Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Terkuak suatu kebeneran


__ADS_3

"Dasar manusia hina! Beraninya menggangu semedi ku. Tak tahukah kalian, kalau pulau ini berada di atas ku?" umpat sesosok makhluk sangat menyeramkan dengan ekspresi tidak senang.


"Sabar Medusa! Tak lama lagi masa hukuman kita akan berakhir. Saat itulah kita bisa membuat perhitungan dengan mereka!" terdengar seseorang memberi nasehat pada sahabatnya.


"Kau sih enak Meduza. Tubuh kecilmu hanya diikat oleh rantai neraka. Sedangkan aku ditimpa pulau besar. Diikat rantai lagi. Untuk bergerak saja susah! Apalagi melawan?" protes makhluk yang bernama Medusa itu tidak berdaya.


"Dasar kurang ajar si Athena itu! Bisa bisanya menghukum kita dengan cara seperti ini. Padahal Medusa dua hanya dibuang ke Angkasa! Sesudah itu mati pula!"


"Ini semau gara gara Medusa pertama kakak mu itu. Gara gara dia kita berlima terkena getahnya!" sambung Meduza, saudara sepupu dari lima bersaudara.


"Ya kau benar! Beruntung saat ini dia juga sedang menjalani hukuman. Tapi sebentar lagi kita yang masih tersisa akan bebas semua!" jawab Medusa tiga pada saudaranya.


"Tapi apakah perbuatan mereka yang membuat bangunan diatas pulau ini tidak membuat mu merasa kesakitan?" tanya Meduza tiba tiba.


"Kau lihat sendiri. Paku besar yang mereka masukkan ke lubang pembuangan udara kita, telah merusak struktur kulit ku. karena udaranya tidak bisa kemana mana."


"Ditambah dengan aktifitas di atasnya. telah menyumbat lubang udara yang memang dibuat untuk kita."


"Semua dataran rendah. Paya juga tempat tempat yang biasanya kita gunakan untuk mengambil udara, telah ditutup semua oleh mereka."


"Akibat dari semua itu, membuat tubuh ku tidak tahan, dan akhirnya terpaksa bergerak pagi tadi."


"Namun tidak kusangka. Dampak yang ditimbulkan bisa begitu besar, dan hampir membuat rantai neraka mengikat tubuh ku kembali. Sama seperti mu."


"Jika tidak ada rantai itu. Kemungkinan besar pulau ini akan hancur. Huh! Gara gara rantai Itu. Kesaktian ku jadi hilang. dan akhirnya terkurung disini!" kenang Medusa tiga, mengenang awal dia bisa ditaklukkan oleh seseorang pada jaman dulu.


"Tidak apa! 26 hari lagi kita akan. bebas dan bisa membalas dendam pada raja itu!" ucap Meduza membesarkan hati saudaranya.


"Ya kau benar! Aku juga sudah tidak sabar untuk naik ke permukaan, agar bisa secepatnya membalas dendam padanya!" setuju Medusa atas pendapat dari Meduza, saudara sepupunya itu. Lalu diam.dan seperti sedang mengumpulkan kekuatan.


Sementara itu di atas sana, Arya masih tetap memperhatikan apa yang ada di bawah pulau tersebut. Aura kesadarannya merasakan, bahwa tidak lama lagi makhluk yang sedang dipandanginya tersebut akan keluar, dan bisa mengancam nyawa manusia.


"Aku harus menemui eyang leluhur. Siapa tahu dia bisa menjelaskan peristiwa aneh ini?" Guman lirih Arya pada diri sendiri.


Kemudian mengalihkan pandangannya pada Prana, lalu berkata."Untuk sementara, hentikan dulu aktifitas pemancangan tiang dermaga. Fokuskan pada pembangunan infrastruktur di atas sana!" ujarnya.


"Baik tuan muda!"jawab Prana, tanpa berani bertanya pada tuannya.


"Akhirnya kau sadar juga bocah lemah! Aku kira kau terus terlena dengan kekuatan mu yang cuma seupil itu!"

__ADS_1


"Jika terus begini. alamat pulau yang ingin kau bangun itu akan hancur semua." batin Suta yang terus mengawasi Arya. walau hanya dalam bentuk Avatar nya saja.


***


Tiga hari kemudian, atau tepatnya H- 23. Arya sudah dua kali memasuki ruang jiwanya, dan sudah dua kali pula dia bertanya pada Wangsa. Namun sampai saat ini. usahanya belum berhasil juga.


Wangsa Baladewa. Belum mau berterus terang dan mengatakan, bahwa dirinya dulu adalah abdi yang mulia Prabu Ditya. Seorang raja digdaya pada masanya. dan baru baru ini telah bertemu dengannya.


Tapi hari ini. Dia terpaksa mengatakan cerita yang sesungguhnya pada Arya." Sebenarnya. Eyang dulunya adalah seorang abdi setia dari seorang raja tanah Java. yang sakti mandraguna."


"Waktu itu eyang diserahi tugas sebagai panglima kerajaan, yang membawahi jutaan prajurit yang juga sakti sakti."


"Berkat kesetiaan serta dedikasi eyang padanya. Raja tersebut menganugerahi eyang sejenis ilmu tingkat tinggi. yang bisa membuka ruang dan waktu serta wilayah yang cukup luas."


"Atas perintahnya. Eyang diwajibkan membuka lahan itu, dan mendirikan kerajaan disana."


"Bawahan eyang, masih keluarga. yang juga berpangkat Senopati, dan sudah bersumpah setia pada eyang. juga ikut pindah ke sana."


"Lambat laut tempat itu pun berkembang, dan menjelma menjadi kerajaan yang cukup besar. Tapi masih dibawah yuridiksi kerajaan Prabu Ditya. junjungan eyang itu."


