Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Bencana mulai datang


__ADS_3

Pintu itu kembali tertutup rapat, bukan diisi oleh satu orang tapi dua orang yang berlainan jenis. Mata itu sudah bisa menjelaskan bagaimana pria yang ada dihadapannya yang membungkam mulutnya melalui sapu tangan dengan tangan kekar itu.


"Kenapa menatap ku begitu madam? Kau tidak merindukanku? Biasanya dibalik pintu seperti ini kita saling melepaskan kehangatan bersama. Kau tidak ingat?" Mata Yana mendelik seolah merespon ucapan Jaden.


"Matamu semakin besar lagi, apa kau begitu kaget dengan kehadiran ku madam? Apa aku menganggu acara kelahiran putra kita? Kau seperti singa betina." Yana memberikan perlawanan nya yang setidaknya membuat sapu tangan itu tersingkir dari bibirnya.


"Putra kita? Dia putra ku dengan suamiku! Apa matamu buta? Kau harus melihat wajahnya yang sama sekali tidak mirip denganmu! Tidak ada yang percaya dengan apa yang kau katakan, selain dongeng semata." Jaden terkekeh melihat debat wanita dihadapannya ini.


"Sungguh? Kalau benar, seharusnya kau suka hamil madam. Atau kau berpikir karena obat-obatan yang kau berikan? Atau justru takdir yang berpihak padamu? Kau bilang dia tidak ada satupun yang mirip denganku? Lihat aku baik-baik...... Lihat!" Jaden mendekatkan wajahnya semakin dekat dan membuat dua pasang manik itu saling menatap tanpa halangan.


"Terkadang apa yang kau pikir seperti malaikat adalah iblis yang sesungguhnya. Meskipun jaman berubah, tapi kata-kata jangan menilai buku dari sampulnya masih berlaku hingga sekarang. Kau merasa senang dengan kelahiran anak? Kau sangat bahagia?"


"Aku sangat bahagia! Kau pikir kau siapa? Kau bahkan melanggar aturan kita. Setelah tujuh hari itu, kita tidak saling mengenal meskipun bertemu! Aku bisa menuntut mu!"


Jaden tertawa terbahak-bahak membuat suasana hening di kamar mandi bak Jepang itu memantulkan suaranya dengan baik. "Tuntutlah! Kau bahkan tidak bisa membereskan ku sebelumnya, kau ingin menyingkirkan ku?"


"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Uang! Aku berikan!"


"Apa yang ku inginkan tidak bisa kau berikan, mau coba?"

__ADS_1


"Katakan, berapa yang kau inginkan!" Napas Yana memburu dan itu justru membuat dirinya semakin seksi di mata Jaden.


"Kau akan lihat Madam. Tapi ingatlah dari sekarang.... Jika aku sudah datang maka jangan harap aku akan pergi seperti yang kau pikirkan Madam." Jaden berbisik di telinga yang dihiasi anting indah itu dan yang membuat manik Yana melebar adalah sebuah ciuman di rambut panjang nya.


Tanpa ketakutan pria itu keluar dari sana meninggalkan Yana yang sesak napas dan terlihat jelas di kaca yang terpajang itu. "Dia tidak main-main, apa yang ia inginkan?" Yana segera membasuh wajahnya setelah mendengar panggilan suaminya yang mendekati kemari.


"Honey? Kenapa lama sekali? Apa ada sesuatu?" Vander mendekati istrinya yang ternyata berada di kamar mandi yang tepat dengan pikirannya.


"Aku sakit perut, jadi sedikit lama. Apa Xavier menangis?"


"Tidak, dia bersama Mama. Ayo kita kembali, rambutmu sedikit berantakan. Sini, aku rapikan." Vander mengambil jepitan yang tidak lagi berada di tempatnya itu dan menjepitkan lagi dengan baik sehingga membuat rambut istrinya lebih baik.


"Terimakasih." Yana mengikuti langkah suaminya yang membawanya ke kumpulan teman-teman nya tapi sebelum itu ia mengambil putranya dari mertuanya.


"Sini sama Mama sayang, terimakasih ma."


"Mama senang menggendongnya, dia terlihat anteng sekali." Melihat tatapan suaminya, Yana segera menyusul dan ada rekan bisnis yang tidak ia kenal dan diperkenalkan oleh suaminya.


"Wah, ini memang putra tuan Vander. Lihatlah! Siapapun akan tau." Ucapan selamat dan pembicaraan kecil terjadi begitu saja.

__ADS_1


Yana juga bertemu dengan rekan bisnis serta temannya yang belum datang ke acara tujuh bulanan dirinya dan seperti wanita pada umumnya, mereka tentu bicara panjang lebar dan membicarakan banyak hal.


Hingga beberapa waktu berlalu, Vander muncul diantara kerumunan dirinya bersama teman-temannya. "Honey, ini tuan Max yang aku bicarakan. Dia akhirnya bisa datang dan bertemu denganmu dan putra kita." Sebelum Yana menoleh, teman-temannya sudah memperlihatkan kekaguman dan bicara yang manis.


"Astaga tampan sekali!"


"Apa dia masih sendiri?"


"Akhirnya aku bisa melihat wajah CEO yang dibicarakan itu!" Yana segera menoleh dan pertama adalah wajah suaminya yang tersenyum membuat dirinya juga tersenyum.


Tapi senyumannya berubah ketika melihat sosok yang baru terbit di belakang suaminya serta membuat tubuhnya membeku. "Tuan Max, ini istriku Yana dan putra kami Xavier."


"Senang bertemu dengan mu nyonya Yana." Senyuman itu membuat ingatan beberapa waktu lalu kembali berputar.


'Jaden Tuan Max? Astaga!'


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2