Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Belum Berakhir


__ADS_3

Karena kemeriahan pesta di ruangan lain, membuat ruangan yang terlibat baku hantam itu tidak terdengar. Setelah meyakini serangannya mendarat sempurna, Vander menarik kerah baju pria yang mengakui sesuatu itu. "Akhirnya ada pengakuan juga! Apa yang maksud mu?"


Max yang terlihat seperti terancam itu justru tertawa terbahak-bahak membuat matanya langsung ikut berubah. "Kau tidak sadar ya? Sayang sekali...... Aku pikir kau hebat, sehingga akan tau dengan cepat. Tapi ternyata aku salah ya..."


"Beraninya kau tertawa!" Pukulan berniat dilayangkan kembali, tapi Max langsung menangkal nya.


"Kenapa? Apa itu melukai harga dirimu? Benar?"


"Aku tidak memiliki masalah dengan mu, kenapa? Apa kau tertarik dengan istriku?"


"Istri ya? Bukannya kau akan menceraikan nya? Tidak! Tapi sudah, dan sedang dalam proses."


"Bagaimana kau tau?"


"Kau terkejut? Aku rasa begitu." Max dengan santainya bangkit dari cengkraman Vander yang menatapnya dengan berbagai macam tatapan.


"Apa yang kau rencanakan?"


"Sabar Vander, duduklah. Aku tidak akan lari, kau ingin dengar banyak hal kan?" Max duduk di salah satu kursi dan mengambil kan satu untuk Vander tapi pria itu tampaknya tak ingin.


"Jawab saja!"


"Ok, aku bermain dengan Yana. Kami memang bermain, dan tentunya dengan panas." Max menekankan kata panas membuat telinga Vander jadi berasap.


"Apa segitunya tidak ada wanita lain di matamu sehingga istri orang lain kau ambil?"


"Aku merebut? Tidak! Istrimu yang datang padaku. Aku hanya memakan umpan darinya." Vander membulatkan matanya mendengar pernyataan baru lagi.

__ADS_1


"Jangan kaget begitu, karena kejutan nya masih berlanjut. Kau masih kuat kan?"


"Yana tidak mungkin begitu...."


"Kau terlihat yakin, tapi melihat foto panas kami, kau tidak percaya padanya."


"Jawab saja!" Teriakkan Vander membuat Max tampak menyukai nya.


"Tenang..... Ingat saat kau pergi selama tujuh hari? Kami bertemu dan bermain selama itu. Yana terlihat begitu buas dan menikmatinya. Kenikmatan itu mengantarkan benih ku dirahim nya dan menghasilkan...."


"Tutup mulutmu! Kau sepakat dengan Yana mengatakan Xavier sebagai tameng kalian? Sepertinya kau buta karena tidak bisa melihat wajah Xavier yang seperti ku! Dia putraku!" Max bertepuk tangan dengan bahagia.


"Kau sangat menyayanginya, tapi sayang itu bukan putramu.... Kau lupa, selama pernikahan kalian Yana tidak bisa hamil, karena kau bermasalah. Aku tidak perlu mengatakan hal itu, hanya membuang waktu ku. Yang jelas, Xavier adalah putraku!"


"Sebelum tes DNA, wajah antara kami sudah membuktikannya!"


Vander tampak melalang buana mengingat disertai ucapan Max. "Kak Ander?"


Tubuh Vander langsung mundur ketika melihat manik Max berada di depan matanya dan membuat nya mengingat kembali hal yang ia sengaja lupakan.


"Tidak mungkin....."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Lain lagi dengan ruangan yang masih diselimuti oleh pesta, pria bawahan Max tengah berbicara melalui alat di telinga nya. "Segera ambil dan bawa pergi sesuai perintah tuan. Dan jangan lupa, rekaman yang telah tuan hadiahkan untuk anniversary pernikahan spesial ini." Tak lama ia mematikan panggilan dan maniknya menatap ke arah layar yang tengah menampilkan perjalanan kisah cinta orang tua Vander yang disaksikan semuanya.


Tapi ditengah tayangan itu, terjadi pemberhentian sementara dan membuat sesi perangkat penayangan segera mengatasinya.

__ADS_1


"Mungkin ada sedikit masalah." Ujar Papa Vander kepada anak dan istrinya.


Dan benar saja semuanya kembali berjalan semula. Tampak video kehamilan wanita yang merupakan mertua Yana hingga semuanya menjadi berbisik-bisik karena melihat tayangan sepasang anak laki-laki yang mereka kenali.


"Bukankah itu Tuan Vander? Lalu siapa anak disebelahnya?"


"Mereka seusia dan sangat mirip!"


"Apa tuan Vander memilki kembaran?"


"Hentikan tayangannya!" Tampak mertua Yana menjadi histeris dan mendekati infokus yang tengah berkerja.


"Nyonya, apa anda memiliki anak kembar?"


"Dimana putra anda satunya?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Musik tidak terdengar lagi diruangan yang menjadi hunian kedua pria itu. "Kau dengar? Musik itu berubah menjadi serangan pertanyaan yang terkubur selama ini. Selamat menikmati nya...." Vander segera pergi meninggalkan Max yang tersenyum menyeringai.


"Ini belum berakhir."


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya teman author. Ceritanya seru loh!

__ADS_1



__ADS_2