Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Pangeran


__ADS_3

Hari ini menjadi hari yang melekat dalam sepasang suami istri itu yang menuju rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan dan terutama sekali jenis bayi yang tengah tumbuh didalamnya. "Kau tau kenapa hari ini aku tidak menyetir sendiri?" Tanya Vander yang berada dibelakang bersama Yana sambil tangannya tak beranjak dari perut buncitnya.


"Kenapa?" Tanya Yana sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut.


"Karena aku ingin bersama istri serta anak ku tanpa ada gangguan." Jawaban Vander dengan kekehan yang membuat Mamang yang tengah bertugas hanya bisa diam dengan perasaan serba salah melihat keromantisan majikannya.


"Manis sekali. Suamiku memang yang terbaik!" Yana melayangkan ciuman manis nan lembut di rahang Vander membuat sang empu langsung tersenyum senang.


"Setelah ini, akan aku balas lebih besar." Yana yang mendengar nya bukan takut tapi tertawa yang membuat perjalanan keduanya dihiasi canda tawa.


Akhirnya keduanya sampai di depan rumah sakit yang selalu menjadi tujuan keduanya selama 6 bulan terakhir ini. "Ayo honey." Dengan perlahan Vander membawa istrinya memasuki rumah sakit berkalangan kaya tanpa kartu apapun selain kartu emas.


"Janji dengan dokter Rey." Vander menyampaikan kepada resepsionis yang berada didepannya.


"Dokter sudah di ruangannya, silakan masuk saja tuan dan nyonya." Wanita berpakaian putih dengan riasan flawless itu tersenyum ramah dengan pasien yang datang ke tempat kerjanya.


Tak lama pintu itu terbuka menampilkan dokter berkacamata tengah membaca laporan pasiennya. "Selamat datang tuan dan nyonya Vander. Mari silahkan duduk."


Pasangan suami istri itu langsung duduk sambil saling menyapa. "Kau ini formal sekali, kita sudah berteman apa masih kurang?" Penuturan Vander membuat pria bernama Roy itu tertawa kecil mendengar nya.


"Baiklah Vander, bagaimana kabar mu Yana?"


"Baik, sangat baik."


"Aku dapat melihatnya, sepertinya pengusaha kecantikan ini memberikan pelayanan terbaik untuk istrinya."


"Tentu saja, dia adalah istriku dan hidupku! Sudah, periksa anak ku, aku tidak sabar ingin tau jenisnya."

__ADS_1


"Kau ingin jenis kelaminnya apa?" Roy menjadi penasaran sambil melihat Yana berbaring dibantu suaminya.


Sebelum menjawab, Vander menatap istrinya dan tersenyum sambil mengecup tangan lembut nan wangi itu. "Apa saja, yang penting sehat. Aku tidak peduli dengan itu, aku ingin anak dan istriku sehat." Jawaban Vander membuat Yana tersenyum haru begitu juga dengan sang dokter tapi tidak memperlihatkan nya.


"Awww, romantis sekali! Aku jadi iri."


"Karena itu menikah lah! Apa kau tidak khawatir senjata mu akan karatan!"


"Sabar... Baiklah bayi manis, mari kita lihat dirimu sebelum dokter yang tampan ini memukul wajah papa mu." Dengan segera Roy memberikan gel di perut Yana lalu segera melaksanakan tugasnya yang akan disampaikan oleh monitor canggih di depan mereka.


"Lihat.... Ini dia, wah semuanya baik dan mari kita lihat apakah dia tuan putri atau seorang pangeran."


Ditengah suasana mendebarkan itu, sebuah ketukan pintu membuat mereka terhenti sejenak dan terlihat seorang OB datang dengan nampan ditangannya. "Permisi Dok, saya bawakan pesanan dokter."


"Ya, letakkan saja disana." Setelah itu Roy kembali fokus dengan tugasnya dan Yana merasa telinganya tidak asing dengan suara itu tapi ia fokusnya terbagi dengan ucapan Roy.


"Selamat ya, ia ternyata seorang pangeran." Wajah bahagia terpancar dari wajah suami istri itu.


"Iya, dia putra kita." Jawab Yana yang juga ikut bahagia dengan pemeriksaan kali ini.


Tapi diantara wajah kebahagiaan dan tersenyum itu, ada wajah lain yang juga bahagia serta tersenyum kecil. "Putraku." Gumamnya dengan suara kecil yang hampir tak terdengar.


"Kenapa belum juga?" Roy melihat OB itu untuk belum juga pergi setelah mengantar minuman nya.


"Iya dok, saya tadi membereskan meja dokter."


"Baiklah, sudah. Kau boleh keluar, terimakasih." Pria itu melangkah pergi tapi matanya menatap layar serta wajah Yana yang tidak melihat dirinya.

__ADS_1


Setelah kepergian sang OB, Yana kembali bangkit dari ranjang pemeriksaan dan mengambil hasil USG putra mereka. "Ini hasilnya, dan ...." Vander lebih dulu mengambil hasil USG itu dengan semangat dan membuat Roy geleng-geleng kepala.


"Putraku...."


"Terimakasih Roy, dia sehat kan?" Entah mengapa Yana kembali bertanya memastikan keadaan bayinya.


"Tenang saja dia sehat, hanya saja jangan banyak pikiran, itu bisa mempengaruhinya, ok?" Yana mengangguk kecil.


"Ah ya, aku ingin bertanya..." Roy merapikan jas nya dan melepaskan kacamata nya karena sudah berfirasat pertanyaan yang akan diajukan itu dipastikan aneh.


"Tanya saja?" Yana juga ikut penasaran dengan pertanyaan suaminya.


"Bagaimana dengan serangan rudal ku? Apa yang lebih bagus? Tembak dalam atau..." Vander tidak melanjutkan ucapannya karena merasakan cubitan di pinggang nya.


"Jangan sekarang honey, aku masih bertanya."


"Untuk trimester ini tidak masalah. Bahkan lebih dianjurkan, asal kau bisa mengendalikan tembakan dan posisi nya, kau harus tau posisi yang benar." Vander tentu saja semakin tersenyum lebar dan Yana hanya menunduk malu.


🌟🌟🌟🌟🌟


Dibagian ganti pakaian, tubuh kekar itu terlihat mengkilap karena tidak ada AC yang biasanya menyapu tubuhnya dan siapapun yang melihat akan membuat mata itu membulat disertai keinginan bermain panas.


"Ini ku kembalikan pakaian mu, terimakasih. Aku dapat melihat putraku yang tengah tumbuh dan segera lahir." Baju itu ia pasang dengan sempurna karena hatinya yang tengah senang.


Dan tak lupa uang diberikan yang tentunya tidak sedikit di dalam saku celana pria yang tidak sadarkan diri itu. "Sampai jumpa lagi." Maniknya menatap ke atas dan dibalik mata kamera itu seorang pria mengendalikan rekaman itu.


"Semuanya beres tuan, saya akan segera kesana."

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak


__ADS_2