Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Pertarungan dimulai


__ADS_3

Amplop yang membalut surat dari rumah sakit itu akhirnya sepenuhnya terbuka. Tulisan disana membuat reaksi dari pria yang memegangnya tampak loading sejenak. Maniknya membaca dengan jelas tulisan disana yang memberitahukan kebenarannya.


Seketika ingatan kembali pada rumah sakit dengan sosok wanita yang menemaninya. "Bagaimana hasilnya dokter? Kami baik-baik saja kan? Tidak ada masalah kan?"


"Tenang honey, dengarkan dulu dokter nya." Tampak wanita cantik itu menenangkan suaminya yang tidak sabar mendengar laporan kesehatan mereka.


"Dari hasil pemeriksaan, istri anda Nyonya Yana sehat tanpa masalah, kesuburan sangat baik. Dan untuk anda tuan Vander kesehatan mengenai reproduksi anda juga baik, kalian berdua tidak ada masalah." Ada rasa senang di wajah serta hati keduanya.


"Tapi kenapa istri saya belum hamil juga dokter?"


"Sebaiknya untuk beberapa waktu, jangan terlalu banyak pikiran dan makanan nya dijaga, bukan hanya untuk sang istri tapi juga suami."


"Baik, terimakasih dokter."


Flashback end.....


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kertas itu perlahan tidak terbentuk lagi dan segera masuk ke tong sampah. "Aghhh!" Teriakan serta tangan yang sudah mengepal itu mendarat di dinding yang mengisi kamar itu.


"Aghhh, tidak! Tidak!" Beberapa kali ia mengucapkan kata yang sama sambil tangannya meninju dinding yang tidak bersalah itu.


Perlahan tangannya yang sudah mengalirkan cairan merah itu menjauh dari dinding. Tubuhnya perlahan mundur dan berhadapan dengan cermin yang memperlihatkan dirinya dengan keadaan kacau.


Tak lama sebuah sosok hadir di cermin yang sama memperlihatkan dirinya. "Xavier adalah putraku, bukan kau Vander! Kau itu mandul!"

__ADS_1


"Xavier bukan putramu!"


"Bagaimana rasanya menyayangi anak yang bukan darah daging mu sendiri?"


"Kau kaget? Menyakitkan bukan?" Satu persatu suara datang seolah mengejek dirinya yang berada di ruangan bernama kamar dengan kedap suara itu.


"Xavier bukan putramu!"


"Xavier bukan putramu!"


"Xavier bukan putramu!"


"TIDAK! Menyingkir kalian semua!" Vander memecahkan cermin yang berada dihadapannya dan seketika membuat suara yang menyoraki nya menghilang.


Mengangkat wajahnya yang terkena cairan merah yang telah menghiasi wajahnya, tak lama wajah sedih bak frustasi itu tertawa seketika. "Apapun yang sudah berada di genggaman ku tidak akan lepas. Yana, Xavier.... Mereka adalah milikku, kau akan lihat Max, meksipun kau adalah ayah Xavier tapi akulah yang akan dipanggil, dilihat dan selalu dipeluk nya. Aku tidak akan membiarkan kau bahagia bersama mereka, hanya aku! Vander!" Bak orang gila, Vander tertawa dengan pecahan kaca yang ia hamburakam bak uang.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Malam itu, entah mengapa Yana merasakan ada sesuatu yang menaiki ranjang tidurnya. Ketika ingin membuka mata, rasa kantuk lebih berkuasa dan membuat dirinya tetap terpejam dengan mimpi yang tengah mengalun di depannya.


Yana kembali lagi dimasa indah dirinya bersama Vander, pertemuan pertama mereka karena keluarga mereka. Kencan pertama, hingga akhirnya Yana menerima Vander menjadi kekasihnya dan berlanjut dengan hubungan mereka yang lebih serius.


Dalam mimpi indah itu, Yana masih merasakan kelembutan Vander, tatapan matanya serta tutur katanya yang membuat dia jatuh cinta. Hingga adegan romantis yang terjadi diantara mereka membuat dirinya tersenyum tanpa sadar.


Dan senyuman itu terlihat oleh manik yang lain yang berada di kamarnya. "Apa yang kau impikan? Apa itu tentang aku atau dia?" Ingin rasanya tangan itu menyapa pipi yang empuk nan halus itu, tapi ia urungkan seketika dan keluar dari sana setelah keinginan nya melihat putranya terpenuhi.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Baru saja Yana menikmati paginya dan juga tengah memasuki Xavier, sebuah panggilan membuat fokusnya terbagi. "Nomor ini..." Yana tak ragu menjawab panggilan itu.


"Halo?"


"Apa?" Dengan rasa terkejut Yana segera bangkit dan membuat Xavier kaget karena gerakan Mama nya.


Wanita yang tengah bekerja itu, langsung melangkah cepat mengikuti sosok yang keluar dari rumah. "Nyonya! Nyonya mau kemana?" Tapi sayangnya langkahnya kalah cepat dengan sosok yang dikejar.


"Nyonya! Astaga! Nyonya! Penjaga!" Tak ada penjaga membuat sosok yang membawa anak itu berlalu dengan mudah.


Ditengah kepanikannya, dia segera menghubungi seseorang yang berada di luar. "Tuan, nyonya berhasil keluar dengan tuan kecil."


Dan karena panggilan itu diseberang sana langsung melampiaskan kepada meja dan benda lainnya yang berada di hadapannya.


"Beraninya dia."


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!


__ADS_1


__ADS_2