
Sekarang sang tuan rumah sudah berkumpul dan membuat para tamu menatap dengan berbagai tatapan. Bahkan bisik-bisik tidak terelakkan lagi dan tentunya tidak terdengar kecuali bisikan dengan suara bak toa.
Senyum tersungging jelas di wajah mertua Yana yang menunggu hal ini, dan dia memperlihatkan kepada teman-temannya bahwa menantunya bisa mengandung dan akan melahirkan cucu untuk dirinya.
"Baiklah, karena sang ibu yang sudah tiba dengan aura kehamilan yang terpancar dengan kebahagiaan luar biasa ini.... Kita mulai saja acaranya." Seorang pemandu acara di datangkan untuk memandu acara baby shower yang berbahasa gaul ini sesuai permintaan sang mertua.
Para hadirin mulai mendekat ke arah pemilik acara dan tentunya sang ibu hamil yang menjadi bintang kali ini. Dengan berbagai kado yang dengan harga bukan main mereka akan memberikan kepada Yana.
"Wah, akhirnya penantian keluarga kalian berakhir juga. Dan semoga lancar hingga persalinan ya." Salah seorang teman mertua Yana datang pertama lebih dulu memberikan ucapan selamat dan hadiah.
"Terimakasih jeng. Aku juga akan menggendong cucu ku sebentar lagi." Mertua Yana memberikan senyum terbaiknya kepada teman bisinis suaminya itu yang tentunya juga sosialita.
"Terimakasih Nyonya Ana." Vander serta Yana mengucapkan secara bersamaan.
Wanita bergaya glamor itu melangkah pergi dan memberikan tempat bagi tamu yang lainnya. Teman-teman Vander juga turut datang dan memberikan ucapan selamat mereka tentunya dengan celetukan masing-masing.
"Akhirnya tembakan teman kita ini tepat sasaran juga. Selamat kawan!" Pelukan ala pria mereka lakukan dan Yana tentu mengamatinya.
"Seorang putra, penantian mu berbuah manis kawan."
"Terimakasih kawan. Nikmati jamuannya dan juga...." Vander mengedipkan matanya dan tentu langsung di tangkap dengan baik oleh sesama pria itu.
Yana yang berada disebelahnya tentu mulai memainkan teknik yang dimiliki oleh para wanita yang membuat sinyal buruk menghampiri Vander. "Itu honey, dia ini belum menikah, siapa tau ia akan bertemu dengan jodohnya disini."
"Iya Yana, jangan berpikiran buruk. Kau tau.... Vander hanya mencintai mu dan tidak akan berpaling, dia ini cinta mati padamu!" Vander tertawa mendengar ucapan temannya yang membuka isi hatinya.
Yana yang mendengarnya menjadi bahagia dan hanya dapat menunjukkan dengan rona pipinya yang membuat dirinya semakin cantik. Teman-teman Vander juga tertawa, rahasia Vander terbuka sekarang dan ditengah kebahagiaan itu para photografi mulai bekerja.
__ADS_1
"Baiklah, satu....dua... tiga!" Semuanya tersenyum menghadap kamera dan sudah tertangkap oleh sinar kamera dan siap dipajang di album.
Suara tawa menghiasi acara tujuh bulanan itu, para keluarga, kerabat dan teman hadir disana. "Kakak ipar! Selamat ya! Aku sangat bahagia dan ini membuktikan pada Mama bahwa penantian itu sangat diperlukan serta bumbu kesabaran." Bisik adik iparnya membuat Yana tersenyum serta mengangguk kecil.
Diantara keluarga Vander hanya adik iparnya saja yang mendukung dirinya ditengah omongan orang-orang yang mempertanyakan kehamilannya persis ditodong pertanyaan ketika lebaran bagi pasangan yang sudah menikah.
"Terimakasih banyak, aku begini karena dukungan mu juga. Ngomong-ngomong bagaimana kabar keponakan ku?"
"Tentu saja baik Bibi cantik."
"Kakak, aku senang kau tidak menerima tawaran Mama."
"Kenapa aku harus menerimanya? Kita tau Mama bagaimana, dan juga sudah tau cara menghadapinya bukan begitu?" Adiknya mengangguk senang kedua saudara itu saling menyayangi dan sering setuju dalam berbagai hal.
"Kakak yang terbaik!"
"Mereka bicara, itu hal yang wajar kan? Kau ini..." Suaminya akhirnya ikut nimbrung melihat kekepoan istrinya terhadap kedua anaknya yang sudah besar itu, tapi senyuman dirinya menjadi pudar ditambah air mata yang mulai menggenang seolah ada sesuatu disana ketika melihat lanjutan interaksi keluarganya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tatapan mata Jaden tertuju pada panggung yang dihiasi itu. "Langsung tuan?"
"Ya, kau akan lihat bagaimana sapaan ku pada ibu anakku."
"Iya tuan." Jaden mulai mendekat dan langkah kakinya tersamarkan dengan pembicaraan orang-orang serta musik yang mengalun menghiasi acara.
Vander yang tengah bicara dengan Pamannya langsung teralihkan ke sebelah kanan setelah melihat kedatangan sosok yang dikenalnya. "Selamat Tuan Vander! Selamat, aku ucapkan untuk mu." Uluran tangan itu disambut Vander dengan baik dan keduanya saling mengumbar senyum.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Max, kau sudah menyempatkan diri untuk datang."
"Tidak masalah, aku mendapatkan undangan tentu saja aku harus datang bukan? Lagipula ini acara yang sangat membahagiakan untukmu."
"Aku senang sekali mendengarnya. Ahh... Ini..."
"Hadiah untuk calon bayi." Vander menerima sebuah bingkisan.
"Mari, istriku disana."
"Ya, mari." Manik Max menatap ke arah tunjuk jari Vander yang memperlihatkan wanita hamil yang dikelilingi beberapa orang dan terlihat bicara.
Perasaan Yana yang tadinya berdebar sekarang menjadi lebih kencang dan membuat omongan yang ditujukan untuknya tidak terdengar lagi. 'Ada apa ini?'
Yana mengedarkan pandangannya dan terlihat suaminya datang dengan beberapa pria yang Yana pastikan adalah kolega suaminya. "Honey, mereka adalah rekan bisnis ku dan ini adalah istriku."
"Wah, selamat ya. Akhirnya kalian mendapatkan buah penantian kalian." Satu persatu mereka memberikan ucapan selamat dan berjejer rapi untuk mengambil gambar dan hadiah yang mereka bawa sudah diletakkan di tempat yang seharusnya.
"Baik, satu.... dua...tiga!" Suara pengambilan gambar terdengar dan begitu juga dengan sebuah suara yang berada di balik tubuh Yana yang membuat dirinya membeku.
"Aku datang lagi Madam, dan aku datang untuk melihat putraku di acara bahagia nya."
"Aghhh!"
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1