
Baru saja gerbang itu terbuka, Yana sudah berlarian keluar menyambut kedatangan suaminya. Terlihat Vander keluar dari mobilnya dengan senyuman manisnya melihat istri yang sangat dirindukannya.
"I Miss you!" Pekik Yana sambil berhamburan ke pelukan suaminya.
"Miss you much!" Vander tak kalah eratnya memeluk istrinya yang aromanya sangat ia rindukan itu.
"Sudah, nanti dilanjutkan. Disini ada Mama juga." Segera pelukan suami istri itu terlerai dan tersenyum malu dengan ucapan mertuanya dan mamanya.
"Mama, ini...."
"Apa?" Belum sempat putranya itu menjawab, mamanya sudah melayangkan tatapan horor.
"Tidak ada, ayo kita masuk. Dan aku juga sangat rindu dengan Mama tersayang ku ini!" Vander kembali berbalik dan memeluk Mama nya membuat Yana tersenyum melihat adegan itu.
Ketiganya segera makan malam, dilayani oleh pelayan yang membawa sedangkan Yana menyajikan kepada suaminya dan mertuanya, meksipun berasal dari kalangan kaya tidak membuat Yana menyerahkan semua tugas kepada pelayan.
__ADS_1
"Sungguh, aku sangat merindukan masakan rumah juga. Di sana aku hanya makan sayur dan buah saja, sangat menyebalkan."
"Hmm.. tapi semuanya menyehatkan bukan." Mamanya berujar mendengar ucapan putranya.
"Iya, tapi aku rindu dengan cumi pedas manis serta ikan bakar buatan istriku ini." Vander menatap wajah istrinya membuat Yana merasa sangat bahagia.
"Ini masakan mama juga, setelah putraku menikah ia hanya ingat dengan istrinya, mamanya dilupakan saja." Canda Mama nya membuat ketiganya tertawa bersamaan membuatku pelayan di sana ikut bahagia.
Pagi datang, dan mertua Yana melangkah pergi meninggalkan kediaman putranya karena tugasnya sudah selesai. "Mama yakin, Yana akan segera hamil." Terlihat rasa percaya diri dalam ucapan itu.
"Iya mama, aku akan menembak dengan tepat sasaran. Dan sebentar lagi akan lahir sosok mungil seperti Yana." Sedangkan Yana yang mendengar ucapan keduanya juga berharap sama dan berharap usaha gilanya tidak sia-sia.
"Ya, Mama akan menepati janji jika semuanya berjalan dengan baik." Yana semakin menjadi was-was karena janji yang telah dibuat oleh suami dan mertua nya.
"Baiklah, Yana. Jangan pikirkan yang itu, fokus saja dengan apa yang Mama katakan. Mulai dari makanan, hingga pola hidup terapkan semuanya dan yang terpenting jangan lupa minum vitamin yang Mama berikan."
__ADS_1
"Iya Mama, aku akan ingat semuanya." Baik tangan Yana dan mertuanya saling berpegangan sebelum berpisah.
"Mama pergi. Mama tunggu kabar baiknya, jaga dirimu dan Vander jaga istrimu." Peringatnya kepada putranya.
"Tentu saja Mama, dan dari semua yang mama katakan. Ada satu hal yang terpenting dari pembuatan cucu Mama." Keningnya menjadi menyatu mendengar ucapan putranya, begitu juga Yana yang penasaran dengan ucapan suaminya.
"Oh ya? Apa?" Tanpa sadar menantu dan mertua itu kompak bertanya.
"Tentu saja bertempur Mama! Aku akan menembakkan semua peluru ku." Tangan yang membesarkan Vander itu segera menarik kupingnya dan membuat Vander mengaduh sakit ala-ala dan Yana hanya tertawa melihat tingkah itu.
Setelah kepergian Mertuanya, Yana dan Vander menikmati waktu berdua bak bulan madu setelah perpisahan selama enam hari.
Malam hari Yana selalu merasa dihantui rasa bersalah jika mengingat pengkhianatan yang dilakukan nya, sambil menatap suaminya yang tertidur tetap saja ia ingin berteriak. "Maaf honey."
Berusaha melupakan dengan kegiatan yang indah serta manis dan juga sibuk membuat Yana sedikit lupa dengan rasa bersalahnya, hingga bulan berganti bulan. Tangan itu menyentuh tanggal di kalender. "Sudah bulan baru, aku harap berhasil. Aku mohon!"
__ADS_1
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.