Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Kiriman di Tengah Kesunyian


__ADS_3

Keinginan untuk membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke luar langsung terhenti bak lampu merah di jalan raya.


"Kau mau kemana?" Sosok pria dengan jas yang sudah tidak melekat lagi di tubuhnya langsung menyapanya.


"Aku mau keluar." Cukup lama keheningan melanda keduanya di depan teras rumah besar itu.


"Lagipula aku sudah sembuh dan juga.... Aghhh!" Belum selesai Yana bicara tubuhnya sudah diangkat bak benda yang begitu ringan tak memiliki beban berat di bahu tegap itu dan langsung membawanya masuk begitu saja sambil matanya mengintruksikan agar pintu itu kembali tertutup.


"Apa yang kau lakukan? Aku mau pergi!"


"Tidak ada yang boleh keluar tanpa izinku."


"Aku juga punya kehidupan, rumah, pekerjaan dan juga...."


"Suami? Atau mantan suami?"


"Apa peduli mu, kita tidak memiliki hubungan apapun! Jangan berpikir karena malam tujuh hari itu kau merasa berkuasa!"


"Aku punya hubungan karena putraku bersama mu! Dan ia membutuhkanmu." Yana merasakan hembusan nafas Max di wajahnya, tampak mata yang sudah mengalami hari yang berat itu masih dengan nyalang menatapnya.


"Kenapa kau begitu percaya Xavier adalah putramu? Dari segi manapun tidak ada kemiripan." Max semakin mendekat dan sekarang tidak ada lagi jarak diantara keduanya.


"Kau tidak buta kan? Atau cinta sungguh membuat mata menjadi buta?" Ada satu yang menarik bagi Yana dari wajah Max.


"Matamu...." Max menjauhkan diri nya dari Yana karena mendengar tangisan Xavier.

__ADS_1


Dengan sigap Xavier sekarang sudah berada dalam dekapan Max. "Kau haus putraku?" Sambil berbalik Max tidak mengatakan apapun pada Yana hanya mengulurkan tangannya yang menjadi landasan Xavier.


Mendengar tangisan putranya, tentu Yana segera mengambil alih dan membawanya ke ranjang dan berbalik untuk menutupi bongkahan melon nya yang siap disantap Xavier. "Hah!" Yana kembali kaget tapi bibirnya langsung terkunci dengan tangan kekar itu.


"Kau bisa menganggu Xavier." Merasa wanita itu sudah diam, dengan segera bibir itu kembali leluasa.


"Kau bisa membuatku serangan jantung karena kau seperti hantu!" Tidak ada balasan dari Max, matanya terarah pada Xavier yang tengah menikmati santapan nya.


Yana tanpa sadar memperhatikan Max yang menatap kegiatan kecil itu. 'Entah mengapa aku merasa kau orang yang dekat denganku. Tapi..... Kau juga penyebab kekacauan hidupku. Tidak! Aku tidak boleh seperti ini.' Seolah tersadar dengan apa yang dilakukan oleh Max, Yana menyingkirkan segala hal yang mungkin mempengaruhinya.


"Kenapa kau lepaskan. Dia masih ingin menyusu." Tampak Max protes dengan apa yang Yana lakukan karena Xavier masih haus.


"Bayi tidak hanya menghlsap satu saja, tapi keduanya. Bukan hanya yang kanan tapi juga yang kiri, sama seperti orang dewasa yang makan dan tentunya juga membutuhkan minuman."


"Begitu rupanya." Kembali Xavier mengh1sap dengan semangat bagian kiri bongkahan kehidupannya.


"Apa alasan kau melakukan semua ini?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di ruangan makan itu tidak terasa seperti suasana yang sebelumnya. Tidak ada aura hangat atau percakapan hangat dari anggota keluarga itu. "Bagaimana Xavier, cucu mama? Kenapa belum juga dibawa kesini?" Dengan kursi tersendiri, mama Vander bertanya mengenai cucunya.


"Mama jangan khawatir, aku pastikan Xavier akan kembali ke sini, dengan selamat." Mencoba menghibur sang Mama, Vander tentu akan melakukan segalanya.


"Iya, aku juga sudah menghubungi Yana." Manik istrinya langsung berubah membuat suaminya langsung paham.

__ADS_1


"Aku tau semuanya, tapi apapun itu kita tidak bisa mengambil langkah seperti ini. Bagaimanapun ini permasalahan anak-anak kita, biarkan mereka mengurus nya, kita tidak tau... Mungkin saja Yana tidak ingin melakukan hal ini. Jika dilihat, pria bernama Max itu mempunyai masalah dengan keluarga kita."


"Papa benar, kak Yana tidak mungkin melakukan hal itu. Kakak ipar sangat mencintai kakak, ditambah lagi dengan kehadiran putra kalian, kenapa kakak langsung menyerah? Apa tidak memikirkan Xavier? Dia adalah putra Kaka dan garis keturunan keluarga kita. Kita harus mempertahankan nya kakak! Dan jujur saja aku ingin tau, kenapa kakak begitu mudah ingin melayangkan gugatan cerai pada kakak ipar? Apa yang dikatakan atau dilakukan pria bernama Max itu?"


Suasana hening meliputi ruangan makan itu, tampak Vander diam sambil menyiapkan kata-katanya. 'Benar, kalau aku menceraikan Yana maka itu akan membuat dia menang. Aku tidak akan membiarkan nya, selama Yana dan yang lainnya belum mengetahui apapun maka semuanya akan aman. Dan mengenai Xavier..."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Layar ponsel mahal itu tampak menyala menandakan ada pesan masuk yang membuat sang pemilik langsung melihatnya dengan segera.


Ternyata bukan sekedar pesan, tapi panggilan yang membuat jari itu menggeser tombol hijau itu segera. "Katakan, bagaimana hasilnya?"


"Tuan Vander, hasilnya sudah keluar. Saya akan mengirimkan laporan kesehatan anda, silakan anda lihat sendiri."


Beberapa menit kemudian....


"Tuan, ada kiriman paket untuk anda." Seorang pelayan mengantarkan paket berbentuk surat yang merupakan surat kesehatan yang Vander lakukan mengenai kesuburannya.


"Pergilah." Sekarang hanya Vander dan surat yang masih berbalut amplop itu yang berada ditangannya.


Dengan gemetar yang tidak bisa dikendalikan dan juga napas yang terasa tercekat, Vander mengambil napas terlebih dahulu sebanyak-banyaknya sebelum tangannya membuka segel itu.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!



__ADS_2