Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Suara hati orang tua


__ADS_3

Kedua orang tua Vander langsung kaget bukan main saat melihat keadaan putra mereka yang sudah terkapar dengan luka yang masih mengucurkan darah segar itu.


Wajah yang tadinya mulus dan tanpa noda, tampaknya sekarang tidak lagi. Berbagai bentuk luka dan pukulan menghiasi wajahnya. "Vander!"


"Putraku!" Secara bersamaan keduanya berteriak mendekati putranya yang antara sadar dan tidak sadar sekarang.


"Apa yang terjadi pada putraku?" Tampak sang Mama memangku wajah Vander yang mengairi darah disana.


"Ayo kita ke rumah sakit!" Sang Papa tampaknya lebih berpikir logis sekarang daripada main perasaan.


"Vander.... Bangun nak!" Dengan tubuh yang tak jauh berbeda meskipun dengan usia yang terpaut jauh, tapi bagi seorang Ayah, anaknya tetaplah kecil.


Tanpa rasa berat, Vander dibawa Papa nya dalam gendongannya menuruni tangga untuk menuju pintu keluar.


"Buka pintu mobilnya!" Karena kejadian yang tiba-tiba dan ternyata membawa angin buruk tentu saja membuat pelayan yang berada disana juga menjadi tremor sendiri.


Sehingga pikiran juga menjadi lambat. Mendengar teriakan majikannya, pintu mobil itu segera dibuka dan langsung Vander dibawa ke rumah sakit untuk ditangani.


Sepanjang jalan, hanya terdengar tangisan Mama Vander yang melihat keadaan putranya. Padahal sebelumnya, sang putra terlihat sehat dan membaik tapi dalam sekejap putranya amburadul.

__ADS_1


"Ayo cepat, Vander tidak sadar... Putraku tidak sadar, darahnya juga mengalir..." Dengan air mata yang terus mengalir serta tangan yang gemetar ia membersihkan darah yang mengaliri wajah putranya.


Vander tidak sadarkan diri lagi, dan tentunya juga tidak bisa mendengar apapun. Kecepatan kendaraan ditemani jalanan yang tidak ramai membuat mereka sampai di rumah sakit itu. Tanpa banyak waktu lagi, petugas langsung membawa Vander ke ruangan gawat darurat.


"Selamatkan putraku." Pintanya pada sang dokter yang baru datang setelah melihat keadaan darurat ini.


"Harap tunggu diluar." Hanya itu yang bisa dikatakannya karena sang dokter segera bergegas masuk.


"Vander...."


"Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir. Dia putra kita, dia kuat." Papa Vander menenangkan istrinya yang terlihat menangis kencang dan takut akan keadaan anak mereka.


Beberapa waktu kemudian....


"Bagaimana?"


"Tuan besar, ada seseorang yang masuk ke kamar Tuan Vander. Ini keteledoran kami, maaf. Tapi sepertinya dia mengetahui letak kamera rumah Tuan besar. Bukan hanya itu dari pergerakannya dia seolah hafal dan tau persis apa saja yang ia lewati, bahkan ruangan yang hanya diketahui oleh pelayan tertentu saja diketahuinya dengan mudah." Mendengar penjelasan itu saja sudah membuat Papa Vander merasa aneh.


"Siapa? Wajahnya?"

__ADS_1


"Ini tuan." Pria itu segera memperlihatkan wajah yang tertangkap oleh kamera meskipun tidak terlalu banyak, setidaknya membantu.


"Dia...."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Disisi lain, guratan kemarahan masih belum reda dan memasuki ruangan yang terlihat netral. "Sudah? Kau sudah menyalurkan amarah mu? Bagaimana rasanya?" Terlihat sosok pria duduk seolah mengetahui kedatangan nya.


Tidak ada jawaban dari pemilik kemarahan itu. "Kau sudah lega? Jawablah Xander. Sudah atau belum? Atau dia sudah mati karena amarahmu?"


"Aku tidak peduli, aku ingin menemuinya."


"Yakin? Sudah siap dengan semuanya? Pikiran terlebih dahulu. Meksipun jiwamu adalah Xander, tapi ragamu adalah Max. Aku tidak melarang mu, tapi setidaknya pikirkan terlebih dahulu dengan baik. Kau sedang marah saat ini."


"Aku rindu putraku." Ujarnya lagi.


"Aku rindu Xavier.... Aku rindu padanya."


"Itu hal yang biasa, kau adalah ayahnya. Tapi ingat kataku, pikirkan sebelum kesana. Putramu bersama ibunya dan bukan hanya itu, wilayah itu adalah milik orang tuanya. Tentu kau lebih tau dariku Xander. Karena itu ku katakan pikirkan dengan baik."

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2