Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Bunyi di Malam hari


__ADS_3

Suara langkah kaki itu semakin terdengar, tak lama pintu yang tadinya tertutup itu terlihat terbuka meskipun tak besar. Manik yang menghuni ruangan itu tentu merasa terganggu dan menajamkan penglihatannya. "Siapa? Ma? Pa? Vera? Siapa disana." Langsung saja ia ikut melangkahkan kakinya dari ranjang yang begitu nyaman.


"Sebentar ya honey." Tampak ia bicara dengan sesuatu yang berada di ranjang bersama dengannya.


Keadaan kamar yang memang gelap gulita, dikarenakan jendela kamarnya tertutup rapat ditambah dengan gorden yang juga tertutup rapat sehingga tidak ada cahaya apapun serta lampu canggih yang tidak dinyalakan sehingga menambah gelapnya ruangan.


Langkah yang semakin mendekat sekarang sudah bertepatan di pintu yang terbuka sedikit itu, maniknya mengintip suasana luar dari kamarnya yang terlihat kosong tidak ada siapapun. "Mungkin angin, menganggu saja!" Kesalnya dan ketika pintu itu sudah tertutup sepenuhnya, sebuah tangan langsung berada di lehernya.


"Siapa!"


"Kematian mu!" Bertepatan dengan ucapan itu, lampu langsung menyala dan memperlihatkan sosok yang sudah berada di hadapannya dengan tatapan sengit.


"Kau, apa yang kau inginkan? Seharusnya kau sudah mati!"


"Kau yang mati! Karena mu, aku kehilangan nya... Kau! Apa yang aku lakukan padamu sehingga kau melakukan semua ini hah!" Dia tidak menjawab, tapi tertawa besar.

__ADS_1


"Hahahaha, kau sungguh ingin tau? Sebelumnya kau merasa percaya diri dengan merebut milikku. Sekarang kau bertanya? Baiklah, aku dulu ya tanya. Bagaimana rasanya kehilangan? Terutama dihilangkan dari kepala serta hatinya? Kau suka? Hmm..."


Suara yang cukup keras langsung terdengar disertai dengan pukulan yang mendarat di wajah itu. "Ayo pukul aku, pukul! Aku sangat senang melihat air mata di wajahmu itu!"


"Aku menyesal memiliki darah yang sama denganmu!"


"Kau pikir aku juga? Aku tidak suka dengan mu! Kau selalu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"


"Yana bukan milikmu! Dia adalah milikku! Kau yang merebut nya! B@jingan!"


"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Yana tidak pantas dengan mu, seorang kutu buku dan juga lemah! Dia lebih suka dengan pria seperti ku, dan kau lihat? Aku menikahinya dan juga mendapatkan nya, dia sangat bahagia. Yana lebih pantas denganku, pria kuat dan juga hebat, kuat dan panas di ranjang."


"Mati kau!" Dengan amarahnya, pukulan itu menghasilkan darah segar.


"Aku mati, tapi Yana tidak kembali. Baik aku atau kau tidak mendapatkannya. Bagaimana rasanya dilupakan? Hmmm? Meskipun kau dan Yana menghabiskan waktu bersama hingga menghasilkan benih haram itu, tapi Yana tidak akan mengingat mu. Hanya Vander! Bukan Xander... Ditambah dengan wajah mu yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat!" Vander tertawa lepas meskipun keadaan tidak berpihak padanya saat ini. Ia tampak begitu bahagia dengan kesengsaraan Xander yang berada di atas dirinya dengan pukulan yang siap menyerangnya dengan membabi buta.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di meja bundar itu, tampak ada raut kegelisahan yang membuat dirinya menjadi tidak fokus. "Ada apa istriku?" Tanya suaminya yang datang dengan iPad untuk pekerjaan nya.


"Vander belum keluar juga, sudah hampir tiga jam. Dia juga melewatkan makan malam, sebaiknya aku antar."


"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja. Nanti, dia menjadi marah lagi, kondisinya sudah membaik, jangan di ganggu lagi."


"Iya tapi..." Pembicaraan keduanya langsung terhenti ketika terdengar suara benda jatuh yang menghabiskan suara besar sehingga membuat keduanya langsung bangkitkan dari tempat mereka.


"Kamar Vander! Putraku!" Sang istri langsung berlari mengejar kamar putranya dengan kekhawatiran, diikuti oleh suaminya.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2