
Suasana yang tadinya ricuh menjadi hening sejenak. Tatapan Vander yang tadinya tidak mau melihat ke wajah Yana langsung melekat bahkan sepasang mata mereka saling beradu pandang. "Kau bilang apa?"
"Xavier bukan putramu! Aku bilang itu!" Ujar Yana berapi-api.
Vander tertawa lepas setelahnya dan terlihat beberapa kali menyentuh bawah matanya yang diairi air entah mata atau bekas permainan haramnya.
"Bukan putraku? Kau bilang begitu? Bahkan orang buta warna pun tau dia adalah putraku. Kau pikir aku akan percaya? Aku hanya percaya dengan perselingkuhan mu!"
"Aku tidak pernah berselingkuh! Itu bukan bermain api seperti mu!"
"Sekali berbohong, maka tetap berbohong!"
"Terserah! Aku sudah mengatakan padamu. Aku kemari untuk menjelaskan, tapi apa yang kau lakukan.... Kau bermain gila disini!"
"Kenapa? Lagipula aku tidak akan mempertahankan pernikahan bersama wanita seperti mu! Aku berpikir kau begitu putih tapi ternyata tidak!"
"Aku juga sadar, kau tidak pantas untuk dipertahankan. Aku bersyukur sadar saat ini, tapi satu hal yang kau ketahui.... Xavier bukan putramu! Dia putraku!"
"Sudahlah Vander, dia hanya membuang waktu saja. Sebaiknya kita pergi, dia hanya bicara begitu supaya hak asuh Xavier tidak jatuh padamu." Wanita bernama Mia itu turut memprovokasi yang membuat Vander setuju.
"Segera tinggalkan rumah!" Hanya itu yang Vander katakan, Yana yang tidak terima dengan perpisahan bersama putranya langsung menuju rumah.
Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang bekerja di perusahaan pria yang mengatakan perpisahan untuk nya itu. Mobil Yana pacu dengan cepat membekas jalanan tapi diperjalanan, ada pepohonan yang tumbang membuat jalanan terhambat beberapa saat.
"Shlt! Aku akan menghubungi baby sitter Xavier..." Yana menyalakan ponselnya tapi sayang, daya ponselnya sudah kosong.
__ADS_1
"Aghh!" Yana yang mulai kalut, mencari jalan lain dan ketika berputar ia tidak melihat dengan baik mobil di yang berlawanan arah dengan nya, hingga tabrakan itu tidak terelakkan lagi.
Jalanan yang sudah terhambat menjadi lebih semrawut dengan orang-orang yang menolong korban yang berada di dalam mobil mewah itu. Yana yang masih terkepung di dalam mobilnya tidak dapat melihat dengan baik bahkan bersuara, hingga dia tak sadarkan diri.
🌟🌟🌟🌟🌟
Pintu kaca itu terbuka lebar dengan kekuatan penuh membuat sang pemilik dan tengah bersantai menjadi terganggu. "Ada apa? Kau bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Maaf tuan, tapi ini sangat penting!"
"Ada apa? Katakan cepat!"
"Nyonya Yana mengalami kecelakaan saat pulang dari perusahaan suaminya." Pena yang tadinya menjadi mainan tangan nya langsung terjatuh dan beriringan dengan dirinya yang bangkit.
"Siapkan mobil!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ruang tunggu di rumah sakit itu telah dihuni oleh wanita paruh baya dengan keadaan cemas. "Keluarga pasien?"
"Bagaimana keadaan menantuku?"
"Pasien tidak mengalami luka yang serius, hanya luka sedikit di kening serta memarrdi bagian tangan dan kaki, akan sembuh dalam beberapa hari."
"Syukurlah, apa bisa dikunjungi?"
__ADS_1
"Pasien belum sadar, mungkin sejam lagi. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Terimakasih dokter." Setelah kepergian sang dokter, mertua Yana tampak menghubungi seseorang.
"Kau dimana? Cepatlah ke rumah sakit, Yana mengalami kecelakaan."
"Baiklah Mama tunggu."
🌟🌟🌟🌟🌟
Kamar di apartemen unit mewah itu menjadi hunian Vander bersama wanitanya. "Ada apa? Apa dia lagi?"
"Lebih tepatnya dia mengalami kecelakaan. Mama disana, aku akan segera kesana."
"Kau masih peduli?" Tanya Mia membuat pergerakan Vander terhenti.
"Aku datang karena Mama, dan mungkin juga akan mengatakan mengenai perpisahan kami." Ucapan itu membuat Mia tersenyum senang.
"Baiklah, hati-hati."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author, ceritanya seru loh!
__ADS_1