Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Tugas


__ADS_3

Mobil itu lekas masuk setelah gerbang besar berhiaskan warna perak itu terbuka lebar. Setelah memastikan mobil milik majikan mereka masuk, gerbang kembali ditutup. Selain berada dalam perumahan yang begitu mewah, tetap saja sang pemilik rumah melindungi privasi nya dengan begitu baik.


Dengan sigap, pintu mobil itu terbuka membuat pria dengan aura tajam dan manik khasnya membawa sosok kecil di gendongan nya. "Kita sudah sampai putraku.... Kau tidak sabar untuk minum asi mu bukan?" Bayi mungil itu tampak mengejapkan matanya sebagai reaksi dari pertanyaan yang dilontarkan padanya.


Dengan langkah bertahap, pintu bermateri mahal itu menyambut kedatangannya disertai pelayan yang ahli melebihi kapasitas yang dicari orang awam. "Selamat datang kembali tuan."


"Bagaimana?"


"Nyonya sudah sadar tuan, tadi sempat histeris seperti biasa, tapi... Sesuai ucapan yang tuan katakan, itu membuatnya tenang. Selain itu juga sudah makan, terbukti bubur dengan salad buah langsung tandas."


"Bagus! Dan aku tidak ingin ada yang datang bahkan lewat disana! Mengerti?" Semuanya tampak mengangguk dan membuat Max bergegas menaiki tangga menuju kamar yang ditujunya.


Mendengar langkah kaki yang mendekat serta pintu yang terbuka membuat manik yang sempat terpejam menikmati mimpi bertemu sosok yang dirindukannya itu menjadi buyar berganti dengan rasa waspada da kesal. "Kau.... Dimana putraku? Ini semua salahmu! Mana putraku?" Ujarnya yang berada dalam gelungan selimut.


Tapi bukannya jawaban, ia justru melihat pria dihadapannya itu semakin mendekat dan membuat dirinya memasang ancang-ancang. "Jangan mendekat! Kalau tidak.... Aku .... Aaghh!" Yana yang berniat mengambil pisau kecil yang berfungsi untuk mengupas buah segar di dekatnya tidak bisa ia gapai karena kecepatan tangan kekar itu.


"Lepaskan! Apa yang ingin kau lakukan?"


"Yang seharusnya!"


"Beraninya kau! Lepas!" Bagaimana Yana tidak memberontak, satu tangan yang menahan tangannya dan satu lagi melaksanakan tugas melepaskan kancing baju yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Tugasmu membawa putraku! Dasar pembohong! Kau..."Berbagai macam ucapan dilontarkan Yana tapi tidak membuat tangan Max berhenti seolah ia mendengarkan musik film horor yang tengah bermain.


"Dasar cabu|!" Tenaga yang tengah dipulihkan tentu saja tidak sebanding dengan persenan kekuatan pria itu.


Dalam beberapa putaran, kancing baju itu sudah terlepas dan memperlihatkan dua melon yang siap dipanen. "Kau!" Setidaknya satu usaha Yana berhasil karena tangannya berhasil membuat goresan di punggung tangan Max.


"Diam!" Entah mengapa satu kata yang keluar dari bibir yang pernah saling bertaut itu membuat tubuh Yana merespon.


Apalagi manik yang seperti putranya itu membuat Yana terhipnotis, ada sesuatu yang ingin terbuka di pikiran Yana. Tapi sayangnya tidak bisa dijebol seolah ada yang menghalanginya. Malahan membuat kepala Yana menjadi pusing karena pergerakan yang dilakukan dengan kecepatan yang tidak bisa dikontrol.


"Jangan memaksa.... Aku sedang sakit..." Tapi tetap saja jari di punggung Yana berhasil membuka pengait itu dan membuat Yana terlihat pasrah.


"Aku ingin putraku... Xavier...." Jika tidak mempan dengan tindakan maka air mata Yana yang bekerja, tapi jangan harap Max akan terpengaruh.


"Ini putraku, Xavier. Mama sangat merindukanmu." Tak henti-hentinya tangan Yana mengelus rambut dan tangan putranya yang tengah menikmati sajian kehidupan nya itu.


Xavier yang tengah asyik menyusu hanya memainkan matanya membalas kebahagiaan Mama nya. Adegan penuh haru itu menjadi terganggu karena Yana merasa ada tatapan tidak baik kepada dirinya terutama bagian melon nya.


"Kenapa kau disini? Keluar! Dasar tidak tau malu!"


"Kenapa aku harus keluar? Ini rumahku.... Dan tidak perlu ditutupi, aku sudah merasakan dari melihatnya, bahkan seperti adegan yang tengah terjadi saat ini!" Max begitu santai mengatakannya sambung mencuri pandang kearah putranya.

__ADS_1


'Tunggu, kenapa bentuknya semakin.... Dan juga lebih...' Max seolah terhipnotis dengan kemulusan, kepadatan melon dihadapannya itu.


'Beraninya dia mengambil kesempatan!' Yana hanya bisa mengerti karena tidak mungkin ia menutupi melon nya karena dapat membuat Xavier terganggu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pintu berlambang singa itu terbuka dan membuat semua yang ada di baliknya langsung bertanya bak wartawan. "Bagaimana kondisi istriku?"


"Bagaimana kondisi Mama, dokter?"


"Nyonya mengalami shock, dan untung saya tidak serangan jantung. Diharapkan untuk menjaga pikiran serta perasaan Nyonya. Saya sudah melakukan tindakan dan besok Nyonya akan membaik. Tapi.... ingat sarannya."


Dibalik laporan dokter, Vander mengepalkan tangannya. 'Ini semua karena nya!'


"Kakak mau kemana?"


"Vander!" Tak peduli dengan pertanyaan dari yang lainnya, Vander langsung bergegas menuju mobil dan membawa nya entah kemana.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!



__ADS_2