
Kesibukan juga terjadi di perusahaan berlabel kecantikan itu, beberapa orang berlalu lalang dengan dokumen atau sampel ditangan mereka.
Di sebuah pintu bertuliskan ruangan CEO, terlihat baru saja pria muda keluar dari ruangan itu. Vander yang sibuk menandatangani dikejutkan dengan dering ponselnya yang membuat ia tanpa melihat nomor si penelpon langsung menjawab.
"Halo?" Suara dan ekspresi yang tadinya biasa saja berubah menjadi khawatir, bahkan kursi kebesarannya juga ikut kena imbas dengan tergelatak tak berdaya.
"Aku segera kesana!" Meninggalkan apapun yang ada di dalam sana, hanya bermodalkan ponsel dan dompetnya yang berisi kunci kereta mahalnya. Vander tak peduli dengan tatapan bawahannya yang melihat dirinya pergi ke luar dengan raut kekhawatiran.
"Pak...."
"Aku ada urusan penting! Urus sementara!" Sambil teriak dan berlari, Vander melangkah menjauh meninggalkan perusahaan nya.
Tak peduli dengan kecepatan yang ditancap nya, yang jelas Vander harus segera sampai. Dan benar saja, jalanan yang masih normal karena belum pulang kantor atau aktivitas lainnya membuat Vander datang dalam waktu 15 menit saja.
Baru saja pintu mobilnya terbuka, Vander segera masuk ke dalam bangunan berlabel tanda tambah merah itu. "Pasien atas nama Yana!" Resepsionis yang cukup kaget dengan sosok dihadapannya langsung menepisnya karena tidak ingin hilang keprofesionalan dirinya dalam bekerja.
__ADS_1
"Di ruangan anggrek no 1." Vander kembali melangkahkan kakinya dan di depan ruangan itu terlihat bawahan istrinya yang menunduk.
"Pak....."
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa, hah? Kalian aku tugaskan bukan?" Sedikit kesal, Vander mencerca keduanya.
"Maaf pak, kami...." Belum selesai mereka menyampaikan ucapan mereka, pintu itu sudah terbuka dan menampilkan sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" Tanya Vanriel secepat mungkin.
"Jangan khawatir tuan, istri anda pingsan karena belum makan dan juga stress. Karena itu, sebaiknya jangan ulangi lagi. Karena jika tidak, maka akan berdampak pada kehamilannya." Vander yang tadinya mendengar dengan persentase lima puluh sekarang tiba-tiba menjadi seratus membuat telinganya begitu tegak.
"Iya tuan, selamat istri anda tengah hamil saat ini."
Di kediaman orang tua Vander....
__ADS_1
"Ma, bagaimana jika belum ada kabar juga setahun ini?" Tanya seorang wanita berambut sebahu yang tengah menggendong anaknya sambil duduk di sebelah sosok yang dipanggilnya Mama itu.
"Tentu saja menikahkannya kakak mu lagi. Apalagi? Mama tidak bisa menunggu terlalu lama Vania. Mama sangat lelah, sudah lima tahun, tapi belum juga terlihat apapun."
"Apa Kakak ipar setuju ma?" Tanyanya memastikan karena perkara ini bukanlah hal yang kecil.
"Dia mendengar nya sendiri, yang penting Kakak mu setuju. Mama memegang janjinya, kalaupun menikah lagi, Yana akan tetap istri Kakak mu. Jujur saja Mama tidak membencinya, tapi mama hanya ingin mendapatkan cucu, apa itu salah?" Makanan yang tadinya ia santap dengan penuh semangat menjadi memudar sambil menatap cucu kecil perempuannya.
"Tapi ma, mungkin saja ada masalah pada..." Vania tidak melanjutkan ucapannya melihat manik mata mama nya.
"Iya masalah, dan mungkin di Kaka iparmu. Keturunan keluarga kita tidak ada yang bermasalah, karena itu Mama sangat yakin putraku sangat sehat."
Jujur saja, Vania merasa kasihan karena Yana kakak iparnya terus disudutkan di keluarga nya tanpa atau diketahui oleh Yana sendiri. "Sini berikan pada Mama." Vania memberikan anaknya untuk digendong Oma nya.
"Semoga saja, ada berita baik segera." Harap nya dengan tulus sambil menatap Mama nya yang asyik dengan putrinya.
__ADS_1
Bersambung........
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.