dalam menjawabnya.


"Huh! Kau tidak tahu saja, kalau setelah aku mendapatkan darah perawan Manda. Kekuatan mu tidak ada apa apanya dengan ku. Kau lihat saja orang tua!" batin Sura sambil menyeringai.


"Dasar badjingan! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan Sura. Secara diam diam kau memperdalam ilmu larangan itu. Dasar iblis berwujud manusia!" batin Ziangga pula.


"Teruslah menatapku orang tua! Setelah ini kau akan tahu siapa yang terkuat diantara kita?" balas Sura pula.


Dasamuka tidak berbicara. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja, karena dia tahu apa yang sedang direncanakan oleh anaknya. walau dikatakannya dalam hati.


Jika memang itu benar, maka pangeran Sura akan mempunyai kekuatan setara atau mungkin melebihi leluhurnya.Tapi jika gagal, maka bersiap siaplah untuk kehilangan dia selamanya.


***

__ADS_1


"Bagaimana persiapan pembukaan perusahaan baru ku. Apakah semua sudah selesai?" tanya Arya pada anak buahnya.


"Seperti yang master lihat, semuanya sudah selesai. Tinggal


menunggu besok untuk peresmian." jawab Prana apa adanya.


"Bagus! Aku senang mendengarnya!" respon Arya.


"Tapi master? Bagaimana dengan gangguan keamanan yang beberapa hari telah berlangsung. Apa tidak akan membahayakan orang orang yang datang?" tanya Prana.


"Paman tenang saja!. Semua sudah diurus oleh orang lain. Tinggal melaksanakan penjemputan mereka saja."


"Untuk sementara gangguan keamanan yang ditakutkan belum akan terjadi, karena aku sudah mendatangi mereka secara langsung, dan mengancam mereka agar tidak membuat keributan." jawab Arya berterus terang.


"Syukurlah kalau begitu. kami jadi tenang mendengarnya." respon mereka merasa senang.


"Huh! Jangan buru buru merasa senang dulu hai manusia! Kalian tidak tahu saja kalau sebentar lagi dunia kalian akan musnah, dan digantikan dengan dunia denawa. Hahahaha!" ucap seorang mata mata kegirangan, melalui retakan dimensi dan terus saja mengikuti pergerakan Arya.


"Arga! dan kau panglima Yang Cha! Tangkap mata mata itu dan bawa ke dunia naga! Aku ingin mendengar apa alasannya terus mengikuti ku, dan siapa yang menyuruhnya?" ucap Arya melalui transmisi suara pada bawahannya.


"Siap laksanakan yang mulia!" jawab keduanya serempak. Lalu sama sama menghilang dan muncul di dunia denawa, yang terhubung dengan retakan dimensi, dimana mata mata itu berada.


Namun Arga sudah bersiap siap dan memperkirakan bakalan terjadi. Maka dia memasukkan mata mata itu ke dalam segel jiwa agar tidak bisa melarikan diri.


"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa tahu keberadaan ku. Bukankah ini dunia dimensi? Apakah kalian juga bangsa denawa?" ucap mata mata itu ketakutan. Kemudian mengerahkan kekuatan untuk menghancurkan segel yang mengurungnya. Namun usahanya sia sia saja


"Percuma kau melawan! Sekarang kau sudah berada dalam jangkauan kami. Dasamuka sekalipun, tidak akan bisa membebaskan mu. Jadi patuhi saja saran ku. yaitu Diam!"


"Jika kau masih bersikeras melawan, maka kami tidak akan segan segan membunuh mu, dan menarik lebih banyak lagi bangsa denawa untuk menjadi tawanan!"


"Sekarang ikut kami untuk mendapatkan penghakiman!" jawab Yang Cha mendahului rekannya, Arga.


Tak lama kemudian. tawanan yang bernama Zaha, sudah berada di dunia naga, dan sedang dihadapkan pada Arya, yang detik itu juga langsung datang kesana.


