Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Kebohongan dan Kejujuran


__ADS_3

Diantara alunan musik itu terdengar pekikan yang membuat semua orang menjadi cemas dan penasaran, bukan hanya tamu tapi keluarga sendiri dan lebih tepatnya sang suami. Mendengar teriakan Yana yang berada di sekitarnya membuat Vander menghampiri istrinya yang berteriak keras.


"Ada apa honey?" Raut wajah Yana terlihat membeku dan terlihat kesulitan mengambil napas.


"Kenapa? Apa perut mu sakit?" Mertuanya turut mendekat memastikan keadaan menantu dan cucunya.


"Kakak ada apa?" Yana belum juga menjawab dan hanya memegangi perutnya yang membuat semua orang langsung mengambil kesimpulan.


"Mungkin terlalu lama berdiri, perutnya sakit." Celetuk seorang tamu di sana yang membuat Vander mengendong istrinya menjauh dari keramaian pesta.


Bisik-bisik kembali terdengar, ada yang mengerti ada juga yang menganggap itu seperti drama saja. "Silahkan nikmati jamuannya, maaf ada kendala sebentar." Sang Papa Vander menyatakan permohonan maaf kepada para tamu dan mereka memakluminya, diantara kerumunan tamu itu, maniknya bertatapan dengan sepasang mata yang membuat dirinya terpaku.


Ketika ingin mendekati sosok itu, ia terhalang dengan seorang pria yang membuat dirinya kehilangan jejak. "Maaf, aku tidak sengaja."


"Tidak apa Tuan, saya juga tidak hati-hati."


"Aku yakin mataku tidak salah!" Tangannya menghubungi seseorang yang terlihat pembicaraan serius dimulai diantara musik yang kembali mengalun.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Tuan, tidakkah itu sedikit berlebihan?" Manik tajam itu menyipit menatap pria didepannya.


"Berlebihan? Aku tidak merasa begitu. Lagipula kau tau Madam ku berdarah rendah dan ia akan berteriak ketika mendengarkan suara ku yang menghiasi malam panas kami, itu wajar saja. Anggap saja seperti para fans yang didekati oleh idolanya."

__ADS_1


Pria itu tidak menjawab lagi hanya memberikan respon mengangguk saja karena tidak ingin dalam sinar merah.


"Semuanya sudah saya atur tuan, kita akan kemana lebih dulu?" Mobil mewah itu mulai berjalan meninggalkan kediaman yang diselimuti pesta.


"Pulang saja, aku merasa lelah."


"Baik tuan."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kamar bernuansa tosca itu menjadi kerumunan beberapa orang dengan raut kekhawatiran. "Aku merasa sedikit sakit, dia menendang terlalu keras. Kakiku juga tidak stabil dan menjadi keseleo." Yana setengah jujur dan setengah bohong. Bagian jujurnya memang bayi nya menendang dengan sedikit kencang mungkin karena tau kehadiran ayah biologisnya.


Dan bagian bohong nya kaki nya baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. "Sini, mama pijat!" Yana tidak menolak dan tetap memainkan sandiwara dengan wajah kesakitan untuk meyakinkan semua orang.


"Disini?"


"Kalau pelan, nanti bisa bengkak. Vander menggenggam tangan istrinya dan satunya menyentuh perut buncit itu.


"Hei sayang, kenapa memberikan gol terlalu kencang? Lihat, Mama mu jadi kaget dan berteriak keras." Semua disana menjadi lebih tenang dan tersenyum melihat interaksi Vander pada bayinya.


"Mungkin dia juga senang karena sesuatu. Itu biasa terjadi, sebaiknya tidak perlu hak tahu lagi, pakai yang ini saja. Atau lebih baik istirahat saja?" Mertuanya memberikan penawaran untuk menantu nya yang selesai ia pijat.


"Tidak perlu ma, aku masih sanggup. Lagipula tidak enak dengan tamu dan kita belum ke acara intinya."

__ADS_1


"Kakak ipar benar! Kita akan bermain tebak-tebakan dengan foto masa kecil! Pasti akan sangat menyenangkan."


"Kalau tidak sanggup, bilang hmm?" Yana mengangguk sambil meyakinkan suaminya dengan membalas genggaman tangan itu.


"Tentu saja, tapi jangan jauh dariku."


"Tidak akan, maaf.... Tadi aku bicara dengan kolega dan meninggalkan mu sejenak."


"Tidak apa." Dengan sandal baru yang datar tapi berharga mahal, Yana serta yang lainnya kembali ke ruangan acara.


Yana menepis pikiran kedatangan Jaden disini, ia berpikir pasti kamera pengawas di rumah akan menangkap gambar pria itu yang datang dengan leluasa tanpa sepengetahuannya atau memang ia memiliki sesuatu yang Yana tidak ketahui.


'Sepertinya orang yang ku sewa tidak bertugas dengan baik, atau Jaden tidak semudah yang dibayangkan?'


"Tadi Mama dan papa menelpon, aku bilang semuanya baik dan mengirimkan foto putri mereka. Dan mereka bilang Putri mereka seperti ratu." Yana merasa senang dengan kabar kedua orang tuanya yang tidak bisa datang.


"Aku sangat merindukan mereka."


"Mereka akan datang setelah kelahiran cucu mereka."


"Hmmm, aku tidak sabar."


"Aku juga."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2