Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Pagi di Suasana berbeda


__ADS_3

Tirai itu akhirnya ditutup dan dari atas ranjang manik itu dapat melihatnya. "Jadi, sudah sepakat? Tidak ada masalah nantinya kan?" Yana bertanya memastikan kerjasama suaminya dengan pria bernama Max itu.


Bukannya apa-apa, tapi dalam bisnis bisa jadi bumerang nantinya. "Sudah, aku tau kekhawatiran mu. Seperti yang kau bilang, suamimu ini adalah yang terbaik." Vander menggenggam tangan istrinya dan mengecup beberapa kali.


"Benar, dan kita tidak boleh lengah sedikitpun." Yana menenggelamkan dirinya ke dalam tubuh suaminya beriringan dengan dentingan jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Ini sudah waktunya untuk tidur, selamat malam honey dan my baby." Vander tak lupa mengucapkan apapun untuk bayinya yang tengah berkembang saat ini.


"Selamat malam honey." Perlahan kedua pasang mata itu tertutup menuju alam mimpi yang tentunya mimpi baik.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sekarang tangan yang tadinya dialiri oleh cairan merah sekarang dibalut dengan kain kasa dan beraroma tersendiri. "Tuan, jika aku boleh memberikan saran...."


"Katakan!" Dirinya tidak perlu menunggu ucapan pria sebelahnya selesai.

__ADS_1


"Alangkah baiknya, jika tuan berhenti memberikan pesan atau sebagainya tuan." Tentu saja manik tajam menghunus itu membuat dirinya sedikit gentar.


"Tuan, aku tidak bermaksud apapun. Tapi dari pengalaman, seorang wanita hamil tidak baik banyak pikiran tuan, itu bisa menjadi masalah besar nantinya. Pesan rahasia serta hadiah misterius yang tuan berikan pasti akan berdampak pada nya Tuan." Menunduk tentu saja segera ia lakukan karena sudah berani memberikan saran yang tidak disukai oleh atasannya.


"Kau tau, aku tidak bisa melakukan itu. Tapi.... itu memang benar, aku tidak ingin anakku dalam masalah, ia adalah gerbang utama ku mengoyak kebahagiaan keluarga itu serta menunjukkan putih tidak sepenuhnya suci." Ada kelegaan di hati pria itu mendengar persetujuan tidak langsung tuan nya.


"Tapi bukan berarti aku menghilang seperti yang kau bayangkan. Aku akan tetap disana, bertemu dengan nya bahkan dekat dengannya tanpa ia ketahui bahwa aku adalah warna hitam yang mengintai mereka."


"Tentu tuan, aku tidak berfikiran begitu. Tuan lebih tau segalanya dari ku."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Iya, itu sangat baik untuk mata anak kita." Dengan semangat, Vander meletakkan beberapa wortel yang disajikan bersama sup ikan itu.


"Mungkin setelah ini akan sering ada pertemuan antara ku dengan tuan Max.".

__ADS_1


"Tak apa, yang penting jaga kesehatan. Aku tidak mau suamiku ini sakit."


Manik Vander yang tadinya menatap piring makannya berubah turun ke arah perut istrinya. "Honey, aku sudah menyiapkan beberapa pengawal dari jauh ataupun dekat, entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres." Seketika Yana tersedak mendengar ucapan suaminya.


🌟🌟🌟🌟🌟


Setelan jas bewarna hitam pekat itu menambah aura ketampanan serta mempesona pria itu. Tak lupa tangannya dilingkari oleh jam yang harganya bukan main.


Sambil ditemani beberapa orang yang terlihat memegangi helai pakaian serta yang lainnya tidak membuat pria itu terganggu. "Wajah ini sangat tampan! Siapapun akan terjerat dengan nya, termasuk kau sayang. Detik ini aku akan semakin dekat denganmu, dan juga bayi kita. Dan sungguh aku tidak sabar menanti kelahirannya yang akan membuat angin ****** beliung di rumah itu."


"Tuan, sarapan sudah siap." Lapor pria berpostur tinggi itu.


"Ya, aku akan makan segera dan berkunjung melihat anak ku."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya, terimakasih banyak.


__ADS_2