Dia tidak mau membawa tawanan itu ke dunia jiwa, karena tempat tersebut terlalu rahasia untuk diketahui. Hanya orang orang tertentu saja yang bisa masuk ke sana. Sementara tawanan yang bermana Zaha itu tidak masuk hitungan. Jadi Arya menyuruh anak buahnya untuk membawanya ke tempat lain saja.


Setelah dia datang. Tawanan yang semula mengelak saat ditanya, akhirnya mau berterus terang. Apalagi saat Arya menekannya dengan aura kematian, hingga membuat tubuh Zaha menggigil ketakutan.

__ADS_1


Perbawa Arya benar benar luar biasa!


"Habisi orang itu. jangan biarkan auranya terdeteksi oleh Sura apalagi oleh Dasamuka. Setelah itu masukkan ke dalam kendi dan buang ke kawah candradimuka. Kembali sesudah itu!" ujar Arya memberi arahan pada anak buahnya. Lalu berbasa basi sebentar dengan Yun Wangsa dan putra putranya. Kemudian kembali ke dunia manusia.


Keesokan harinya.


Acara pembukaan perusahaan Arya pun resmi di buka. dipimpin oleh salah seorang petinggi terkemuka negara. yang membuat Arya terpaksa harus meminta izin untuk tidak bersekolah. Itupun setelah mendapat masukan dari Satya, dan sudah disetujui oleh kepala sekolah juga guru guru yang ada.


Mereka menganggap Arya tidak hadir pun tidak akan mempengaruhi nilainya. karena tingkat kecerdasan Arya sudah berada diluar nalar manusia. Pun saat ini Arya sudah ditetapkan oleh pemerintah menjadi duta pengusaha muda, yang baru satu satunya ada di Nusantara.


Di luaran sana, anak seusia Arya masih tenggelam dalam dunia game dan dunia khayal mereka. Sedangkan Arya sudah menjelma menjadi pengusaha saat usianya masih teramat muda, yaitu 17 tahun lebih sedikit. Itu yang membuat pemerintah merasa harus turun tangan, dan menetapkan Arya sebagai duta pengusaha muda, yang sukses merambah ke mancanegara.


Debut pertamanya adalah membuka rumah makan. Kemudian beralih menjadi restoran bersekala besar. Kedua menjadi ketua asosiasi perdagangan Nusantara juga dunia. Dan yang ketiga menjadi penyelamat banyak nyawa dengan ramuan obatnya. Perdagangan ikan dan batu berharga juga sudah dirambahnya. dan sekarang malah mendirikan perusahaan farmasi dan empat jenis perusahaan lainnya pula.


Sungguh Arya telah menjelma menjadi pemuda harapan bangsa. yang masa depannya sudah tidak perlu diragukan lagi.


Keesokan harinya.


"Luar biasa bos panutan kita itu! Dalam usia muda sudah menjadi pengusaha kaya raya!"


"Jika itu aku. berhenti sekolah sudah. dan nikmati kekayaan serta kesuksesan yang ada. Toh harta sudah melimpah ruah. buat apa lagi bersekolah?" ucap Pino disetujui oleh safrizal membicarakan tentang Arya.


"Apa yang kau katakan? Sekaya apapun kamu. kita harus tetap bersekolah. Mau tahu kenapa?" Respon Pramudya.


"Ya!"


"Karena aku juga tidak tahu jawabannya. Hahahaha!"


Plak!


Bugh!


"Ah! Kenapa kalian pukul aku? Salah aku apa?" reaksi Pramudya atau Badung penasaran.


"Dasar Badung. bisa-bisanya menasehati kita. Padahal dia saja tidak tahu."


"Hahahaha!"

__ADS_1


Reaksi teman temannya tertawa berbarengan. Mereka merasa lucu atas sikap Dadung itu. Tapi mereka terhibur juga.


"Kehadiran Arya telah menjadi motivasi buat kita semua." Ucap delapan orang itu berbarengan, karena memang disengaja oleh mereka.


__ADS_2