Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Kemenangan dan Kekalahan


__ADS_3

Masih ditemani oleh pelayan setia nya, Yana duduk tanpa beranjak selain ke kamar mandi. Ucapan wanita paruh baya yang mengabdikan dirinya itu dibuktikan tanpa menye-menye. "Nyonya butuh yang lain?" Sebuah salad serta ikan bakar habis di makan Yana karena perutnya memang lapar.


"Tambahkan air saja, agak sedikit hangat ya." Pinta Yana sambil mengelus perutnya yang habis kesakitan karena ulahnya.


"Baik nyonya." Sekarang hanya Yana yang menjadi penghuni kamar besar itu.


"Maaf sayang, tapi Mama sangat takut akan hal ini." Jujur saja Yana menjadi wanita pemeran utama film horor yang diteror dengan pesan misterius dan yang lainnya. Sungguh membuat hidupnya tidak tenang.


"Aku tidak bisa begini terus. Ia pasti semakin bergerak, sebaiknya aku mengutus seseorang untuk menyelesaikan masalah ini tanpa masalah dan tentunya dipercaya. Ya, aku tidak punya pilihan lain." Ponsel miliknya tentu saja tidak satu, meksipun yang satunya pecah, bukan berarti alat komunikasi Yana terhenti.


Jari itu mengetikkan sesuatu dan Yana kembali merasakan kelegaan meskipun sejenak.


Tepat sesudahnya, pintu kembali dihadiri oleh wanita yang membawa minuman sesuai keinginan Yana. "Oh ya Bi, makanan sudah siap? Sebentar lagi Vander akan pulang." Dentingan jam menarik perhatian Yana mengingat waktu suaminya yang segera pulang.


"Sudah Nyonya. Nyonya jangan risau, dan kalau boleh saya tau, apa terjadi sesuatu Nyonya? Belakangan ini saya perhatikan nyonya sering drop. Itu tidak baik bagi kandungan nyonya, saya merasa itu menjadi tanggung jawab saya." Wanita itu bicara dengan pelan tapi sangat jelas.


"Hanya pekerjaan dan juga kehamilan pertama bik, aku sangat takut dengan kata dan mitos mengenai kehamilan ini. Akibatnya itu menjadi beban pikiran dan ..." Sungguh sangat ahli Yana bicara.


"Nyonya tidak perlu mendengar itu semua, cukup istirahat dan jaga makanan nyonya. Ini adalah kebahagiaan yang nyonya nantikan oleh semuanya. Jujur saja, maaf sebelumnya tapi pelayan disini juga tau apa yang dikatakan mertua nyonya."


"Benar, aku merasa sangat bersalah dengan itu. Aku tidak akan mengulanginya lagi, terimakasih." Senyum tulus Yana berikan kepada wanita seperti ibunya itu.


"Nyonya ingin mandi?"

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jam akhirnya menunjukkan pukul lima sore jug, hanya beberapa saat lagi, mobil yang menjadi tunggangan Vander akan datang disertai pria kekar mempesona itu. Yana tentunya sudah wangi serta bersiap-siap menanti kedatangan suaminya, rasa gelisah ia kesampingkan karena tidak ingin berdampak pada bayinya.


"Sebentar lagi, Papa mu akan pulang. Mama tidak sabar." Yana tentu saja tidak melepaskan tangannya dari perutnya yang membuat pelayan lain hanya senyum sendiri menyaksikan kebahagiaan majikan mereka.


Dan benar saja, tak lama gerbang terbuka lebar menyambut mobil hitam itu masuk ke halaman dan terpakir dengan indah.


"Honey......"


"Honey! Aku senang sekali!"


Vander yang terlihat bahagia langsung memeluk erat istrinya yang membuat Yana menjadi bingung dengan kebahagiaan suaminya.


"Aaa!" Yana kaget karena tubuh melayang di udara seiring kebahagiaan Vander yang begitu membara


Vander menurunkan istrinya dan mengecup perut istrinya yang tengah tumbuh anaknya. "Aku sangat senang sekali, seperti ada keajaiban yang datang honey. Seolah-olah anak kita yang memberikannya." Yana cukup geli karena kecupan yang terus mendarat di perutnya.


"Oh ya? Apa itu?" Tanya Yana.


"Ada kerja sama dari perusahaan yang besar bergerak di bidang properti serta seni yang tertarik bekerja sama dengan perusahaan kita." Manik Yana tentu membesar mendengar penuturan suaminya.


"Sungguh? Honey kau yang terbaik!" Yana memeluk bahagia Vander karena itu menjadi kebahagiaan besar bagi Vander.

__ADS_1


Yana tau jelas dengan perusahaan itu, tapi tidak tau sosok pemilik sebenarnya karena dirinya tidak pernah menampakkan diri ke publik. Yana baru tau, nama pemilik perusahaan itu adalah Maximilian yang dipanggil Max.


"Maxim? Ini sungguh keajaiban, pria yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya justru datang sendiri honey. Aku tau kenapa..."


"Kenapa? Tentu saja karena anak kita. Kedatangan nya membawa kebahagiaan yang besar untuk kita."


"Benar, tapi ada satu hal lagi." Vander tentu jadi penasaran menunggu kelanjutannya.


"Apa?" Vander mendekatkan wajahnya membuat Yana menatap balik wajah rupawan itu.


"Karena suamiku ini memang yang terbaik! Kerja keras serta kelihaian suamiku tidak bisa diragukan!" Setelah mengatakan itu, Yana mendaratkan ciuman di benda kenyal suaminya dan keduanya saling membelit.


Tak peduli dengan pintu masuk, keduanya sibuk dengan keromantisan mereka yang membuat pelayan disana memilih mundur.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sedangkan di sebuah bar mini, senyuman pria dengan foto dihadapannya ditambah dengan layangan anak panah yang tepat mendarat disana. "Langkah pertama! Skatmat!"


Mata yang memancarkan ketegasan dan ketajaman itu sangat senang dengan anak panah yang ia luncurkan mengenai sasaran. "Vander...... kau berada di bawah ku sekarang. Kita lihat berapa lama kebahagiaan akan menghuni dirimu."


Tangan yang tadinya melempar sekarang berubah menggenggam benda runcing tajam itu yang membuat aliran merah menetes. "Tuan... tangan anda..."


"Darah ini tidak ada apa-apanya dengan kemenanganku dan kekalahan Vander. Apa yang terkubur sekarang sudah bangkit! Aku kembali!" Senyum iblis tercetak sempurna di bibirnya beriringan dengan aliran yang semakin banyak.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2