
Vander pulang sesuai janjinya, terlihat pintu dibuka oleh pelayan yang membuat Vander bertanya mengenai istrinya. "Dimana nyonya?"
"Nyonya di kamar tuan, sedang menidurkan Tuan kecil Xavier. Nyonya sudah bilang kepulangan tuan."
"Baiklah, bawakan ini." Vander memberikan jas yang dipakainya selama seharian ini dan tentunya pelayan itu segera pergi.
Kaki Vander langsung menaiki tangga dan berniat menuju kamarnya, tapi entah mengapa ia mengurungkan niatnya dan menuju ruangan kerjanya. Tampak Vander mengeluarkan beberapa dokumen yang akan ia tanda tangani sambil menunggu minuman yang akan dibawakan untuk nya.
Ketika pintu diketuk, Vander langsung menyuruh masuk karena berfikir bahwa minumannya sudah datang. Tapi saat pintu itu terbuka terlihat wanita dengan baju tidur mininya terlihat. "Apa lama?" Yana datang dengan minuman di tangannya dan menuju meja suaminya.
"Tidak, aku pikir kau masih di kamar."
"Xavier sudah tidur, suamiku pasti lelah." Yana menjalarkan tangannya ke bahu Vander dan mulai melakukan pijatan lembut disana.
"Iya pekerjaan lumayan banyak tapi setelah pulang semuanya jadi hilang." Jawab Vander sambil menikmati minumannya.
'Lelah karena bermain panas dengan wanita itu, pembohong.' Sambil mendumel kesal, Yana memperhatikan dokumen yang berjajar di meja Vander dan membuat senyuman terkembang di wajahnya.
" Dokumen nya lumayan banyak, mau ku bantu honey? Karena aku ingin kita tidak bersamaan." Ujar Yana dengan mengeluarkan bujuk rayunya.
"Boleh, pisahkan yang sudah dan belum ya." Yana mengangguk mengerti sambil memulai. Satu persatu dokumen Yana berikan dan ditandatangani Vander sambil diselingi oleh pembicaraan.
__ADS_1
Entah mengapa harum tubuh Yana membuat konsentrasi Vander terganggu, bagaimana pun juga, hasr@tnya langsung muncul apalagi dihadapkan dengan Yana yang memiliki tubuh indah serta wajah menawan. Vander tak memungkiri hal itu, ia mengakui fakta yang terpampang di matanya.
Belum lagi dengan buah melon Yana yang semakin berisi dan menggairahkan baginya setelah melahirkan. Yana yang melihat gangguan pada Vander langsung paham dan mulai bermain. "Ada apa? Sudah mengantuk?" Tanya Yana pura-pura tidak tau.
"Tidak, tapi sepertinya ada yang menganggu konsentrasi ku."
"Apa itu? Apa ada masalah, tintanya habis? Atau salah ketik?"
"Ini!" Sekarang pulpen hitam itu berada di sela dua buah melon Yana yang indah dan bulat padat.
"Tinggal beberapa dokumen lagi, bagaimana kalau selesaikan dulu." Tawar Tania tapi tentu saja Vander tidak ingin rugi.
"Boleh, tapi sepertinya tangan satunya ingin bermain dengan melon. Dan juga aku ingin ini..." Tunjuk Vander pada bibir seksi itu.
Langsung saja beriringan dengan Yana memberikan dokumen lainnya, kedua tangan Vander juga bekerja dan bibirnya juga menikmati madu di sana. Yana yang merasakan serangan itu tetap menjalankan rencana nya. 'Tanda tangani dan semuanya selesai.' Sepertinya Vander mulai beringas dan menyerang leher serta tempat melon itu berada dengan bibirnya.
Yana yang melihat dokumen rahasia nya sudah ditandatangani langsung menyembunyikan nya dengan cara menarik tubuh Vander yang membuat mereka menempel dan semakin intens. "Aku ingin disini." Sekarang pulpen yang berada d tangan kanannya sudah melayang dan tidak tau dimana karena Vander sekarang menarik Yana untuk ke sofa melanjutkan permainan panas mereka.
Tampak Yana tidak menolak dan sesekali melakukan balasan yang membuat Vander semakin panas bukan main. Dengan cekatan, baju tidur mini Yana tidak lagi di tempat dan tercecer di lantai. Melihat tubuh Yana membuat Vander semakin berkuasa dan melanjutkan dengan tidak sabaran.
Meskipun Yana merasa sudah tidak sudi lagi, tapi rencana yang sudah ia lakukan membuat sentuhan dan juga kewajiban terakhirnya. Karena tidak bisa Yana pungkiri, Vander memiliki tempat di hati dan pikirannya, tapi bukan berarti rencana melepaskan diri dari Vander akan goyah.
__ADS_1
'Aku berikan diriku padamu terakhir kalinya, dan jangan harap setelah ini kau bisa menjangkau ku dan putraku.' Merasakan rudal balistik itu memasukinya, tubuh Yana tentu merespon dan tidak lupa dengan racauan Vander ketika rudalnya terjepit.
"Tidak berubah, nikmat sekali." Malam itu, keduanya kembali melakukan aktivitas yang dulu tidak pernah luput dari rutinitas mereka.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pagi harinya, Vander pergi bekerja dan diantarkan oleh Yana hingga ke gerbang kediaman mereka. "Aku pergi dulu, aku akan pulang sebelum jam delapan."
"Iya, apa boleh aku pergi?" Tanya Yana membuat Vander langsung mengangkat setuju.
"Ya, kau ingin belanja? Aku dengar ada launching kalung terbaru. Kau mau kesana kan?" Yana mengangguk saja membuat Vander melanjutkan langkahnya dan lambaian tangan Yana dibalas Vander tanpa ia ketahui itu adalah lambaian terakhir.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suara pendeteksi detak jantung itu mulai tidak beraturan dan membuat sosok didalamnya menjadi panik. "Dokter!" Tak lama dokter langsung tiba dan segera melakukan penanganan.
"Tolong keluar sebentar." Sosok itu langsung keluar dan melihat dari kaca tubuh yang terbaring itu tengah berjuang.
"Ayo bertahanlah, aku yakin kedua cahaya mu akan segera mendekat kembali. Aku mohon bertahanlah Xander...."
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.