Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Menyerang Kepercayaan


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu, Yana seringkali melihat Vander memandang lama wajah Xavier, komposisi pandangan itu bermacam-macam dan tidak bisa Yana jelaskan dengan kata-kata. Hanya saja pemikiran buruk mengenai Max atau Jaden yang mungkin melakukan sesuatu seperti ucapannya.


Yana merasa dibawah pria itu, sosok yang ia kira orang biasa nyatanya bukan tandingannya. Beberapa waktu ini, Yana juga tidak keluar tanpa keperluan yang jelas karena pertemuannya nya terakhir kali dengan pria itu membuat awal keretakan hubungan nya bersama Vander.


🌟🌟🌟🌟🌟


Yana yang tengah menikmati makan malam romantis bersama Vander dikejutkan dengan kedatangan Max ditempat yang sama bahkan pria itu berani masuk ke ruangan yang sudah di reservasi oleh sang suami.


"Keluar!" Teriak Yana.


"Kenapa? Kau takut? Aku masih beri kesempatan sebelum melancarkan aksi ku madam. Pikirkanlah....." Yana menepis tangan yang mencoba menyentuh dirinya.


"Pergi! Apa yang kau inginkan sebenarnya! Aku tidak memiliki permusuhan dengan mu!" Tapi Max malah terkekeh geli karenanya.


"Aku sudah katakan, tinggalkan Vander. Sangat mudah kan? Aku tidak suka mengulangi perkataan ku, tapi khusus dirimu mungkin tidak. Dan jangan berpikir aku mengatakan hal yang kau inginkan." Sungguh Yana tidak bisa bergerak saat ini, wanita itu baru menyadari bahwa Max tidak sebanding dengan tinggi dan ukuran pria itu.


"Kau salah satu orang yang menjadi penguji rumah tangga ku! Seharusnya aku ...."


"Kalau tidak bertemu dengan ku, kau pikir wajah Xavier akan tetap mirip?" Yana beberapa kali mendengar kalimat ambigu dari Max.


"Dia putraku dengan suamiku! Kau hanya pria bayaran sumber masalah!"


"Aku pemberi benihnya!" Beberapa waktu dengan ucapan yang tidak ada mau mengalah, Yana berhasil mengumpulkan tenaga nya tapi entah mengapa Max tidak memberikan perlawanan atau pertahanan justru menarik dirinya hingga mereka jatuh bersama dengan posisi intim.


"Ka...."


"Honey"? Pintu terbuka memperlihatkan Vander dengan sebuket bunga mawar yang indah ditangannya ditambah dengan senyuman manis yang menyurut kembali melihat adegan dihadapannya.

__ADS_1


"Honey, aku....."


"Maaf, aku salah ruangan. Aku tidak tau kita sama-sama merayakan sesuatu. Aku pikir ini ruangan ku." Sungguh begitu entengnya Max menjawab, meksipun sesama rekan kerja tapi bagi Vander ini tidak ada kaitannya bahkan emosi dengan kecurigaan besar tumbuh di hatinya.


"Apa anda tidak bisa membaca dengan baik?"


"Vander... Mataku sudah ditutup dengan keindahan di dalam ruangannya mau bagaimana lagi, pesanan ku sudah datang. Aku permisi.... Dan selamat hari anniversary pernikahan kalian." Yana mendekati suaminya yang sudah bermata tidak bersahabat.


"Honey, dia kemari dan aku mengatakan ini ruangan kita tapi ketika ia keluar gaunku terinjak dan membuat kami jatuh bersamaan. Sungguh tidak ada apapun, apa kau masih ragu?" Vander menatap wanita yang berbicara dengannya itu, sangat lekat membuat Yana cemas tapi ia berhasil menutupinya.


"Bunganya indah sekali, kau pasti berkerja keras untuk ini, terimakasih honey." Tak lupa dengan ciuman manis mendarat beberapa kali dan membuat Vander mulai luluh dan bersikap normal.


Tadinya Yana berpikir semuanya akan berakhir malam itu, tapi nyatanya sifat Vander mengalami perubahan, dia sering pulang terlambat dan jarang menghubungi Yana seperti sebelumnya bahkan untuk melihat Xavier pria itu terkadang menggunakan ponsel Mamang sang supir mereka.


Ketika Yana tanya, justru membuat mereka berdebat kecil dan terkadang tidak ada jawaban.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Ya, lakukan saja."


"Jam berapa nanti pulang? Mau ku buatkan cumi pedas? Aku melihat cumi berkualitas bagus di pasar dekat laut."


"Hmmmm." Yana mengelus wajah tegas itu, membuat sang empu langsung menatap nya.


"Katakan sesuatu, apa yang menganggu mu? Demi tuhan, aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Aku disini, dirumah ada begitu banyak saksi kau bisa tanyakan dan bukankah ada mata-mata mu juga? Apa yang membuat mu ragu? Aku hanya mencintaimu Vander!" Perlahan air mata Yana mengalir dan sentuhannya pun melemas, badai yang menyentuh rumah tangga nya membuat ia terluka ditambah dengan perubahan sikap Vander padanya.


"Kau berkata jujur?"

__ADS_1


"Apa aku membohongi mu? Bukankah kau tau bagaimana diriku. Apa semuanya hanya bualan saja?" Vander tidak mengatakan apapun lagi, ia menuju Xavier yang tengah bermain bersama mainan nya dan mengecup gemas putranya.


Yana berdiri mematung ketika merasakan sentuhan kecil di pundaknya lalu menghilang. Matanya hanya menangkap senyuman kecil dari Vander dan setidaknya mengobati kesedihannya.


"Dia tidak akan marah lama padaku. Aku akan memperbaiki lubang kecil ini, dan mencari sumber lubang besar nya! Aku yakin apapun yang dilakukan Max tidak akan membuat hubungan ku hancur, sebenarnya apa yang ia inginkan? Kemana aku harus meminta bantuan? Daddy? Tidak, itu bisa mengacaukan semuanya. Tapi... Tidak ada salahnya juga, aku bisa berikan alasan yang tepat." Seperti mendapatkan angin segar, Yana menghubungi Daddy nya ya berada di negara berbeda dengan nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Kau lihat? Badai dariku mulai menerbangkan kepercayaan pasangan itu."


"Iyaa Tuan, tapi apa langkah selanjutnya?"


"Kita tidak perlu, pemainnya yang akan membuka babak baru. Kita hanya perlu menonton dan ketika waktu yang aku inginkan datang kita akhiri semuanya dengan ledakan besar, boom!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Dengan semangat 45 Yana menuju perusahaan Vander tapi ketika sampai disana ia tidak bertemu dengan suaminya karena ada rapat diluar, Yana baru melihat chat dari suaminya dan tersenyum berharap semuanya akan kembali seperti semula.


Malamnya Yana belum mendapatkan kepulangan suaminya dan segera menghubungi adik iparnya yang hanya itu kuncinya. Tapi lebih dulu ia ditelepon oleh sang adik ipar.


"Kak, bisa berikan ponselnya kepada kak Vander? Atau tanyakan saja map yang dibawa besok, suamiku lupa dan ponselnya tidak dapat dihubungi." Yana menjadi tuli dan mematung mendengar ucapan itu dan panggilan terputus.


"Lalu dimana dia?" Belum selesai pemikiran buruk, ada sebuah pesan yang membuat manik Yana membulat dan segera ia bergegas kesana.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2