
Kapal besi itu tampak mengudara melintasi negara yang jauh dari tempat mereka berangkat. Tak ada orang lain yang duduk dengan nama penumpang disana selain seorang wanita dengan bayi di gendongannya.
"Kita akan sampai dalam waktu 15 menit lagi Nyonya." Seorang pramugari menghampiri wanita yang mendekap anaknya yang terlihat tertidur pulas itu.
"Baik." Beriringan dengan perginya pramugari yang baru saja menghampiri nya, wanita itu tampak melihat jam di ponselnya.
"Selamat datang kehidupan baru. Kita sampai di tempat yang hanya ada kita sayang, hanya kita berdua." Sambil maniknya menatap jendela, bibirnya mengecup lembut kening putranya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pesawat yang telah mengudara cukup lama itu, akhirnya mendarat juga. Tanpa koper seperti kebanyakan orang, wanita itu hanya membawa putranya dan juga tas di lengannya. "Mari Nona." Seorang pria yang dikenalnya sudah terlihat menanti dengan mobil mengkilap nya, tak lupa pria itu membukakan pintu dan langsung membuat wanita dengan putranya itu masuk.
Segera saja mobil mengkilap itu berlalu membelah jalanan yang sudah beriringan dengan lenyapnya mentari bergantikan dengan bintang-bintang dan sinar dari lampu jalan, kendaraan atau cafe yang dilewatinya.
Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti di halaman luas dengan gerbang besar yang menyambut kedatangannya. Tak lupa dengan sistem yang langsung menutup gerbang itu yang tetap diawasi oleh penjaga tak terlihat.
Manik matanya menatap cukup lama bangunan yang terlihat di matanya. "Aku kembali." Bertepatan dengan selesainya ucapan nya, beberapa tangga yang menuju pintu utama itu sudah terbuka dan menampilkan dua sosok yang ia rindukan.
Mungkin karena merasakan tempat baru serta perasaan Mama nya membuat bayi tampan itu mulai bangun dan tak lama menangis. "Putriku!" Sebuah pelukan langsung menyelimuti tubuh wanita yang menggendong bayinya dengan tangisan yang saling terdengar.
"Mama... Aku rindu..."
__ADS_1
"Putriku Yana, Mama juga rindu. Jangan menangis, Mama disini...." Yana akhirnya berada di kediaman orang tuanya, tempat dimana dia lahir dan tumbuh selama 24 tahun hingga terpisah dengan orang tuanya.
"Maaf...." Yana menggigit bibirnya karena tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi dan sudah diwakilkan dengan air mata yang begitu banyak.
"Cucu Mama menangis..." Yana segera membujuk putranya untuk tidak lagi menangis.
"Mungkin karena cuaca lebih dingin. Ayo kita masuk." Yana tampak mengikuti langkah Mama nya dan melangkah kembali ke rumah yang sudah ia tinggalkan hampir 8 tahun itu.
Xavier yang sudah tidak lagi menangis, membuka matanya dan membuat Mama Yana melihat jelas cucunya itu. "Dia..."
"Xavier, dia putraku. Cucu Mama, hmmm." Yana membiarkan Mama nya menggendong putranya yang tampak tidak terganggu dan menatap dengan maniknya sosok yang menggendong dirinya saat ini.
"Maniknya....."
"Papa...." Tak ada lagi suara atau kata apapun, hanya ada aliran air mata serta dekapan erat yang sudah lama tidak terjadi. Betapa rindunya pria yang menjadi cinta pertama Yana dan juga pahlawan wanita cantik itu.
Melihat tangisan putrinya membuat darah pria itu mendidih. Bahkan kekuasaannya tidak bisa mendeteksi kesakitan putrinya. Mendengar hal kerusakan kebahagiaan putrinya membuat pria itu segera menerbangkan pesawat menjemput putrinya dan tidak akan membiarkan sumber kesakitan itu bisa mendekati putrinya bahkan sejengkal pun.
"Menangislah.... Bagilah dengan Papa, tapi setelah ini putriku tidak boleh lagi menangis." Yana hanya mengatakan rindu dengan papa nya yang selalu ada untuknya tapi setelah pernikahan tidak membuat mereka bertemu seperti dulu lagi.
Setelah merasa putrinya sudah tenang, keluarga yang terpisah dengan putrinya itu akhirnya duduk bersama kembali. Yana bak anak kecil yang berusia 5 tahun bersandar di pundak papanya dan tangan sang papa mengelus rambut putrinya.
__ADS_1
Sedangkan Mamanya, tengah mengendong Xavier yang tampak begitu tenang tidak menangis seperti sebelumnya. "Aku rindu seperti ini. Apa aku anak yang kejam? Aku lupa dengan Papa dan mama setelah menikah."
"Tidak, putriku tidak salah. Tidak ada yang salah, putriku tetap menghubungi orangtuanya setelah menikah dan melahirkan. Papa ingin lihat wajah cucu papa, pasti dia tampan seperti kakeknya."
"Iya, papa mau lihat? Ayo ma, berikan Xavier pada Papa." Tapi senyum Yana menjadi terganggu karena panggilan alam untuk nya.
"Aku akan segera kembali, aku ke kamar mandi dulu." Orang tua Yana hanya tersenyum melihat tingkah putrinya, setidaknya putri mereka tersenyum lagi.
"Sini berikan padaku." Pinta dirinya pada sang istri.
"Baik, tapi janji tidak terkejut?" Ucapan istrinya membuat kening pria itu berkerut.
"Kenapa? Jangan bermain sekarang... Aku tau dia pasti mirip...." Papa Yana tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat Xavier berada di gendongan nya.
"Dia persis seperti....."
"Xander, aku juga berpikir begitu." Tampak Xavier tertawa memperlihatkan senyum menawannya membuat nenek dan kakeknya terpaku.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!