
Jika di kamar mewah itu masih terjadi keheningan, maka lain lagi di kediaman Max. Terlihat pria itu datang dengan aura yang sudah tidak bersahabat. Para pelayan yang berdiri menyambut kedatangan tuan mereka langsung tidak berkutik dan berharap semoga mereka masih bisa melihat matahari esok hari.
"Bagaimana bisa terjadi?" Tanyanya dengan suara yang begitu deep dan juga posisi duduk bak raja di tahtanya.
Semua pelayan yang berada di hadapannya masih tertunduk takut untuk bicara, karena bagaimanapun mereka memang salah dan teledor sehingga peristiwa itu terjadi. "Apa semuanya bisu?"
Hingga ketika tidak ada yang maju dan berani bicara, seorang wanita berusia 30 an maju seolah menantang maut di depannya. "Maaf tuan, tapi nyonya pergi tanpa kami ketahui, padahal saat saya periksa.... Nyonya sudah tertidur setelah menyusui Tuan kecil." Dengan nada yang gentar, wanita itu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah ada yang menjawab pertanyaan mematikan itu semuanya sudah siap dengan konsekuensi yang terjadi. Dan benar saja tak lama terdengar suara meja yang sudah tergeser cukup jauh dari tempatnya dan bukan hanya itu juga terdengar suara amukan yang tertahan.
"Apa saja kerja kalian? Apa mata kalian semuanya buta? Hah! Jawab! Jangan diam membisu!"
"Maaf tuan, saya sedang berada di kamar mandi saat nyonya pergi."
"Kami juga sedang berada pada taman Tuan." Sekarang satu persatu diantara mereka sudah menjawab pertanyaan tanpa adanya campur ditutup-tutupi.
"Tuan.... Menurut kami, nyonya sepertinya sengaja pergi ketika jam sibuk kami. Karena biasanya Nyonya sedang tertidur setelah saya pastikan tuan." Perlahan, kaki itu mendekat diantara simpuhan pelayan miliknya.
__ADS_1
"Jim!" Panggilan itu membuat seorang pria berperawakan bak idol Korea dengan tambahan tubuh kekar langsung datang ke sana.
"Ya Tuan."
"Urus mereka! Mereka membuat aku kehilangan putraku!" Dengan amarah yang masih belum selesai, Max lebih memilih pergi dari sana meninggalkan para pelayan yang tentunya sudah ada yang mengurus.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Terlihat di ruang tamu, beberapa orang itu saling menunggu sesuatu. "Pokoknya aku tidak mau tau, aku ingin Vander menceraikan Yana." Tentu saja ucapan itu menimbulkan beberapa reaksi.
"Lalu apa? Jangan bilang kau masih membelanya setelah yang terjadi."
"Begitu? Baik, aku akui hal yang dilakukan Yana adalah salah, tapi bagaimana dengan putramu sendiri?" Tentu saja pertanyaan yang melibatkan nama putranya menjadi perhatian lebih dari wanita paruh baya itu.
"Apa maksudnya? Apa kau juga terpengaruh...."
"Tidak, tapi putramu sendiri yang mengakuinya dan juga kau telah melihat wanita itu. Aku benar kan?" Tampak wanita itu terdiam sejenak sambil mengingat apa maksud suaminya.
__ADS_1
"Jangan lupa, kesalahan dilakukan oleh keduanya. Kita tidak bisa membenarkan keduanya dan yang terpenting ada cucu kita. Jangan mencoba egois, dan bersikap benar diantara segalanya."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ketika tangan itu ingin menjauh mengikuti tubuh pemiliknya, tangan pria itu langsung menariknya agar kembali dekat dengannya.
"Yana, aku akan menerima semuanya. Apapun yang terjadi, Xavier tetap putraku. Dia adalah putra kita, dan aku yakin kau juga merasa begitu kan? Kau lebih percaya dengan kebenaran kita kan?"
"Dan aku tidak peduli dengan pria bernama Max itu, ia hanya ingin merusak hubungan kita."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!
__ADS_1