Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Diragukan kebenarannya.


__ADS_3

"Uh! Siapa yang memukulku? Sepertinya tadi ada orang? Apakah kalian melihatnya?" tanya ketua itu pada orang yang menolongnya. Sambil menyeka darah dengan menggunakan tisu di mulutnya.


"Kami tidak melihat siapa siapa ketua. Kami hanya melihat secara tiba tiba ketua berteriak, dan terjatuh ke lantai. Selain itu kami tidak melihat apa apa?" jawab anak buah apa adanya, yang diamini oleh sebagian petinggi negara tetangga.


"Aneh? Jelas jelas aku melihat puluhan orang yang tiba tiba muncul di depan ku, dan menampar ku tanpa aba aba?" protes ketua tersebut tidak terima.


"Tapi nyatanya memang begitu ketua! Tidak ada siapa siapa disini selain kita. Jadi ketua jangan mengada ada!" bantah bawahannya pula.


"Uh sial! Ternyata kalian tidak percaya sama aku ya? Padahal barusan aku melihat mereka. Kalian saja yang matanya buta!" balas Wang Herza. Ketua Dewan keamanan, merangkap ketua Perserikatan Bangsa Bangsa tidak suka. Kemudian mendengus terima. Sambil berjalan kembali ke kursinya.


Setelah bisa meredakan serta menenangkan hatinya. Herza pun kembali berkata." Untuk hari ini sidang lanjutan ditunda dulu!"


"Kebetulan saya sudah mendapatkan mandat dari pemimpin dunia. agar segera mengambil sikap tegas pada Nusa."


"Maka saya sebagai ketua, yang membawahi ratusan perutusan negara negara di dunia. Dengan ini mengeluarkan maklumat, bahwa Nusantara telah melanggar kesepakatan. dengan menembak jatuh pesawat yang terbang melintasi perairan internasional kita!"


"Karena telah terbukti pasukan mereka yang melakukannya. Maka dengan ini saya tetapkan. Nusantara harus dihukum, dengan mengganti rugi segala kerugian yang ditimbulkan oleh mereka!"


"Jika mereka menolak atau berdalih. Maka hukuman akan ditambah. serta dikucilkan dari pergaulan dunia!"


"Semua kepentingan mereka akan dibekukan. Termasuk aset aset mereka yang ada di luar negeri."


"Jadi mulai sekarang. Nusantara bukan lagi anggota kita. Tapi negara yang harus dikucilkan!" ujar Wang Herza, sesaat setelah bisa mengendalikan perasaannya.


Namun sebelum mengetuk palu ke bantalan yang ada di depannya. Tubuh Wang Herza terpental, dan menabrak meja peserta yang ada di depannya.


Kejadian itu tentu saja membuat ruang sidang menjadi heboh. Soalnya tanpa angin tanpa ribut. Seseorang terangkat tubuhnya, dan terpental begitu saja di depan mata mereka. Kalau bukan supranatural, apa lagi namanya?


"Ada seseorang yang sedang bermain main di ruang sidang ini nampaknya? Baik aku lihat dengan mata batin ku. Siapa tahu ketahuan siapa pelakunya?" Guman seorang praktisi tenaga dalam lirih pada temannya.


"Ya! Aku rasa juga begitu. Mari kita kerahkan kemampuan kita, untuk melihat siapa pelakunya?" jawab temannya sesama satu bangsa sangat jumawa.


Blar!


Bamm!


Bamm!


Belum juga selesai mengambil nafas serta mengatur posisinya. Tubuh mereka sudah beterbangan, dan dibanting ke meja ketua." Jangan coba coba!" terdengar sebuah peringatan keras ditelinga mereka berdua. Setelah itu pingsan tanpa daya.


"Angkat kembali tubuh manusia sombong itu, dan banting ke atas meja. Buat mulutnya diam, agar tidak lagi mengancam yang mulia!" ucap seseorang pada bawahannya.


