
Hiasan yang mayoritas dihuni oleh warna biru sudah bertengger dan bersiap menyapa para tamu yang datang dengan keindahan mereka dengan berbagai harga yang bukan main. "Geser lagi! Sedikit lagi!" Beberapa kali tangan serta mata itu tak henti-hentinya melihat dekorasi yang sudah berdiam di tempatnya tapi masih nampak salah juga baginya sehingga memanggil orang dengan kekuatan otot untuk menggeser nya atau memindahkannya hingga terlihat cantik.
"Sempurna!" Akhirnya tangan yang asyik menggeser itu merasa lega dengan ucapan sempurna bak lagu yang pernah viral di masanya.
Setelah merasa ruangan dan dekorasi aman, wanita paruh dengan dress memukau itu menuju pintu yang dibaliknya tersembunyi bintang hari ini. "Bagaimana? Apa menantu ku sudah siap?" Perias yang tengah melaksanakan tugasnya menjadi kaget dengan kedatangan tuan rumah yang membayar mereka.
"Sentuhan terakhir nyonya."
"Aaaa..... Cantik sekali, menantu ku memang cantik. Seperti pengantin lima tahun lalu." Wajah cantik yang terpantul di cermin itu tersenyum manis karena pujian serta makeup yang sedikit dan membuat dirinya semakin berkilau.
"Mama, aku merasa ini...."
"Tidak perlu mengatakan apapun, bagaimana dengan baju nya? Nyaman kan? Apa itu membuat perut mu sakit?"
__ADS_1
"Tidak Ma, semuanya baik dan bajunya sangat nyaman cocok dengan usia kandungan ku. Bayiku merasa sangat senang dengan ini, tidak menganggu pergerakan nya." Dress bewarna putih salju itu membuat pesona Yana semakin menjadi dan lebih bersinar apalagi dengan aura kehamilannya.
"Baguslah, mama sangat senang. Awalnya Mama sedikit khawatir, tapi semuanya berakhir baik, ayo kita ke acara. Semuanya sudah datang, dan dimana putraku itu?" Sejak kedatangannya, maniknya belum menangkap wajah putranya Vander yang seharusnya sudah ada mengambil absen.
"Ada ma, dia....."
"Oh cantiknya istriku." Entah darimana datangnya, Vander sudah berada di sebelah istrinya dan tak lupa mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"Jadi sebelumnya aku tidak cantik?" Ibu hamil itu merasa sensitif dan tentu saja melayangkan pertanyaan mematikan yang ditakuti para pria.
"Enak saja! Ini acara penting, tidak ada gigit mengigit! Ayo, kita ke luar sayang." Yana mengikuti langkah mertuanya yang tentu saja mendengar dengan jelas ucapan putranya yang begitu maut itu.
Gerbang yang biasanya terbuka beberapa waktu dan orang tertentu sekarang terbuka untuk siapa saja dengan catatan undangan yang mereka dapat dan tentu saja bukan sembarangan orang yang datang.
__ADS_1
Perlahan semuanya menikmati sajian pembuka yang dihidangkan dengan rasa bintang lima dan bentuk yang mewah serta wangi dengan ciri khas tersendiri.
Diantara tamu undangan tentu terlihat Jaden dengan setelan abu-abu nya yang berkilau tidak menganggu mata melainkan menghiasi pandangan terutama wanita, dibantu postur tubuh serta wajahnya siapa yang tidak akan tertarik.
"Tuan...."
"Kau mau jarimu hilang satu? Tidak ada yang boleh menyentuhnya! Sebelum di tangan Ibu putraku tersayang."
"Maaf tuan, saya lupa." Jaden abal-abal tidak mendengarkan nya dan lebih melihat sekeliling mencari sang tuan rumah.
"Kau sangat cantik dengan dress salju itu membuat diriku membeku dan teringat malam panas kita Madam. Lihatlah, aku bawakan kado spesial untuk putra ku tersayang yang tumbuh di rahim mu, dan tentunya dihadapan mu, sapaan kedua..."
Entah mengapa langkah Yana merasa sedikit tersendat dengan hati yang berdebar seolah ada sesuatu yang menganggu dirinya.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.