Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Sakit


__ADS_3

Malam ini tidak membuat sepasang mata tidak bisa tidur, meksipun dengan berbagai gaya, berbagai minuman atau kegiatan tidak membuat mata itu terpejam. "Si@l!" Ujarnya sambil bangkit meninju angin yang langsung tembus.


Penghubung komunikasi antara rumah mewah itu langsung terhubung dan tak lama terdengar suara dari sana. "Ya Tuan?"


"Bawakan lagi minuman, cepat!" Tanpa menunggu jawaban dari seberang, panggilan langsung diputuskan.


Sambil menunggu, sosok itu tampak mondar-mandir dengan tatapan tertuju pada box bayi yang berada di depannya. "Xavier......" Dengan perlahan tangannya menelusuri bentuk box bayi itu seolah-olah ada penghuninya.


"Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa atau diharapkan." Dengan maniknya yang menyimpan sesuatu, Max menelusuri hiasan mainan yang tergantung menghiasi box bayi itu.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka menampilkan Jim dengan minuman yang dipesan tuannya. "Ini Tuan."


"Letakkan disana, dan bawakan satu gelas kemari." Titahnya dengan cepat dan membuat Jim langsung berkerja.


"Ini tuan." Gelas berisi wine itu sekarang berada di tangan Max yang segera meminumnya.


Dan dalam sekali sikat, minuman itu sudah tandas dan kembali minta diisi. "Lagi!" Jim kembali mengisi nya dan kembali diberikan.


"Lagi!" Kata itu terus diucapkan Max sehingga Jim kembali mengisinya. Tidak ingin ada perdebatan, Jim melakukan tugasnya dengan baik, meskipun ia tau itu tidaklah baik untuk tuannya.


"Lagi!" Sekarang bagian terakhir, tidak lagi membuat Max berdiri kokoh dan akhirnya tumbang perlahan.

__ADS_1


Dengan cepat Jim memapah tubuh yang kekar dan tidak jauh darinya itu menuju ranjang. Tampaknya Max sudah tidak sadar lagi dan terdengar meracau tidak jelas.


"Hahaha, aku ini tidak pantas ya? Padahal aku sudah melakukan yang terbaik bukan? Kenapa? Dia meninggalkan ku, tidak ada lagi cinta untuk ku?"


"Hatiku sakit ketika melihat tidak ada apapun yang ia ingat akan itu, apa salahnya? Hah? Katakan!" Jim melepaskan sepatu Max dan langsung menyelimuti tubuh itu.


"Sakit sekali....." Setelah itu tidak ada lagi suara dan Jim mematikan lampu dan meninggalkan lampu tidur saja.


Diantara temaram lampu tidur, Jim merasa kasihan dengan kisah yang mengisi sosok Max. "Aku yakin kau akan kembali bahagia Tuan. Dan apa yang menjadi milikmu akan kembali meksipun dengan apa yang terjadi. Aku akan mendampingi mu hingga kau bisa bahagia seperti dulu." Selepas mengatakan itu, Jim dengan pelan pergi dari kamar itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Aku janji, semuanya ini tidak akan terjadi lagi. Kita, maksudnya keluarga kecil kita akan melanjutkan impian kita honey." Yana masih belum bicara, ia masih menatap wajah Vander yang menatap dirinya.


"Apa yang kau lihat? Kenapa diam saja? Apa ada yang masih menjanggal?"


"Ya, aku ingin bertanya..... Apa matamu berubah?" Pertanyaan itu tentu membuat Vander bingung.


"Maksudnya? Mataku tetap sama honey."


"Tidak, dalam ingatanku beberapa kali. Matamu, terlihat berbeda."

__ADS_1


'Jangan bilang..... Tidak! Aku harus segera mengatasinya.'


"Mungkin itu karena cahaya dan juga softlens yang aku gunakan honey. Atau karena bayangan mu yang berpikir manik mataku seperti idola yang kau idolakan, hmm?" Vander mengelus wajah lembut itu membuat Yana tampak memejamkan matanya.


"Mungkin juga, tapi dulu aku senang melihat matamu. Karena sangat indah."


"Ya, aku masih mengingat nya."


"Wajahmu tidak berubah, tapi matamu berbeda. Mungkin..... Shhshsh." Yana tampak memegangi kepalanya yang terasa sakit membuat Vander cemas.


"Ada apa honey?"


"Kepala ku sakit..."


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!


__ADS_1


__ADS_2