
Suara musik klasik menggema dan membuat Yana merasa sangat rileks, dengan udara segar dan juga pemandangan kolam ikan yang terlihat menyegarkan di manik Yana membuat semuanya terasa sempurna.
Sejak kehamilannya, Vander tidak mengizinkan dirinya kembali ke perusahaan karena itu Yana memberikan amanah pada orang kepercayaannya.
Sambil musik yang terus mengalun merdu, Yana melirik ponselnya, entah mengapa ia tiba-tiba melihat sebuah iklan wanita Chinese yang memetik buah-buahan segar. Dari sekian buah itu, Yana tertarik dengan beri biru di sana yang membuat dirinya menelan ludah.
"Aku jadi ingin..."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Ya Honey?" Telinga Vander tengah dihiasi panggilan dari istrinya, saat ini meja kerjanya terlihat tumpukan dokumen.
"Bagaimana setelah pulang? Aku masih belum bisa honey, ada beberapa dokumen yang harus ku selesaikan nanti, bagaimana dengan Mama?" Vander yang tengah dilanda kesibukan tidak bisa mendampingi Yana yang berniat belanja kecil karena menginginkan buah beri.
"Tidak apa honey, jangan lupa makan ya. Aku akan bicara dengan Mama." Ujar Yana sambil berbaring mengelus perutnya.
"Baiklah, hati-hati." Ujar Vander yang bagian akhir ditegaskan.
"Iya, aku hanya sebentar dan akan kembali dengan cepat." Panggilan terputus, tapi tiba-tiba saja Yana menepuk jidatnya karena baru ingat mertuanya tengah pergi.
Hingga Yana memutuskan untuk berangkat ditemani supir yang berkerja di rumahnya.
"Mang , ayo kita berangkat." Yana tidak sempat menghubungi Vander lagi karena itu ia hanya mengirimkan pesan saja.
__ADS_1
"Iya Nyonya." Sopir itu dengan hati-hati menjalankan mobilnya menuju minimarket yang berada tak jauh dari kediaman mereka. Tanpa Yana sadari, ada sebuah mobil yang mengikuti dirinya.
Beberapa menit kemudian.....
Tulisan minimarket bahagia itu terpampang jelas di mata dilihat dari sudut manapun. Yana segera keluar sambil membawa tas kecilnya. "Mang, tunggu sebentar ya. Aku tidak lama."
"Iya Nya." Yana segera masuk ke dalam dan mencari buah keinginan nya. Sambil memilih buah dan melihat yang lainnya Yana tidak sadar diikuti oleh seseorang yang ikut masuk kedalam berbaur dengan yang lainnya.
Setelah dirasa cukup, Yana segera kembali dan dibantu dengan sopirnya. Perjalanan kembali melewati jalur yang sama, tapi mata Yana sekarang tertuju pada belakang nya.
"Mobil itu terlihat mengikuti kita sejak tadi." Gumam Yana sambil melirik ke belakang.
"Belok mang!" Perintah Yana untuk memastikan kebenaran nya dan benar saja mobil itu juga berbelok.
"Kenapa Nya?" Tanya Mamang yang belum tau.
Yana bergegas turun dan meninggalkan supir nya di parkiran.
Yana sedikit lega karena sekarang berada di keramaian dan tidak diikuti lagi.
"Syukurlah. Aku harap hanya kebetulan." Tapi siapa sangka itu tidak merubah apapun karena sosok yang mengikuti itu menuju sang supir.
Mamang yang tengah menunggu Nyonya nya segera melihat ke luar mendengar ada yang mengetuk jendela mobilnya. Seorang pria dengan dandanan biasa saja yang tidak terlihat seperti orang jahat membuat Mamang tidak curiga.
__ADS_1
"Ya? Ada yang bisa dibantu?"
"Ya, aku butuh bantuan dan ini....."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Yana berada di meja kasir untuk membayar barang asal-asalan nya. Hati Yana merasa tenang karena tidak ada yang mencurigakan, dengan segera Yana kembali ke parkiran tapi sampai disana Yana kembali dibuat jantungan dengan supir nya yang tidak sadarkan diri.
"Mang? Mamang bangun! Mang!" Yana tentu menjadi panik melihat keadaan supir nya yang terlihat tak bergerak.
Panik, takut dan khawatir semuanya menjadi satu. Hingga Yana ingat dia membeli air dan segera menyemprotkan pada wajah Mamang dan berhasil membuat mata itu terbuka dan Yana bernapas lega.
Baru saja Yana lega, ia melihat ada secarik kertas di dekat supirnya. Karena tidak ingin supir nya melihat Yana segera mengambil dengan tangan kecepatan angin.
"Nyonya, aku...."
"Syukurlah Mamang sudah sadar. Ayo jalan." Ujar Yana Yulio diangguki oleh Mamang.
Dari belakang, Yana membaca secarik kertas itu. Mata Yana membesar melihat rentetan tulisan yang bertuliskan jaga anaknya dengan baik dan ia akan selalu mengawasi dimanapun ia berada.
"Siapa ini?" Yana sungguh bertanya dan segera meremukkan kertas itu dan melemparnya keluar.
Karena asyik berpikir, Yana tidak sadar telah sampai. Dibantu sang supir Yana masuk ke dalam. Di dalam kamarnya Yana terus berpikir dan mengira sosok pria itu yang ia tidak ketahui apakah itu adalah musuh suaminya yang memanfaatkan kelemahan nya atau pria yang memang adalah pemilik benih dirahimnya. "Apa Jaden?" Tebak Yana, tak ingin menebak lagi maka Yana segera menghubungi wanita yang merupakan penyalur pria yang ia bayar.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.