
Meninggalkan Xavier yang terlelap bersama kepercayaan di rumah, Yana segera meluncur ke tujuan yang tertulis di ponselnya. Ingin rasanya mengabaikan, tapi terlihat begitu meyakinkan itulah yang membuat Yana melajukan mobilnya yang telah cukup lama tidak ia kendarai.
Jalanan yang turut mendukung membuat perjalanan Yana lebih cepat. Sambil melajukan mobilnya ia menghubungi nomor suaminya, tapi tidak ada jawaban bahkan tidak aktif.
Tangan Yana memutar stir dengan cepat dan mendarat di tempat yang bertuliskan parkir. Segera dirinya keluar dan melangkah dengan kaki seribu nya memasuki gedung bernuansa mewah itu.
Terlihat ada pembuka pintu yang menyambut nya tapi bukan itu yang terpenting, matanya menuju wanita yang bertugas sebagai resepsionis. Dengan menunjukkan kekuasaannya, wanita itu memberikan informasi yang Yana inginkan.
"Jangan khawatir apapun yang terjadi tidak akan mempengaruhi pekerjaan mu atau tempat mu bekerja." Setelah mendengar jawaban yang ia inginkan, Yana menaiki lift dan memencet tombol itu hingga berada di lorong yang dihiasi banyak kamar.
Menggunakan akal sehatnya, Yana berjalan menuju seorang petugas layanan kamar dan menggunakan perabotannya, dengan santainya ia berhasil menuju kamar yang menjadi tujuannya.
Bel ia tekan dan tak lama seorang wanita keluar dengan menggunakan bathrobe saja yang terlihat asal-asalan. "Ah, tepat sekali. Layanan kamar, ayo segera bersihkan itu!" Tunjuknya tanpa rasa hormat yang menggunakan perintah seperti biasanya.
Yana yang menggunakan topi membuat wajahnya tidak terlihat dan dengan hati yang berdebar ia berharap semuanya palsu semata. Manik Yana berkerja sambil berpura-pura sebagai tugas barunya, wanita menggunakan bathrobe itu langsung lurus menuju kamar yang berhunikan ranjang dan terlihat memeluk seseorang yang berada disana.
"Untung saja ada layanan kamar, aku tidak suka dengan kekacauan ini sayang." Ucapnya dengan manja.
__ADS_1
"Kau yang membuat nya, hmmm."
"Bukan, tapi kita." Telinga Yana tidak salah dengar, ia tau suara itu.
"Baiklah kita. Aku tidak sabar melanjutkan sesi berikutnya."
"Ok, bagaimana dengan panggilan itu? Apa masih berbunyi?"
"Tidak, aku mematikan nya. Itu hanya membuat aku sakit kepala dan kesal. Lagipula putraku sudah tidur, sisanya tidak penting, hanya kau yang terpenting." Jawaban itu membuat senyuman terkembang di wajah cantik itu tapi tidak dengan Yana ia menjatuhkan kain pel nya dan membuat keduanya terganggu.
"Biarkan saja, lanjutkan yang tadi. Bagaimana selanjutnya? Aku tidak mau seperti ini terus Vander."
"Bersabarlah Mia, tidak semudah itu. Kau tau benar bagaimana nya dan terutama mengenai putraku. Dia masih kecil dan masih bergantung setidaknya tunggu beberapa bulan lagi, aku perlu mengatakan juga pada keluarga ku, tidak semudah itu."
"Janji?"
"Ya, sekarang kita lanjutkan yang tertunda. Aku merasa jijik dengan nya."
__ADS_1
"Kenapa? Kalian terkenal dengan pasangan yang serasi? Aku tau itu tidak bohong." Jari nakal itu berjalan dari dada Vander dan menuju kebawah.
Yana menajamkan pendengarannya tapi sayang.... "Keluar saja! Kami tidak membutuhkan mu lagi!"
"Hei! Kau tuli? Atau mau dibuat laporan? Cepat!" Yana tidak ingin identitas nya terbongkar, ia perlu tau alasannya dan juga hal yang lain. Karena itu Yana segera pergi dari sana dan sudah menduga apa yang akan terjadi didalam sana.
Air mata Yana tidak bisa diajak kompromi lagi, sambil melepaskan topinya ia luruh dalam kesakitannya. Cinta yang biasanya Vander tunjukkan, kesetiannya yang dulu ia lihat semuanya berubah dalam sekejap.
"Aku sudah tau yang terjadi nyonya, tapi apapun itu... Jangan lemah, kita punya harga diri. Jika masih layak dipertahankan maka buatlah penggoda itu pergi nyonya. Tapi jika tidak, nyonya lebih baik pergi meninggalkan hal yang tidak pantas dipertahankan." Wanita yang Yana mainkan perannya tentu saja sudah hafal dengan apa yang terjadi di tempat bernama hotel ini.
Sambil merogoh sakunya, Yana mendapatkan panggilan dari rumah yang mengabarkan Xavier menangis tanpa alasan yang jelas. Dan tentunya membuat Yana berlalu dari sana dengan wajah yang basah, manik Yana menatap tajam hotel itu.
"Vander...."
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1