Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Penantian


__ADS_3

Jika bagi orang lain bulan baru adalah hal yang paling menyenangkan karena mendapatkan uang hasil kerja keras mereka. Beda jauh dari Yana, bukan uang yang ia khawatirkan melainkan tamu bulanan yang ia khawatirkan.


"Bagaimana ini? Apa berhasil?" Beberapa kali Yana bolak-balik karena gelisah, jika dalam beberapa hari lagi tamu itu datang ,maka malapetaka bagi Yana. Menunggu bulan baru, Yana sangat gelisah karena jika ia mengalami menstruasi maka semuanya gagal. Dengan doa dan terus berdoa, Yana berharap semuanya terwujud sesuai keinginannya.


"Honey, aku ke perusahaan dulu ya." Setelah membantu merapikan dasi suaminya, Vander segera berangkat.


"Iya, dan ini makan siangnya, udang asam manis serta sayur sop kesukaan mu. Dan,aku akan ke kantor juga nanti." Ujar Yana sambil memberikan ciuman seperti biasanya dan disambut Vander tentunya.


"Baiklah, dan ingat! Honey ku ini jangan lupa makan juga, atau kalau tidak..." Vander mengerlingkan matanya membuat Yana mencubit perut kotak itu.


"Ashh, jangan mulai honey. Atau kita sama-sama tidak akan ada yang ke kantor."


"Pergilah segera! Atau aku akan mengurung mu!" Yana mendorong manja tubuh kekar itu hingga menghilang dari pandangan nya.


Setelah kepergian suaminya, Yana bersemedi dalam kamar mandi untuk menunggu kedatangan cairan merah bulanannya. Sungguh seperti menunggu dorprize Yana tak bergerak dari tempatnya, hingga hampir makan siang tak kunjung selesai juga.


"Astaga! Aku lupa!" Yana

__ADS_1


Bergegas bersiap untuk pergi ke kantor.


Hari ini hari yang menjadi sibuk bagi Yana karena tumpukan dokumen serta kerjasama yang akan dilakukan pertemuan membuat Yana tidak bergerak dari kursinya.


"Aduh! Pegal sekali."


Yana berulang kali membolak-balikkan dokumen yang tidak berkesudahan itu. Tapi rasa tubuh yang begitu mendera karena lelah, Yana mencoba tidur sejenak bergegas menuju sofa di ruangannya.


Di luar ....


"Kau belum meyampaikan pada bos untuk makan? Ini sudah lewat waktunya." Sepertinya antara dua orang wanita berprofesi sekretaris tengah beradu bibir karena belum mengatakan untuk makan siang pada Yana.


"Ya, itu memang hal yang seharusnya untuk dilakukan." Tampak ia mengambil lipstik nya untuk memperbaiki riasannya sambil menunggu pesanan bos nya.


Ketika asyik memoles bibir merah nya, seorang pria dengan sapu lewat dan menyingung nya membuat jalur yang sudah benar itu menjadi tersesat. "Aghh! Kau!"


"Bibir mu itu sudah merah, apa masih kurang? Kalau begitu pake cabai saja." Ujar pria itu dengan kekehan, membuat manik wanita itu mendelik.

__ADS_1


"Kalau begitu kau ingin tangan mu menjadi sapu?"


"Astaga, garang sekali!" Ditengah perdebatan itu, keduanya terkejut dengan teriakan dari dalam ruangan bos mereka.


"Bu Yana!" Teriaknya membuat teman satunya segera masuk dan ikut panik.


...🌟🌟🌟🌟🌟🌟...


Ruangan dengan berhias minuman mewah serta kepulan asap membuat sosok pria dengan setelan hitamnya masuk dengan perlahan. "Tuan, aku membawa permintaan Tuan." Dia menunduk dengan meletakan dokumen di meja yang diduduki tuan nya.


Kepulan asap tampak menutupi wajah tampan dengan bulu tipis yang menghiasi rahang tegas itu. Bibirnya masih tersumbat dengan rokok mahal nya. "Bagus, letakkan disini. " Satu tangannya tetap menyentuh rokok miliknya dan satunya mulai membuka apa yang tersaji di meja bundar itu.


"Bagus, bagus sekali! Tidak salah aku mengutus mu melakukan ini." Mendengar pujian yang terlontar untuk nya membuat pria berkulit sawo matang itu tersenyum tipis.


"Terimakasih tuan, lalu.... sekarang apa lagi tuan?" Tanyanya.


"Apalagi... Kita menanti kedatangan bibit ku." Bibir tebal miliknya langsung melengkung sambil mengusap wajah yang tersenyum indah di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2