Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Memulai Serangan


__ADS_3

Vander membawa Xavier bukan di kediaman keluarga nya, melainkan sebuah vila yang telah dihinggapi dirinya bersama Mia, wanita yang menjadi kekasih nya saat ini.


"Dia sudah menangis hampir semalaman, apa dia sakit?" Mia turut menggendong Xavier yang meskipun membuat tangannya pegal-pegal.


"Tidak, dia baik-baik saja. Mungkin haus..... Mana susunya!" Vander berteriak kepada baby sitter yang menjaga Xavier.


"Ini tuan, hanya ini persediaan untuk tuan kecil." Ujarnya sambil menyerahkan susu itu segera kepada Xavier.


Tapi sayangnya Xavier tampak menolak dan kembali menangis membuat keadaan menjadi kacau. "Dia tidak mau.... Aku merasa pegal Vander. Sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit."


"Sini berikan padaku! Sayang.... Ini Papa, jangan menangis kau haus Xavier? Ini minumlah..." Vander menimang putranya sambil mencoba memberikan susu itu agar Xavier tenang.


Tangisan Xavier terasa kencang dan membuat Vander meletakkan nya di ranjang, dia membuka bawahan putranya untuk melihat apakah itu menjadi sumber masalah nya atau tidak. "Dia tidak buang air. Lalu kenapa kau terus menangis sayang?"


"Tuan.... Mungkin tuan kecil ingin menyusu dengan Nyonya." Dengan rasa takut, wanita itu mengatakannya dan membuat Mia menjadi tidak suka.


'Vander tidak boleh terpengaruh!'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pergerakan tangan itu akhirnya membuat manik itu ikut terbuka. Belum terlihat sempurna tapi ia terus mengedipkan matanya berulang kali hingga semuanya tampak jelas. "Xavier....." Bibirnya mengucapkan nama itu.


Dengan segera ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, tubuhnya yang masih membutuhkan istirahat tidak ia pedulikan. "Putraku Xavier." Yana langsung berdiri dan melepaskan infus yang terpasang di tangannya.


Tak peduli rasa sakit dan lemah, Yana keluar dari ruangan tempat dia dirawat dan Karen jam yang masih begitu pagi membuat dirinya leluasa. Tak lupa ia mengambil sebuah jas yang terdapat di sana yang tidak ia pedulikan untuk menutupi seragam pasien nya.


Yana langsung keluar tanpa kecurigaan, ia mencari taksi untuk mengantarkannya pulang menuju putranya. ASI-nya yang seharusnya sudah diberikan pada putranya tentu melimpah ruah di dalam tubuh membuat dirinya teringat akan Xavier yang menyusu pada nya. "Tolong cepat." Lirihnya sambil memegangi kepala dan kaki nya yang terasa kurang baik.


"Aku tidak akan membiarkan putraku bersama mereka."


"Anda terlihat kurang sehat Bu, saya punya sedikit roti dan juga air." Terlihat orang baik dan Yana menerimanya karena tubuh butuh energi.


"Terimakasih." Ujar Yana pelan, dengan lahap Yana memakannya karena perutnya terasa kosong dan bibirnya terasa pucat tidak disapa air.


Tak lama taksi itu berhenti di depan rumah nya dan sambil membuka pintu, Yana merogoh apapun yang ada di jas itu dan menemukan selembar uang untuk ongkos taksi.


"Ini, terimakasih!"


"Mau saya bantu Bu? Anda terlihat tidak baik."


"Tidak, aku bisa sendiri." Yana memasuki gerbang rumahnya yang terlihat tidak ada penjagaan seperti biasanya, bahkan Mamang yang biasanya bertugas juga tidak terlihat.


"Kenapa terasa sepi? Apa jangan-jangan... Xavier!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Maaf Tuan, saya teledor. Saya tidak tau Nyonya sadar lebih cepat." Dengan merunduk, ia menunggu keputusan Max yang tampak tidak suka dengan apa yang dilihatnya.


"Kau tau harus kemana kan? Aku rasa kau ingat dengan baik!"


"Tentu tuan, silahkan." Keduanya kembali keluar menuju mobil yang akan membawa mereka ke tempat yang mereka tuju.


"Tuan....."


Pintu besar itu sudah terbuka dan baru saja memasuki, Max sudah mendengar jeritan dan tangisan yang dikenalinya. Ketika ia tiba, ia melihat Yana dengan keadaan buruk dan wajah yang penuh air mata.

__ADS_1


"Mereka membawa putraku! Mereka membawa nya! Ini semua salahmu! Bawa kembali putraku! Dia pasti kehausan... Bawa putraku." Max membiarkan Yana memukuli nya karena pukulan itu tidak berdampak apapun pada dirinya.


Hingga perlahan, tidak terdengar lagi suara dan juga pukulan di dada nya. "Pingsan lagi." Dengan tatapan datar, Max menatap wajah Yana yang sungguh memprihatinkan.


Diluar bawahan Max membuka pintu mobil segera karena tuannya datang mengendong tubuh yang mereka cari. "Minta dokter kepercayaan ku untuk mengurus dirinya, dia tidak bisa di rumah sakit lagi. Dia sangat menyusahkan!"


"Baik tuan."


Max tidak terlihat berekspresi apapun, hanya saja tangan nya merasakan sesuatu yang basah serta matanya langsung tertuju kepada sumber air itu. "Dimana keberadaan putraku?"