Ya. Dia adalah Yang Cha, yang datang mengawasi mereka. Guna mengamankan peserta sidang, dari dipengaruhi oleh perwakilan negara Naga.

__ADS_1


Dia datang sejak sidang belum dimulai. Dan terus mengawasi Herza. Setelah diberi tahu oleh Arya, bahwa hari ini penentuan nasip Nusantara akan ditentukan.


Kepadanya Arya menugaskan, untuk meredam gejolak yang tidak diinginkan. Jika perlu dengan menggunakan metafisika. Itupun kalau Wang Herza sudah menyalahgunakan wewenangnya.


Baru saja dia memberi perintah. Anak buah Yang Cha sudah menghampiri Herza, dan mengangkat tubuhnya ke udara, serta melemparkannya begitu saja.


Kejadian yang ketiga itu tentu saja membuat peserta sidang menjadi terpana. Apalagi wakil ketuanya. Ditambah dengan dua orang yang barusan juga mengalami nasip serupa. Maka semakin kuat lah dugaan mereka, bahwa ada pihak yang tidak senang dengan tindakan dan kesewenangan Herza.


Hal itu semakin menyakinkan mereka, bahwa Nusantara tidak bisa dianggap remeh. Sangat banyak keajaiban yang terpampang di depan mata. Apalagi kalau bukan keajaiban dewa. Guman mereka tanpa daya juga.


Sungguh niscaya. Sebagian peserta sidang mempercayai itu. dan lambat laut ketua atau sekretaris Herza juga mengakuinya. Dia dibuat dilema.


"Jangan ikut campur urusan yang mulia! Kalau kau berani memprovokasi. Maka kami tidak akan segan segan menghancurkan mu!" ucap Yang Cha di telinga Herza.


Peletak!


"Argh!"


Tubuh Herza ambruk ke lantai. dan tidak sadarkan diri sesudahnya. Tidak ada yang tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Yang mereka tahu adalah kejadian itu sungguh nyata. Terjadi pula di depan mata mereka. Ajaib! Guman mereka.


***


Sementara itu di pulau Angsa. Aktifitas bakal pembangunan dermaga tetap saja berjalan. Tanpa memperdulikan keberatan pihak Naga, juga dua negara lainnya. yang baru baru ini ikut ikutan menentang rencana Arya.


Namun setelah terjadi aktifitas secara besar besaran, apalagi setelah delapan pulau lainnya ikut dibangun. Menjadikan mereka ketakutan, karena mereka menganggap itu sebuah ancaman.


"Salam yang mulia!" tiba tiba Yang Cha datang. Didampingi oleh sahabatnya Arga, menghadap pada tuannya.


"Oh kalian berdua? Ada yang ingin kalian sampaikan?" reaksi Arya.


"Ada yang mulia! Ketua Herza yang selalu memprovokasi anggotanya telah kami beri hukuman."


"Kepadanya kami tegaskan, agar tidak lagi memprovokasi yang mulia. Jika tidak, maka tanggung sendiri akibatnya." jawab Yang Cha apa adanya.


"Bagus!. Aku senang mendengar itu. Lanjutkan pengawasan!"


"Jangan biarkan pihak asing ikut campur pembangunan pulau Angsa. Sebab jika usaha ini terkendala, maka apa yang kita lakukan akan sia sia." respon Arya.


"Dimengerti yang mulia!" sambut Yang Cha.


"Ya! Sudah seharusnya! Sekarang pergilah ke pulau Permata. Dan kau paman Arga! Pergilah ke Angsa Dua. Awasi pembangunan disana! Karena aku merasakan sebentar lagi akan datang gangguan kesana." ucap Arya.


"Siap yang mulia! Kalau begitu kami undur diri." reaksi mereka. Kemudian masing masing terbang menuju anak buahnya, dan menghilang sesudahnya.

