
Tidak peduli dengan jam yang menunjukkan pukul 3 pagi saat, keluarga Mertua Yana sudah tiba di rumah sakit Yana bersalin. Karena Vira memiliki bayi yang belum bisa diajak bepergian cukup jauh, maka hanya Mama mertua dan Papa mertua Yana saja yang hadir.
Ketika mereka tiba, dengan tak sabaran wanita itu bertanya ruangan menantu nya berada. "Pasien atas nama Yana diruangan berapa?" Seorang suster terlihat tak jauh dari mereka yang membuat dirinya menjadi objek pertanyaan.
"Ada di ruangan anggrek Bu, lurus saja lalu belok kanan."
"Terimakasih!" Dengan langkah seribu wanita itu lurus dan berbelok hingga akhirnya melihat tulisan anggrek, dan bukan hanya itu ia mereka juga melihat sang putra yang berada di luar sambil duduk menerawang.
"Vander!"
"Ma? Papa juga?"
"Tentu saja, kau tidak menghubungi kami, jadi dengan bantuan bibi kami tau dan segera menyusul. Bagaimana persalinan istrimu? Lancarkan? Putramu juga lahir sehat kan? Keduanya tidak ada masalah kan? Ayo jawab Mama!" Sang Mama terus mencerca Vander yang terlihat bingung mulai dari mana.
"Kenapa diam saja! Ayo jawab Mama!"
"Vander, apa terjadi sesuatu? Dan kenapa kau diluar? Tidak mendampingi istrimu di dalam." Kini giliran Papa nya yg bertanya dan terlihat Vander akan bicara dimulai dari pandangan matanya.
"Pa, putraku..... Dia.... Yana dia.. aku..."
"Katakan dengan jelas! Kau ini kenapa?"
Belum sempat Vander bicara jelas, suara tangisan bayi terdengar dari dalam dan membuat mertua Yana bergegas masuk.
"Mama?" Yana tentu kaget dengan kedatangan mertuanya yang ia prediksi akan sampai pagi tidak pagi buta ini.
"Syukurlah kau sehat, dan bayi mu?" Mertuanya mendekat ke arah bayi yang tengah Yana susui dan senyuman di wajahnya begitu lebar ketika mendekati sosok mungil yang sedang mengh1sap sumber kehidupan nya itu.
"Cucuku.... Dia kuat sekali menyusu, Mama ingin lihat wajah tampannya."
Ketika ada kesempatan, terlihat wajah sempurna bayi laki-laki itu yang membuat wanita itu sedikit terhenyak. "Wajahnya...." Dan untuk kedua kalinya Yana melihat ekspresi yang sama dari suami dan mertuanya.
"Ma? Mama!" Panggilan Yana membuat wanita itu kembali tersadar dan ia melangkahkan kakinya kembali mendekat.
__ADS_1
"Yana wajahnya seperti...."
"Xa..."
"Xavier kan Pa? Apa papa tau aku akan memberikan nama itu?" Yana terlihat girang dengan ucapan papa mertuanya yang dapat melihat dengan jelas bayi dalam gendongannya serta mengucapkan awalan nama yang sudah ia persiapkan.
"Suamiku, lihat! Wajahnya seperti Vander kecil! Tapi matanya sangat indah dan berbeda." Mata bulat itu mengandung keindahan dengan warnanya yang berbeda sehingga membuat yang melihatnya terpana.
"Bahkan putra kita tidak dapat berkata-kata karena melihat kemiripan wajah anaknya sendiri."
"Iya ma, aku sangat bahagia sampai tidak sempat menghubungi kalian. Putraku kami namai Xavier, Yana yang mengusulkan... Ia bilang diantara awal huruf nama kami berdua adalah X dan itu terlihat sangat cocok."
"Kau ini bagaimana, kita berdua yang membicarakan ini sebelumnya." Yana tersenyum tapi hatinya kebingungan bukan main, bagaimana wajah putranya tercetak jelas seperti Vander, bukankah Jaden tidak memiliki wajah seperti itu? Meskipun keduanya memiliki keseimbangan tubuh serta wajah yang memikat tapi tetap saja ini seperti keajaiban.