"Setiap tahun eyang mengunjungi nya, dengan membawa upeti atau pajak untuk kerajaan. dan itu sudah berlangsung selama bertahun tahun. Namun tidak menjadi masalah buat eyang."


"Tapi mereka semua masih satu keturunan. dan eyang sebagai leluhurnya."


"Tahun silih berganti kembali dan jaman pun telah berubah. Pemerintahan juga ikut berubah. Itu gara gara datangnya bangsa asing, yang mencoba menguasai beberapa wilayah kerajaan yang mulia."


"Beruntung itu semua telah berakhir, dan menyisakan wilayah yang begitu luas.Tapi situasinya sudah berubah pula."


"Masing masing orang, ingin mengungguli yang lain. Dengan membentuk kerajaan kerajaan kecil, tapi kekuasaannya begitu luas, seperti negara yang kau tempati ini."


"Salah satu yang telah berhasil menaklukkan wilayah ini adalah keturunan yang mulia Ditya Prabu. Dibawah pimpinan raja Draco. yang bergelar" Dragon Sang Naga Dunia."


"Dibawah kepemimpinannya, telah berhasil menyatukan beberapa negara dengan kekuatan ekonomi nya."


"Setelah dia menyatakan mundur, dan bekerja dari tempat lain. Tampuk pimpinan kerajaan dipegang oleh anaknya, yang bernama pangeran Sutawijaya, atau pangeran Suta."


"Kesaktiannya jangan ditanya lagi. Apalagi ayahnya. Dia sudah merupakan legenda dan sudah tidak mempunyai lawan lagi."


"Eyang mengetahui ini, karena saat Ditya Prabu mengunjungi eyang. Disaat itulah dia mengatakan tentang keturunannya, termasuk pangeran Suta."

__ADS_1


"Melaluinya dia Suta berpesan, agar kita semua membantunya dalam memerangi kekacauan yang sebentar lagi akan terjadi."


"Kebetulan kekacauan itu akan bermula dari tempat yang kau beli. Atau tepatnya Pulau Permata. Karena di sana, ada makhluk mitologi kuno, yang sempat dikalahkan oleh ratunya dulu, dan dikalahkan pula oleh yang mulia Prabu Ditya."


"Makhluk itu adalah Medusa tiga. Ular yang digambarkan berkepala manusia, akibat dikutuk oleh Athena."


"Salah satu dari perwujudan ular itu, telah dibunuh oleh yang mulia Draco. Puluhan tahun lalu. Sedangkan yang akan kau hadapi itu adalah kembarannya. Yaitu Medusa tiga, dan seorang sepupu nya, Meduza."


"Oleh karena itu bersiaplah! Karena menurut informasi dari pangeran Suta. Ular itu akan muncul dalam masa dekat ini. Atau tepatnya sekitar 23 hari lagi waktu dunia. dan saat itu terjadi. Pulau permata yang ingin kau bangun, kemungkinan akan hancur tidak tersisa."


"Jika itu terjadi. Maka apa yang kau lakukan akan sia sia." ujar Wangsa.


Arya langsung terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Karena dia tidak menyangka, kalau leluhur yang sangat ia banggakan, dulunya adalah seorang abdi setia dari seorang raja, yang statusnya jauh lebih tinggi dari status leluhurnya.


Padahal dia seorang raja juga. Namun ternyata raja bawahan. Jadi apa yang harus Arya lakukan? Tidak ada. Selain diam.


"Apakah pangeran yang eyang katakan itu orangnya ada. atau bisa aku temui sekarang?" tiba tiba Arya bertanya demikian.


"Belum waktunya cucuku. Karena saat ini dia sedang berada di dunia jiwa. yang kita pun tidak akan bisa masuk kesana." jawab Wangsa.


"Kenapa begitu eyang? Apakah tempat itu terlarang atau hanya keturunan mereka yang bisa memasukinya?" tanya Arya.


"Tidak juga! Sebenarnya kita pun bisa masuk kesana. Tapi kesaktian kita belum mencukupi untuk melawan kekuatan dari mereka."


"Jika kita nekat melawan. maka tubuh kita akan hancur dengan sendirinya." jawab Wangsa tidak berdaya.


"Apakah dunia itu seperti dunia milik kita eyang?" tanya Arya.


"Jauh sekali! Dunia jiwa yang eyang miliki dan sekarang telah menjadi milik mu itu hanya setitik saja dari dunia jiwa milik prabu Ditya."


"Tingkat penekanan auranya, sudah mencapai alam penguasa. Tidak ada satu makhluk fana pun yang mampu memasukinya, kecuali yang ada hubungan darah dengan pemiliknya."


"Pada masanya dulu. Eyang saja tidak berani memasuki tempat itu, walau di ajak oleh yang mulia prabu. Karena takut dengan kekuatannya hingga sampai sekarang."


"Jika kau ingin bertemu dengan pangeran itu. maka tunggu saat kau merasa tekanannya."


"Namun jangan salah sangka. Sebenarnya dia sedang melatih mu.dengan memberikan tekanan, yang tertuju hanya padamu. Tujuannya cuma satu. agar saat menghadapi Medusa tiga dan saudaranya itu. kau tidak merasa tertekan oleh auranya."


"Jadi manfaatkan kesempatan, saat pangeran itu datang." jawab Wangsa.

__ADS_1


"Tidak kusangka. Kesaktian ku yang sudah begini tinggi. Bahkan mampu mengalahkan Rahwana juga Ziangga. Masih dianggap kecil oleh mereka. Sebenarnya seberapa tinggi kekuatannya?" batin Arya.


__ADS_2