__ADS_1


***


Sementara itu ditempat lain. Atau tepatnya di negara Amaria. Seseorang yang sangat berkuasa di sana, sedang berdiskusi dengan patnernya. "Bagaimana? Apakah utusan yang kita kirim sudah sampai di ibu kota. dan menemui pemimpinnya.?" tanya seorang menteri luar negeri Amaria pada wakilnya.


"Untuk saat ini belum ketua! Karena pihak Nusa tidak mau duduk dalam satu meja. Pun menurut mereka, tidak ada yang perlu dibicarakan antar dua negara."


"Jika kita terus memaksa, maka pihak mereka tidak akan segan segan lagi untuk memburu kita."


"Oleh karena itu saya sarankan, agar tuan memanggil kembali utusan anda, jika tidak mau mereka kenapa napa." jawab wakilnya tidak berdaya.


"Kenapa begitu? Bukankah sudah jelas kedua pulau itu milik kita? Kenapa kita takut untuk kembali mengambilnya?" respon Angkara. Menteri luar negeri Amaria tidak suka.


"Masalahnya bukan terletak pada takut atau tidaknya tuan Kara. Sejarah negara kita mencatat. bahwa kejadian itu sudah cukup lama. yaitu saat sebelum terjadinya perang dunia kedua itu."


"Kedua pulau tersebut memang milik Nusa. dan itu sudah tidak bisa dibantah lagi. Jadi kehadiran kita, akan semakin menambah runyam masalah itu."


"Jadi saya sarankan, agar tuan menghentikan usaha tuan tersebut, karena Nusa sekarang bukan seperti Nusa yang dulu."


"Kekuatannya sudah sangat mengerikan. Puluhan kapal perang canggih saja. tidak mampu membuat mereka goyah. Ditambah dengan enam kapal induk, dan 105 pesawat tempur, dibuat hancur semua."


"Oleh karena itu segera tarik utusan anda, kalau tidak mau celaka." ucap Tanawat Rum pada atasannya.


"Huh! menyebalkan. Padahal kelompok kuat dunia ingin memiliki pulau itu. walau harus bertarung nyawa."


"Tapi belum apa apa sudah kalah duluan. Sungguh aku tidak terima!" Rutuk Angkara tidak suka. Lalu penuh dengan beban, menghubungi lima orang utusannya, untuk kembali ke Amaria.


***


Di pesisir pulau Angsa, yang saat itu tenang airnya. Sedang akan berlangsung pembangunan dermaga, yang diperkirakan bakal mencapai tiga hektar luasnya.


Di tempat itu di gadang gadang, bakal menjadi pusat pembangunan utama, sebelum merambah ke tempat lain.


Dimana ditempat itu, terlihat puluhan kapal besar pengangkut barang, sedang menurunkan muatannya ke bibir pantai, setelah memasang landasan besi serta lempengan besi tebal, untuk pendaratan alat alat berat, serta bahan bahan bangunan utama lainnya.


Proses pembongkaran itu, diawasi langsung oleh Dave tua, yang didampingi oleh Satya serta sembilan orang lainnya. Tapi tanpa mereka sadari. Ribuan anak buah Arya, juga membantu pekerjaan berat itu, dengan membuat ringan semua peralatan yang ada. Hingga hanya dalam tiga jam. Semua pekerjaan pembongkaran berat tersebut sudah selesai semuanya. dan tinggal membangunnya saja.


"Aku kira, pembongkaran bahan material pembangunan dermaga bakal memakan waktu tiga hari?"


"Tidak disangka, hanya dalam tiga jam, pekerjaan berat tersebut sudah siap semua."


"Kalau begini caranya. Lebih baik aku minta pak Satya dan master Prana, untuk menurunkan timnya, guna melakukan pemancangan tiang utama walau hanya tiga."


"Aku khawatir kalau tuan muda datang. belum dilakukan apa apa." batin Dave tua, saat melihat bagiannya sudah selesai semua.

__ADS_1


"Benar yang senior katakan. Saya juga setuju dengan ide itu. Jadi lakukan saja!" ucap seseorang yang tiba tiba datang mengagetkan Dave tua.


__ADS_2