Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Badai masih menggulung


__ADS_3

Sungguh rasanya cuaca yang cerah berubah menjadi badai, bahkan berpotensi memporak-porandakan rumah tangga nya. Benar-benar tak terduga, Max yang selama ini menjadi pembicaraan panas adalah Jaden yang menyamar menjadi pria bayarannya tujuh hari.


"Xavier sudah bangun ternyata.... Wah, mata yang indah." Puji Max yang membuat Vander tersenyum senang sedangkan istrinya Yana bak tersentrum listrik yang membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Ah ya, manik putraku sangat khas." Jawab Vander penuh percaya diri.


"Honey, berikan sapaan pada Tuan Max." Yana tersentak dan seolah-olah sentuhan Vander menghilangkan efek sentruman itu.


"Ah ya, hai." Sungguh terasa sangat kaku sekali, tapi bagi Vander itu adalah hal yang terbaik karena istrinya tidak akan melihat siapapun dengan rupa apapun.


"Aku ucapkan sekali lagi selamat mengenai kebahagiaan kalian yang sudah menunggu begitu lama. Aku merasa tersentuh dengan berita yang ku dengar, perjuangan serta penantian kalian menunggu buah hati. Pasti sangat sulit kan? Karena biasanya sang suami akan mencari wanita lain untuk memberikan keturunannya atau mungkin sebaliknya sang istri yang mencari pria lain untuk membuahinya." Yana tau Max memberikan sindiran untuk nya.


"Ya, mungkin beberapa orang melakukan nya, tapi kami tidak! Aku percaya dengan usaha dan doa kami. Begitu juga istriku ini, ia tidak akan melakukan hal seperti itu, bahkan tidak untuk terpikirkan sebelumnya."


"Baguslah, itu sangat baik."


Xavier yang berada dalam dekapan Mama nya, tengah memandangi Max yang berada di depannya, dengan mata bulat indahnya ia melihat tak berkedip dengan wajah yang menggemaskan tak mengurangi kadar ketampanannya.


"Apa aku bisa menggendongnya? Dia melihat ku sejak tadi."


"Ya, sepertinya begitu. Lagipula Tuan Max tidak mungkin penculik anak kan?" Vander mengucapkannya dengan candaan yang dibalas senyuman oleh Max, sedangkan Yana merasa sesak.


Max menjulurkan tangannya untuk meminta Xavier dari gendongan mamanya. "Nyonya Yana?" Yana yang tidak tau merespon apa untuk saat ini, membuat Max dengan mudah mengambil putranya dan seketika berada dalam gendongan pria itu.


"Aku tidak menyangka, kau terlihat ahli tuan Max. Ini sudah bertanda untuk kau sendiri memiliknya."


"Benar, ini sudah bertanda. Bayi yang tampan, kau sangat tampan." Yana ingin beralasan mengambil putranya tapi sepertinya Xavier tidak terganggu sedikit pun dengan orang asing.


"Biasanya Xavier sulit dengan orang baru selain keluarga nya, tapi.... Kau sepertinya pengecualian."

__ADS_1


"Dia tau dengan baik, karena itu tidak menangis. Dia anak yang hebat, darahnya mengalir keperkasaan sejati, bukan begitu?" Vander tertawa mendengar pujian yang dilontarkan Max.


"Kau bisa saja Tuan Max." Para wanita yang merupakan teman serta undangan lainnya menatap kagum Max yang sungguh bersikap Daddy sekali dan hot bagi mereka.


"Apa kau sudah menikah tuan Max? Kalau belum, aku siap jadi ibu dari anakmu."


"Ibu dari anakku sudah ada, kalian terlambat." Tampak raut kekecewaan terlihat dari wajah cantik itu.


"Sayang sekali."


"Iya, betapa beruntungnya wanita itu. Aku sangat penasaran." Berbagai ucapan terlontar dari bibir mereka.


"Aku harus menyusui Xavier, berikan padaku." Manik Max yang tadinya syahdu mendekap putranya langsung berubah tajam menyipit menatap Yana. Tapi Yana tampak tak gentar sekarang.


"Tapi sepertinya ia masih kenyang. Dia tidak menangis, aku juga tidak terganggu."


"Xavier?" Diantara kerumunan yang lain, Yana melihat punggung Max yang membawa putranya membuat wanita itu segera menyusul.


Karena kecemasan yang begitu akut melanda dirinya, ia tidak sadar melangkah kemana mengikuti Max. "Apa yang kau lakukan? Berikan putraku!"


Max yang baru saja meletakkan Xavier di sofa yang aman dan nyaman segera menuju posisi Yana. "Dia putraku! Beraninya kau menghalangiku!"


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Yana mulai frustasi dan ia baru sadar tempat ini berada di ruangan belakang kediamannya.


"Kau yakin ingin dengar?" Yana mengangguk kecil dengan mata berair.


"Tinggalkan Vander, bisa?"


"Permintaan gila apa yang kau minta? Kau pikir siapa kau! Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku! Apa masalahnya dengan mu?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau merasa dia mencintaimu?"


"Ya! Kami saling mencintai! Kau pikir badai sepertimu akan merasakan rumah tangga ku? Kau tidak akan bisa!" Dengan penuh keyakinan Yana mengungkapkan nya.


"Kau sangat percaya diri sekali, baiklah! Kau ingin bertaruh? Jangan sebut namaku jika suamimu itu akan setia padamu, mungkin sekarang iya, tapi nanti...."


"Dendam apa yang kau miliki pada kami? Kau sengaja melakukannya sejak awal kan?"


"Kau terlambat menyadarinya Madam. Kau begitu hanyut dalam permainan panas kita hmm? Aku bisa berikan lagi padamu, bahkan anak yang banyak!" Setelah mengatakan itu, Yana melayangkan tamparan panas yang membuat Max menjadi geram.


"Kau pikir kau siapa hah! Beraninya kau!" Yana kesakitan karena tangannya dipegang erat oleh otot-otot kekar itu.


"Lepaskan! B@jingan! Kau salah bermain denganku! Kau akan lihat keluarga ku dan juga suamiku akan menghancurkan mu menjadi debu!"


"Baiklah, mulailah menghitung mundur sekarang! Setelah ini kita lihat apa kau bisa mempertahankan rumah tangga mu? Aku ingin lihat ketangguhan mu Madam! Sepertinya mata mu tidak bisa melihatnya!"Cengkraman tangan Yana terlepas membuat wanita itu meringis, Max menuju putranya sejenak dan tersenyum lalu pergi dengan badai yang menggebu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Tuan.... Pipi anda...."


"Cetak foto itu serta videonya, mulai saja kirimkan dan sebar luaskan segera. Aku ingin lihat kehancuran mereka!" Titah nya tanpa jeda.


"Baik Tuan."


Ketika mobil itu berjalan, Papa Vander terlihat menatap dari belakang sejak kedatangan pria itu hingga menghilang bersama mobilnya. "Dia lagi.... Mataku tidak salah, tapi kenapa ia tidak ditemukan di kamera sebelumnya? Aku harus memastikan!"


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2