Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Memulai Serangan Balik


__ADS_3

Perdebatan kedua pria itu masih berlanjut hingga jam yang tadinya menunjukkan pukul 8 sekarang sudah pukul sepuluh. "Sekarang kau sudah sadar dimana tempat mu? Kau hanya menjadi bayangan ku, seharusnya kau tetap seperti itu."


"Aku bukan bayangan siapapun, aku adalah aku. Bahkan yang lain! Jangan berpikir aku seperti dulu kakak."


"Kau ingin apa? Aku mati?"


"Tidak, aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan, bahkan lebih!"


"Melalui Xavier? Jika kau menolak Xavier adalah putraku, maka dia putra kita bersama bukan?"


"Hahahaha, jangan harap! Bukankah kau bilang kau sehat? Bahkan Mama tercinta mu mengatakannya bukan? Kenapa tidak buat sendiri, kau sangat percaya diri akan kesempurnaan mu."


"Aku bisa melakukan hal yang tidak akan kau bayangkan lagi jika kau tidak mengembalikan Xavier padaku!"


"Lakukan saja."


"Kau menabur gendang peperangan?"


"Anggap saja begitu." Vander segera pergi dari sana dengan rencana yang akan membuat Max yang merupakan rahasianya akan lenyap seperti dulu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Pintu mobil menjadi sasaran bagi Vander, matanya terlihat berapi-api yang siap membakar. "Jika dia sampai disini, artinya ia memiliki sesuatu yang tidak bisa diremehkan! Bagaimana bisa ia hidup lagi? Aku tidak akan membiarkan nya! Yana.... Dia.... Jika Xavier bersamanya maka Yana juga bersamanya bukan? Melihat Yana belum meminta perceraian kembali dariku artinya semuanya masih belum terbongkar. Kita lihat, bagaimana langkah mu berikutnya Max! Aku tidak sudi menyebut namamu."


Vander segera mengetikkan pesan ke nomor Yana dan mengirimnya segera. Ketika ingin melajukan mobilnya, ia melihat Papa nya baru saja datang dan membuat ia langsung bergegas keluar dan menghampiri Papa nya.


"Papa!" Panggilan itu tentu saja membuat langkah pria paruh baya itu terhenti segera.


"Vander? Kau... Bagaimana...."


"Apa yang papa lakukan disini?"


"Tentu saja ingin bertemu dengan pria yang membawa cucu Papa dan membuat rumah tangga kalian jadi kacau. Apa polisi sudah menangkap nya?"


"Iya sangat licik papa, kita tidak bisa menangkap nya semudah itu Papa."


"Itu....."


"Pa!"


"Ayo kita kembali kesana! Papa harus bertemu dengannya dan bertanya apa tujuannya melakukan ini." Vander tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena sama saja membuka rahasia yang ia tutupi selama ini.


"Pa, daripada menemui nya. Lebih baik kita menghubungi Yana. Dia tidak mengangkat panggilan ku pa, mungkin jika Papa yang menghubunginya Yana akan menerima." Dengan tampang memelas dan meyakinkan membuat hati sang Papa luluh.

__ADS_1


"Benar, Papa akan menghubungi Yana." Senyum di wajah Vander langsung terbit dan tentu dirahasiakan dari papa nya.


'Benar, lakukanlah pa. Supaya langkah ku lebih mudah. Dan untuk Xavier, jika benar di bukan darah daging ku, artinya Xavier adalah anak haram dia!' Jika ditanya, Vander tentu sudah sangat sayang dengan Xavier. Ia tidak bohong dan tulus akan hal itu, tapi mengingat ucapan Yana dan Max yang mengatakan dirinya tidak bisa memberikan keturunan tentu membuat dirinya dihantui akan hal itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kediaman mewah itu terlihat semuanya bekerja seperti semula. Mereka harus bekerja lebih baik lagi dikarenakan adanya Nyonya dan seorang putra yang mereka yakini adalah milik tuan mereka.


Di taman, terlihat Yana tengah bersama Xavier. Sambil memandangi wajah putranya, Yana menggenggam ponselnya, hatinya merasa ragu untuk menghubungi orangtuanya mengenai hal ini. Karena tentunya orang tuanya akan syok akan hal ini.


Dan bukan hanya itu, ditambah dengan Xavier yang merupakan cucu yang mereka pikir adalah anak Vander ternyata bukan anak pria yang merupakan menantu mereka, bagaimana dirinya akan menjawab.


"Aku belum siap. Sebaiknya aku harus menyelesaikan masalah disini dulu. Ya! Sebaiknya begitu." Ketika Yana meletakkan ponselnya di bangku yang tersisa tempat ia duduki. Ponselnya berdering dan Yana segera melihatnya, beberapa hari ini Yana tidak menyalakan ponselnya dan terutama belum melihat notifikasi yang terjadi didalamnya.


"Begitu banyak pesan dan panggilan...." Yana membuka satu persatu dan satu pesan membuat dia terpaku.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!

__ADS_1



__ADS_2