Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Hadiah


__ADS_3

Malam ini Yana menginap di kediaman mertuanya, karena tidak mungkin mereka kembali pulang dengan keadaan selepas acara yang memakan tenaga serta waktu yang tidak cepat ditempuh.


"Minum dulu honey." Vander memberikan segelas susu dan beberapa vitamin untuk istrinya yang tengah berbaring dengan pakaian tidur berbahan satin terusan.


"Terimakasih honey." Yana menerimanya dengan segera, segelas susu itu sudah tandas dan berganti dengan kosong tanpa isi dan Yana lanjutkan dengan vitamin yang akan menyebrangi kerongkongan nya.


"Bagus sekali." Vander mengelus rambut hitam itu dan memberikan kecupan manis di kening istrinya.


"Aku mau tanya sesuatu." Vander mengangguk sambil menyalakan AC dengan suhu yang mereka butuhkan saat ini.


"Foto bayi itu... Apa memang bukan ulahmu honey?" Pertanyaan yang sama membuat Vander segera menuju ranjang dan menatap manik Yana.


"Bukan honey, aku tidak melakukannya. Mungkin tidak sengaja dimasukkan oleh pelayan atau pengisi acara." Penjelasan pertama nampaknya masih membuat Yana berpikir.


"Kenapa memikirkan itu? Ada yang menganggu?"


"Apa manik bayi bisa berubah?" Pertanyaan Yana membuat elusan lembut itu terhenti dan aksi tatapan itu turut berhenti.


"Tidak bisa, tapi karena pengaruh cahaya dan alat pemotretan membuat itu terlihat berbeda. Ada lagi honey?" Vander menangkup pipi Yana yang mulai berisi sehingga membuat dirinya semakin menggemaskan di bagian tertentu.


"Tidak, aku sudah mengerti. Maaf ya, aku kesal tanpa sebab." Yana juga tidak mengerti akan dirinya semenjak kehamilan ini, apalagi dengan persoalan Jaden belum juga habis.


"Lagipula foto bayi diriku akan sama dengan putra kita dan tentunya dengan manik dirimu honey, anggap saja seperti melihatnya hmmm?" Sekarang giliran Yana yang merasa dingin tidak dapat bergerak.

__ADS_1


Meksipun elusan di perutnya tengah berjalan membuat dirinya menjadi gelisah, bagaimana mungkin ia tidak sampai memikirkan kesana. Wajah anaknya belum tau seperti dirinya dan tidak akan mungkin juga seperti Vander karena bukan pria itu ayah biologisnya.


'Bagaimana ini? Bagaimana jika dia seperti Jaden? Tidak! Aku yakin dia seperti ku! Tapi bagaimana kalau tidak?' Pemikiran baru kembali membuat kepala Yana ingin meledak dan semakin kacau.


"Honey? Honey!"


"Ha?" Yana seolah baru mendapatkan kesadarannya.


"Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikiran aneh, katakan jika ada yang menganggu."


"Tidak ada, aku hanya membayangkan perkataan mu honey." Vander mulai berbaring dan berhadapan dengan perut istrinya sambil mengajak bicara yang membuat Yana tersenyum tapi berpikir keras.


'Aku berharap semoga tidak seperti dirinya.'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sebuah langkah kaki ikut terdengar dan bayangannya menutupi cahaya yang tengah menyinari itu. "Aku penasaran bagaimana jadinya mereka melihat bayi ku menjadi bagian mereka. Apa kebahagiaan yang akan datang? Atau justru kehancuran seperti yang mereka lakukan!" Pigura yang tadinya terpajang rapi itu menjadi miring karena kemarahan pria dengan atasan polos dan terlihat keringat mengalir dari wajah hingga dadanya yang membuat tubuhnya mengkilap dan membuat aura kes3ksian serta k3jantanan semakin terpancar.


"Aku tidak sabar melihat itu. Kalian dengar? Bersiaplah melihat hadiah dariku."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pagi ini kembali dihebohkan dengan pembukaan kado dari pesta semalam yang terlihat semuanya bersemangat menyusun dan mengunboxing jejeran hadiah dengan berbagai kertas kado dan ikatan menarik itu.

__ADS_1


"Wah.... Banyak sekali! Lihat! Ini sangat banyak dan besar! Aku tidak sabar membukanya!" Adik Vander terlihat begitu bersemangat mengambil satu kado yang menarik bagi matanya dan bersiap membukanya.


"Boleh ku buka kakak ipar?" Yana mengangguk sambil menikmati sarapan pagi nya dan juga selesai bertukar pesan dengan seseorang yang akan membantu menemukan akar permasalahannya.


"Let's go!" Bukan hanya adik iparnya tapi yang lainnya juga ikut membuka atas persetujuan sang pemilik.


Berbagai hadiah sudah terlepas dari bingkisan mereka, sekarang dapat terlihat bebas, perlengkapan bayi dan juga beberapa perhiasan serta sejumlah uang dengan nominal bukan main sesama rekan bisnis. "Wah, ini terlihat unik! Ukurannya juga besar dibandingkan yang lain, apa ya isinya....."


"Eits, sepertinya ada nama pemberinya." Ujar mertua Yana yang membuat Vira adik ipar Yana menuju tulisan itu.


"Iya, biar ku bacakan!" Semuanya menjadi penasaran dengan hadiah terakhir itu.


"Dari Mr SX? Apa maksudnya?"


"Mungkin six! Atau nama samaran, sini aku buka!" Vira berebut bersama suaminya sedangkan Vander dan juga Yana saling memandang serta otak mereka berpikir mengenai pemilik ini.


"Ah aku baru ingat, itu dari rekan baru ku, ingat honey, tuan Max!"


"Max? Sepertinya begitu, mungkin penulis nya salah ejaan. Ayo kita lihat!" Vira akhirnya berhasil membuka bingkisan kado itu dan semuanya menatap dengan lekat hadiahnya.


"Wah! Ini menarik Kakak, kakak ipar!"


Yana yang ingin bangkit dari kursinya dikejutkan dengan bunyi pesan masuk yang membuat mata Yana membulat. "Kau suka hadiah ku Madam?"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2