'Atau mungkin Vander tidak lagi mandul dengan usaha yang aku lakukan tanpa disadarinya? Buktinya, ini adalah putranya siapapun bisa melihat hal itu. Dan artinya Jaden tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk menggertak ku karena nyatanya ini bukan putranya, syukurlah... Ini adalah keajaiban!'
Ditengah kebahagiaan itu, pria selaku Papa Vander menatap dalam manik cucunya itu yang mengingatkan dirinya akan sesuatu. "Sangat mirip!" Ujarnya sambil melangkah keluar seolah mengambil napas dan yang lainnya tidak tau karena berinteraksi dengan si kecil Xavier.
Saat pria itu melangkah menuju lorong, ia bertabrakan dengan seorang pria berseragam perawat yang membuat dirinya menjatuhkan ponselnya. "Maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak, aku juga minta maaf." Pria itu turut mengambil barang miliknya yang jatuh dan segera bergegas pergi, tapi meskipun wajahnya menggunakan masker, tapi seolah papa Vander terpaku dengan suara itu.
"Permisi!" Perawat pria itu meninggalkan dirinya yang kembali sadar karena deringan ponsel.
🌟🌟🌟🌟🌟
Sebuah mobil menanti dirinya dan secepat kilat pakaian perawat itu terlepas dengan cepat bergantikan dengan sebuah kaos hitam yang membentuk otot tubuhnya.
Dengan kecekatan, pakaian perawat itu mendarat di tong sampah dan sang pembuang langsung masuk ke dalam mobil dengan seseorang yang sudah menantinya.
"Selamat datang lagi tuan, kita langsung pulang?"
"Ya, tapi kau sudah siapkan semuanya bukan? Aku ingin meledakkan yang lainnya setelah ini. Buruanku akan merasa diatas awan sekarang, tapi ia tidak tau wajah itu mengandung apa didalamnya."
__ADS_1
"Tentu tuan, saya bisa membawanya sekarang, jika tuan ingin."
"Hmmm, kau memang yang terbaik!" Mobil itu meninggalkan rumah sakit itu tanpa kecurigaan apapun.
Seorang jalan, pria itu menatap tangannya dan seolah menggendong bayi ia tersenyum senang. "Dia memang putraku, dan manik itu akan membuat mereka dalam bayangan masa lalu dan dosa mereka."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Ada apa? Kau tidak ingin menggendong cucu mu? Sejak datang kau diam dan entah melakukan apa." Wanita itu duduk bersama suaminya yang kembali setelah dari mana.
"Kau tidak merasa mengenali manik mata itu?"
"Tentu saja, itu milik ayahku! Kau ini bicara apa? Apa karena berbeda dari kedua orang tuanya? Bayi bisa mendapatkan dari garis keturunan ayahnya." Entah mengapa wanita itu menjadi kesal dengan pembicaraan suaminya dan kembali berlalu dari sana.
"Mungkin hanya aku yang tidak bisa seperti yang lainnya."
Hari ini Yana bisa pulang, dan baik dirinya dan Vander tak melewatkan apapun menatap wajah mungil yang sedang tertidur setelah selesai menyusu. "Ayo sayang papa, kita akan pulang."
"Dia tertidur pulas sekali."
"Iya ma, dia tidak begitu rewel selain lapar dan buang air." Yana didampingi oleh mertuanya menuju mobil yang akan membawa mereka ke kediaman indah mereka.
Ditengah penyambutan itu, ada sosok lain yang tidak disadari oleh Yana yang ketika ia lihat, wajahnya sumringah bahagia. "Mom! Dad!"
"Kejutan untuk putriku!" Yana tidak bisa berlari karena ada putranya yang tengah di gendongannya dan perlahan ia meluapkan rindu pada orangtuanya yang terpisah karena urusan bisnis.
"Kau sudah jadi seorang ibu sayang, dan lihatlah wajahnya duplikat Vander."
Mungkin karena ada kehebohan, Xavier terbangun dan membuat mata bulatnya terbukti membuat kedua orang tua Yana saling berpandangan.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1