"Tuan, dia dibawa di sebuah vila yang cukup jauh ya terletak di kota N, sepertinya ia sudah merencanakan ini selama perpisahan yang tengah diurus, bukan hanya itu ibunya juga turut andil. Dan......"


"Apa?"


"Berita yang baru tiba mengatakan bahwa bayi Xavier sedang ditangani oleh dokter."


"Beraninya dia berpikir bahwa itu adalah hak nya. Kapan keluarga itu akan berkumpul? Mungkin lebih cepat akan semakin baik."


"Ada perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya, tuan."


"Perayaan ya?"


"Apa itu tidak akan membuang waktu untuk bayi Xavier Tuan?"


"Dia putraku, dan tentunya kuat. Hanya tiga hari, dan aku jamin Vander tidak akan membiarkan terjadi apapun padanya."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sesuai arahan dari Max, Yana berada di kediamannya dan dirawat dengan baik. Kondisi wanita itu tampaknya lebih buruk dari sebelumnya.


"Sudah tuan, dan saya merasa kagum dengan pria bernama Vander itu tidak memberikan alasan baik karena ketidakhadiran istrinya nyonya Yana dan membawa simpanan nya kesana bersama putra anda."


Max tidak berkata apapun, dia tampaknya menikmati angin malam yang menyapa dirinya dan juga membayangkan kerusakan yang terjadi dengan kedatangan nya. "Aku kembali."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kemeriahan begitu terlihat jelas di dalam kediaman megah itu. Max melihat kebahagiaan yang bersarang di setiap orang disana.


Sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya, dia berjalan dengan baik yang membuat pesonanya terlihat. "Terimakasih atas kehadirannya tuan Max." Vander menyambut kedatangan Max dengan senyum merekahnya.


"Kau terlihat tampan tuan Vander, dan dimana istrimu? Biasanya kalian seperti prangko."


"Mertua ku tengah sakit, jadi istriku kesana."


"Aku turut sedih, dan putra kalian?"


"Dia bersamaku, udara dan penerbangan belum bisa untuknya."


"Aku mengerti."


"Itu kedua orang tua ku, kau belum bertemu dengan nya. Ayo...."


"Pa, Ma. Ini Tuan Max, rekan bisnis ku." Jika Mama Vander terlihat senang, maka tidak dengan Papa Vander yang terlihat berbeda bahkan menatap dengan lekat pria ini dihadapannya.


"Max, selamat atas pernikahan kalian hingga sekarang. Pastinya kalian memiliki anak-anak yang manis."

__ADS_1


"Ya, dan mereka sudah besar, serta memberikan cucu yang manis." Wanita dengan dandanan glamor itu menatap ke arah cucunya, tapi bayi laki-laki itu tampak menangis dengan kencang membuat semuanya menatap kearah tangisan.


Baik Vander dan yang lainnya terlihat menenangkan Xavier, tapi tidak berhasil bahkan membuat Xavier semakin kencang. "Hubungi Yana, ini tidak bisa berlanjut." Ujar Papanya menenangkan cucu nya.


"Dia bilang akan pulang beberapa hari lagi."


"Kau yakin? Xavier sedang tidak baik." Mendengar dan melihat tangisan bat tampan itu membuat Max mengambil nya dan tampak Papa Vander sedikit kaget dan memberikan nya.


"Hai tampan yang kuat, ada apa hmm? Jangan menangis..." Dan tak lama Xavier langsung diam dan membuat semuanya kebingungan.


"Dia langsung diam?"


"Mungkin dia ingin tidur." Ketika Vander berniat mengambil Xavier, bayi itu kembali menangis.


"Mungkin dia ingin bersama tuan Max, dia terlihat nyaman. Tidak apa, tuan Max bisa membawa Xavier kamarnya kan?"


"Dengan senang hati." Dipandu oleh baby sitter, Max menjauh dari kerumunan.


Entah mengapa Vander merasa tidak tenang, dia mengikuti Max menuju kamar putranya dan ketika dia sampai Xavier terlihat tertidur.


"Dimana Tuan Max?" Vander menuju arah ruangan keluarga nya dan disana ia melihat Max sibuk menatap pigura keluarganya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Hanya melihat keluarga yang bahagia."


"Terimakasih karena sudah menidurkan putraku."


"Sangat aneh bukan? Bagaimana mungkin seorang Ayah sendiri tidak bisa mendiamkan putranya? Apa ada begitu?"


"Dia sedang tidak sehat, tentu saja ada. Kenapa bicara begitu?"


"Tidak ada, aku hanya bingung. Ditambah ibunya tidak ada."


"Kau sepertinya terlihat tertarik dengan keluarga ku? Ada apa tuan Max?"


"Bagaimana menurut mu, jika seseorang pria menyayangi dan membesarkan putranya...."


"Itu sudah seharusnya." Jawab Vander dengan cepat.


"Aku belum selesai, maksudku.... Putra orang lain."


"Apa maksud mu?"


"Putra yang kau sebut putramu adalah putraku, tuan Vander. Foto dan video yang kau dapatkan, pria itu adalah aku...." Vander yang menjadi naik pitam langsung melayangkan pukulannya.


"Ban9sat!"


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya teman author. Ceritanya seru loh !


__ADS_1


__ADS_2