
Vander tentu saja mempertanyakan bagaimana pria itu tau mengenai kelahiran putranya yang bahkan belum dikabarkan kepada siapapun selain keluarga nya.
"Max?" Panggil Vander sambil menunggu jawaban.
"Ah ya.... Saat 7 bulanan aku datang dan jujur saja, kalender ku seperti wanita yang suka menandai hari penting. Jadi, aku bisa melihat bulan ini adalah kelahiran anak mu." Jawaban Max masuk akal, dan tentunya tidak akan dilakukan oleh yang lain.
"Baik, sepertinya kau memiliki keunikan yang lainnya dan tidak aku ketahui."
"Terimakasih, dan sekali lagi aku senang dengan kehadiran bayi mu...."
"Xavier, namanya Xavier." Max duduk diarahkan oleh Vander sambil telinganya mendengar nama bayi itu.
"Nama yang bagus. Pasti sangat spesial kan?"
"Ya, setiap nama sangat spesial."
Terdengar suara tuangan air yang berlabel sampanye itu di gelas para pebisnis yang berwajah tampan. "Terimakasih, kau tidak perlu seharusnya karena ini adalah bagian dari ku."
"Tidak masalah, anggap saja sebelum tuan rumah sendiri yang memulai. Kebahagiaan tetap harus dirayakan bukan."
"Maaf mungkin terkesan pribadi, tapi...... Kau sudah menikah atau memilki kekasih?" Gelas bagian Max diletakkan setelah mendengar pertanyaan pria disebelahnya.
"Tidak keduanya."
"Kenapa? Masalah karir sudah sangat menjanjikan, pasti banyak yang mengantri untuk itu."
"Ya, tapi masalah hati dan masa lalu tidak bisa dihapuskan begitu saja." Dalam benak Vander, pria ini memiliki permasalahan belum move on dari masa lalunya.
__ADS_1
"Pastinya sangat berat, tapi seiring berjalannya waktu pasti akan ditemukan nanti."
"Benar, dan aku sudah menemukannya."
"Wah, itu sangat bagus. Lancarkan serangan berikutnya, sebelum lepas lagi." Vander tertawa kecil sambil mengucapkannya.
"Ya, akan ada serangan demi serangan. Kau akan lihat hasilnya."
"Aku jadi tidak sabar."
"Aku juga." Tanpa Vander tau, Max mengeluarkan senyuman yang memiliki makna tersirat.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Setelah kelahiran sang anak, tentu saja perayaan tidak akan lepas dari itu semua. Kembali rumah itu dihiasi dengan seindah mungkin, Yana merasa sangat bahagia karena selain ada mertuanya juga ada orang tuanya yang memiliki waktu selama sepekan ini sebelum kembali ke negara karena orang tua Yana tidak berada disini.
"Cucu nenek, sangat tampan hmmm. Lihatlah, dia sudah bangun dan tidak menangis, sudah kenyang ya?" Mommy Yana mendekati cucu lelakinya yang terlihat tenang setelah diberi ASI oleh putrinya.
"Terimakasih mommy, itu semua tidak lepas dari doa Mommy. Jujur saja, aku sudah merasa putus asa, tapi takdir berkata lain."
Xavier yang berada dalam gendongan neneknya terlihat anteng saja, hingga Yana selesai melakukan hal yang lain. "Mommy, tidakkah mommy merasa netra Xavier akan sesuatu? Entah mengapa aku merasa tidak asing, apa garis keturunan dari kita?"
Senyum yang tadinya merekah perlahan layu mendengar pertanyaan putrinya. "A.... Itu.... Garis keturunan...."
"Dari Mama! Itu Ayah Mama yang memilikinya, Xavier mendapatkan nya dari sana. Itu sangat langka." Mertua Yana tiba-tiba saja muncul dan ikut celetuk antara obrolan ibu dan anak itu.
"Begitu rupanya. Pantas saja aku tidak asing, tapi aku lupa karena bertemu hanya dua kali saja." Yana pernah bertemu dengan kakek Vander tapi dapat dihitung jari saja karena pria itu akhirnya meninggal sebelum pernikahan Yana.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Undangan kembali hadir dan memasuki kediaman Tuan dan nyonya Vander, mereka hadir untuk ikut berbahagia sekaligus melihat wajah putra dari pasangan CEO dan pengusaha terkenal bukan main.
Yana memakai dress panjang bewarna rose dan perhiasan yang senada dengan itu. Putranya juga terlihat tampan tanpa perubahan apapun dan sungguh duplikat Vander yang memakai tuxedo silver yang sangat cocok untuk dirinya. Keluarga kecil itu dijuluki keluarga good looking yang membuat pencari berita mengambil potret mereka dan hanya beberapa saja, karena Vander tidak ingin ketidaknyamanan terjadi.
"Oh ya honey. Aku lupa kau belum bertemu dengan Tuan Max kan?"
"Iya, kemarin saat tujuh bulanan aku belum bertemu dan juga potretnya tidak ada." Yana menjawab apa adanya ya membuat Vander terkekeh.
"Tak apa, sekarang akan bertemu dan kali ini bertemu secara langsung."
"Aku tidak masalah, karena tidak ada yang tampan selain suamiku ini." Yana tidak tertarik dengan pria manapun meksipun memiliki paras tampan seperti idaman para wanita.
"Mama Xavier sangat pandai. Aku mencintaimu honey."
"Aku juga." Pemandangan keluarga bahagia itu tidak luput dari mata pria di belakang mereka.
"Jangan harap kali ini hanya sapaan saja Madam. Karena dimulai dari sini, aku akan ada di depan matamu dan kita lihat reaksi mu." Gelas yang tadinya disajikan pelayan ia tinggalkan ketika melihat momen yang cocok untuk kedatangannya.
"Honey, aku ingin ke toilet sebentar."
"Iya, aku akan bersama putra kita." Yana bergegas menuju toilet dan ketika masalah yang ia hadapi telah ia keluarkan di toilet. Pintu yang ia buka menjadi masalah baru baginya.
"Selamat sore Madam, kau merindukanku?"
"Jaden!" secepat kilat Jaden membawa Yana kembali masuk dan membungkam bibir wanita itu.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.