
Musim terus berganti dengan putaran yang tidak bisa diganggu gugat, hingga Yana sudah puas melihat dari dingin hingga panas di negara ini. Sekarang tengah terjadi musim semi, Yana berniat mengajak putranya untuk melihat bunga yang tengah bermekaran nan terlihat indah dan penuh warna seperti kehidupannya yang sekarang.
"Ayo Xavier, kita melihat bunga yang tengah mekar." Sosok tampan dihadapannya langsung menoleh dan tersenyum.
"Mami, jangan lupa dengan buah melon kesukaan ku." Sambil memakai topi di kepalanya, Xavier mengingatkan mami nya.
"Tidak, ini sudah siap. Kita tinggal berangkat saja." Sekarang Xavier sudah berusia lima tahun, tubuh yang dulunya sering Yana gendong sekarang sudah berjalan dengan baik mengikuti langkahnya.
Waktu yang berjalan begitu cepat membuat semuanya berubah seketika. Beberapa kali, Yana mendengar kabar mengenai Vander yang sekarang berada di rumah sakit jiwa karena gangguan pada dirinya.
Dia tidak bisa melihat ataupun memiliki keinginan kesana, karena jujur saja hatinya belum sembuh atas yang dilakukan pria itu kepada dirinya. Beriringan dengan bertambahnya usia Xavier, ingatan Yana juga bertambah dan begitu mengingat dengan jelas.
Kecelakaan dengan Xander, hingga ia menikah dengan Vander karena memorinya yang merangkap bahwa Vander adalah Xander. Hingga pertemuannya dengan Max alias Jaden yang menjadi jalan keluar masalah rumah tangganya.
Meksipun terkadang, Yana berpikir bahwa Vander bisa hangat, tapi pria itu juga bisa membunuhnya dengan rasa dingin yang dimilikinya. Dan Xavier, adalah keajaiban yang terlahir untuk menjadi obat bagi rasa sakitnya. Tidak peduli dengan siapa yang menghadirkan nya, bagi Yana itu adalah keajaiban.
"Kalian mau pergi?" Tanya Papa Yana yang melihat putri dengan cucu nya.
"Ya kakek, aku itu melihat tulip yang sedang mekar bersama mami."
"Pasti menyenangkan, kakek lupa... Apa cucu kakek yang tampan ini bisa mengambilkan kacamata kakek?" Tentu saja Xavier langsung mengangguk dan pergi ke tempat kecamatan itu berada.
"Apa yang ingin Papa katakan?"
__ADS_1
"Ini mengenai Vander dan....."
"Aku tidak peduli dengan itu lagi, bukankah papa bilang. Kubur semuanya, aku tidak masalah dengan papanya dan juga Vera tapi aku tidak bisa menerima yang lainnya."
"Papa tau, tapi ini...."
"Kalaupun itu kabar baik, biarlah. Sebenci apapun aku adanya, aku juga berharap ia sembuh dan menjadi lebih baik. Dan aku yakin itu juga bukan kabar yang buruk, karena aku baru saja berkirim pesan beberapa waktu lalu." Melihat reaksi putrinya, akhirnya pria yang sudah menjadi semakin tua itu memilih diam dan bertepatan dengan kedatangan Xavier.
"Kakek, ini kacamata nya."
"Terimakasih cucu kakek."
"Ayo sayang, kita berangkat. Salam pada kakek dulu."
"Kakek, aku pergi dulu."
"Sungguh? Tapi aku tidak ulang tahun, apa bisa juga?"
"Tentu saja, apapun yang diminta dengan tulus dan sungguh-sungguh maka akan tercapai."
"Kalau begitu aku berharap bertemu dengan Daddy ku! Upss! Maksudnya... Di mimpiku." Yana hanya bisa tersenyum kecil melihat dan mendengar harapan putranya.
"Ayo sayang, nanti keburu ramai." Setelah berpamitan, Yana dan putranya segera pergi.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Apanya? Tentu saja gagal, aku rasa lebih baik mereka bertemu langsung."
"Tapi mungkin itu akan..."
"Mereka sudah dewasa, jangan khawatir."
"Begitukah? Tapi sebelumnya kau yang tampak khawatir suamiku dan juga mengatakan...."
"Sudah, aku merasa pegal. Ayo bantu aku sedikit istriku." Dengan sentuhan lembut yang tidak termakan usia itu membuat istrinya tertawa.
"Kita sudah tua."
"Siapa yang bilang? Cucu kita bahkan baru satu."
" Memang mau berapa?"
"Lima, lihat saja. Setelah ini kita akan dikerumuni oleh mereka."
"Aku tidak percaya, keajaiban itu datang."
"Dia sudah ada juga, hanya saja kita terkadang kita tidak menyadarinya."
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.