Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Harta di Villa


__ADS_3

Tampaknya hari ini Yana menuju sebuah tempat yang ia rindukan. Tempat yang menjadi kesukaannya dan juga tempat yang rela ia habiskan semua waktunya disana sampai di jemput oleh kedua orang tuanya.


"Nanti saya jemput jam berapa nona?" Tanya sang supir setelah menurunkan Yana dengan putranya di depan sebuah bangunan bernama villa keluarga mereka.


"Aku akan hubungi. Kau bisa pulang saja." Mendengar penuturan majikannya, sang supir langsung mengangguk setuju sambil meninggalkan bangunan itu.


Yana melangkah lagi, dan langsung disambut oleh sang penjaga villa yang merupakan kepercayaan keluarga nya selama bertahun-tahun. "Nona, selamat datang kembali." Sebuah pelukan Yana berikan dan disambut baik, sungguh wanita yang berusia tak jauh dari Mama nya sudah mengabdi di sana.


"Bagaimana kabar bibi?" Yana memanggil wanita itu dengan sebutan bibi, karena sudah seperti keluarga dan ibu keduanya.


"Sangat baik Nona. Bibi sangat senang mendengar Nona kembali dan juga datang dengan pangeran tampan ini." Tampak sang bibi melihat Xavier yang berada di gendongan Yana.


Bayi tampan itu tampak tersenyum seolah menyapa bibi yang seperti neneknya. "Dia sangat tampan."


"Beri salam kepada nenek Xavier. Halo nenek." Yana tampak melambaikan tangan Xavier dan disambut baik oleh putranya.


"Halo tampan, oh.... Sungguh sangat manis dan menggemaskan...."


Yana menatap ruangan yang merupakan ruang santai di villa nya. "Tidak ada yang berubah, Bibi menjaganya dengan baik, terimakasih banyak."


"Nona bicara apa, ini sudah kewajiban bibi. Oh ya, Bibi sudah bersihkan kamar nona dan juga menambahkan tempat tidur untuk pangeran tampan ini." Yana mengikuti langkah bibi menuju kamarnya, ketika pintu itu terbuka, tampak cat, perabot kamar serta yang lainnya tidak ada yang berubah.


"Persis seperti aku masih remaja. Tidak ada yang berubah...." Yana menatap dengan takjub kamarnya yang sejak kecil hingga remaja ia tempati ketika disini.

__ADS_1


"Bibi tidak akan melakukan perubahan apapun, semuanya masih seperti semula Nona."


"Terimakasih banyak bibi. Dimana anak-anak bibi? Dan Paman, aku belum melihatnya."


"Suami bibi sedang ke supermarket terdekat. Begitu mendengar Nona kembali, ia sangat antusias dan semangat empat lima. Sedangkan anak-anak bibi di rantau, mereka sudah berkeluarga kecuali di kecil yang masih sendiri." Jelas sang bibi sambil menyalakan lampu.


" Syukurlah semuanya baik."


"Nona istirahatlah, Bibi akan selesaikan makanan untuk hari ini."


"Iya." Yana meletakkan putranya di ranjang yang sama dengannya, tampak Xavier begitu menyukainya dan tersenyum girang membuat Yana juga senang.


"Kau suka disini sayang? Ini tempat kesukaan Mama. Sekarang ini menjadi tempat kesukaan kita berdua."


Xavier yang bersama dengan bibi, membuat Yana leluasa memisahkan perhiasan dan juga album foto nya yang masih tersimpan rapi di lemari kamar nya. Satu persatu Yana bereskan sesuai dengan tempatnya.


Sesekali, wanita itu tersenyum melihat album atau barang yang ia temukan karena mengingatkannya dengan masa lalu. "Ternyata albumnya disini, aku sudah mencarinya cukup lama. Untung saja aku bongkar lagi." Yana membersihkan debu yang mungkin menempel karena barang-barang itu bertumpuk.


"Nah, sudah." Ketika Yana ingin beranjak, dan menutup nakas lemari serta lacinya. Ada sebuah laci kecil dengan cukup lebar tapi tidak begitu tinggi yang tersembunyi jika tidak dilihat dengan baik. Lemari dikamar nya ada beberapa dan satu lemari merupakan lemari kayu antik peninggalan kakek neneknya yang memiliki seribu laci atau penyimpanan.


"Apa aku ketinggalan sesuatu? Baiklah, mari kita lihat..." Yana menarik pembuka laci kecil berlambang kepala singa coklat pekat itu dan terlihat isinya yang seperti album fan juga kotak perhiasan bewarna merah hati.


"Album lagi? Dan satu set perhiasan?" Yana tampak mencoba mengingat tapi tidak bisa ia ingat. Sepertinya ia harus membuka album itu untuk melihat lebih jelas.

__ADS_1


"Journey X&Y? Apa ini milik nenek?" Karena rasa penasaran yang sudah tidak tertahankan lagi, Yana segera mengeluarkan album itu dari tempatnya dan album bewarna biru laut itu cukup tebal dibandingkan album yang lain. Lembaran pertama Yana buka dengan jarinya dan maniknya menangkap sosok yang terpampang di foto halaman pertama.


'12 Januari, ini adalah pertama kalinya....' Yana membalikkan halaman berikutnya hingga foto dengan sosok yang sama masih menghiasi setiap halaman dan yang membedakan adalah tanggal serta momen nya.


'Aku suka matanya, seolah aku tenggelam di dalamnya.'


'Lalu apa yang ingin kau lakukan dengan mataku?'


'Aku ingin anak-anak kita yang mewarisi nya.' Bak film, sebuah adegan pembicaraan sepasang kekasih berputar di kepalanya.


'Lurus saja, dan pelan-pelan aku ingin kita lama sampai.'


'Kenapa?'


'Karena aku sedang menyimpan wajahmu serta apa yang ada padamu.'


'Kalau ada yang seperti ku bagaimana? Apa kau bisa bedakan?'


'Bisa, dengan matamu. Aku tau itu sangat spesial.' Keduanya tersenyum di tengah jalanan sepi itu tapi beberapa waktu kemudian, terdengar suara tabrakan dari belakang yang menghantam kendaraan keduanya hingga suasana tentram itu berubah menjadi teriakkan.


'Yana!'


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2