
Kepala pria lebih dari setengah abad itu tampak bekerja keras setelah mendengar ucapan putranya mengenai masalah yang terjadi pada rumah tangga putranya. "Jangan mengada-ada Vander, apa ini?"
"Papa tidak percaya? Aku juga begitu... Awalnya, tapi setelah melihat buktinya semuanya jelas Papa. Apa Papa tidak percaya padaku? Aku tidak mungkin berbohong hal seperti ini."
"Kalau begitu, panggil Yana kita bicarakan bersama. Ini bukan hanya menyangkut kau dan Yana saja atau keluarga tapi ada Xavier di antara kalian. Apa setidaknya kalian pikirkan?"
"Aku sudah pikirkan, dan aku ingin hak asuh Xavier di tanganku Papa."
"Hubungi Yana."
"Papa yakin? Karena setelah mendengar nama pria yang menjadi selingkuhan nya, Papa mungkin berpikir ulang."
"Siapa dia?" Pria itu langsung penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh putranya.
"Rekan bisnis ku... Papa baru saja bertemu dengannya, Max!" Maniknya langsung membesar mendengar nama itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ketika mata Yana terbuka, ia langsung melihat ke sebelahnya dan terlihat putranya sudah berada di sana. "Xavier....." Yana menggendong putranya yang terlihat ikut bangun dan menghis@p jarinya yang menandakan sesuatu. "Kau lapar sayang? Ayo minum dulu sayang." Yana melihat sekeliling kamar siapa tau ada Max disana.
"Sepertinya dia sudah pergi, baguslah. Apa semalaman kau bersamanya sayang?" Tentu saja Xavier tidak menjawab, ia sibuk dengan kegiatan untuk mengisi perutnya setelah semalaman bersama Daddy nya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Baru saja Xavier sudah segar dengan air yang dimandikan padanya, ketukan pintu menganggu kegiatan bedak tabur itu. "Masuk." Tampak pelayan semalam datang dengan makanan dan yang lainnya.
"Selamat pagi Nyonya, saya membawakan sarapan untuk nyonya dan juga pakaian untuk nyonya serta tuan kecil." Yana menatap beberapa pakaian yang dibawakan oleh pelayan lain dibelakang nya.
"Putraku sudah...."
"Maaf nyonya, tapi ini perintah Tuan. Kami tidak ingin ada masalah jika semuanya tidak sesuai keinginan Tuan."
"Letakkan saja, terimakasih. Apa dia sudah pergi?"
__ADS_1
"Tuan sudah pergi ke kantor seperti biasanya nyonya." Yana hanya diam setelah mendengar jawaban itu, lagipula ia juga tidak peduli akan hal itu. Karena hal yang terpenting baginya adalah segera lepas dari ikatan pernikahan serta rantai dari Max.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ditengah kesibukan yang melanda sebelumnya, terdengar suara gaduh dari luar, bukan hanya itu. Tampak beberapa pria berseragam masuk meskipun mendapatkan penolakan.
Hingga sebuah panggilan datang dan membuat manik itu menatap ke layar yang berisi tayangan. "Persilakan mereka masuk."
Tak lama setelah panggilan berakhir, pintu itu terbuka memperlihatkan petugas berseragam dengan pria yang sudah berasap di depannya. "Tangkap dia pak! Dia telah menculik putraku!"
"Saudara Tuan Max, anda dilaporkan telah membawa putra Tuan Vander dan kediamannya."
"Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Aku tidak menculik putra siapapun, aku hanya membawanya menemui ibunya. Bukan begitu Tuan Vander? Sepertinya ia lupa, kalau istrinya sedang sakit saat ini dan bayi berusia enam bulan tentunya membutuhkan ibunya kan?" Vander tampak diam mendengarkan keahlian bicara pria didepannya ini.
"Tuan Vander, apa...."
"Bukan itu saja pak polisi. Aku ditugaskan untuk membawa putranya menemui ibunya karena ada pesta di kediaman itu. Sebagai rekan yang baik, aku hanya membantu." Sambil bicara, Max mendekat ke arah Vander dan berbicara pelan di telinganya.
"Kalau kau ingin membawa polisi, aku juga bisa. Mau ku perlihatkan sesuatu pada mereka? Dan kita lihat setelah ini siapa yang akan ditangkap, kau atau aku." Manik Vander membesar sedikit serta napasnya naik turun tapi ia tahan dengan genggaman tangannya yang siap bertinju.
"Aku lupa, yang dia katakan adalah benar. Maafkan aku." Max tersenyum mendengarnya tapi Vander justru sudah menahan diri dari dalam.
"Kalau begitu, kami permisi. Maaf menganggu tuan Max."
"Ya, sebuah kesalahpahaman sering terjadi." Baru saja petugas polisi itu pergi, cengkraman langsung mendarat di leher salah satunya dan membuat tubuh itu berjalan mundur.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan! Hah!" Max hanya tertawa ditengah kemarahan yang berada di depannya.
"Bagaimana rasanya saat milikmu diganggu? Kau pasti tidak suka."
"Bagaimana mungkin kau kembali! Kau ingin balas dendam?"
"Menurut mu?" Vander perlahan menjauh dari Max dan membuat tubuh itu bangkit.
__ADS_1
"Aku tidak menganggu milikmu! Kau yang datang dan mengacaukan segalanya! Kau harus tau tempat mu!"
"Kalau begitu kenapa kau begitu takut? Ini baru serangan pertama dariku."
"Takut? Tidak! Siapa yang percaya dengan ucapan mu. Rupa mu tidak mendukung apapun."
"Aku tidak butuh rupa itu. Yang seperti dirimu! Itu sangat menjijikkan!" Sekarang giliran Vander yang tertawa terbahak-bahak.
"Begitukah? Tapi rupa itu melekat pada Xavier." Sebelum Max bicara lagi, Vander langsung berbicara apa yang ingin ia katakan.
"Kita sudah hidup sendiri-sendiri. Kau memiliki segalanya sekarang, tanpa mengganggu bagian ku. Dan apa kau punya bukti dari kejadian itu? Hanya bualan dari mulutmu tidak bisa dijadikan bukti. Aku akan anggap semuanya impas, sekarang kita selesaikan secara jantan."
"Jantan? Kau bahkan seperti wanita yang bermain curang!"
"Tutup mulutmu!"
"Bahkan kejantanan mu tidak bisa memberikan penerus untuk mu, bagaimana jika mereka tau? Jangan harap apa yang kau lakukan padaku, akan aku lupakan begitu saja. Meksipun wajah ini sudah berubah, tapi tidak dengan ingatan ku."
"Kau ingin menghancurkan ku? Kau lupa dengan papa, kau tidak sayang padanya?" Vander mulai memainkan sesuatu yang menjadi bagian dari kelemahan Max.
Tampak nya itu mulai berpengaruh membuat Vander sedikit diatas angin. "Kau ingin balas dendam, baiklah. Aku ladeni, tapi mungkin Papa juga terseret.... Atau... Juga wanita yang berada di hatimu, kau tidak lupakan adik ku? Apa kau ingin aku bercerita, sepertinya kita bisa membahas masa lalu kita sejenak. Baru membahas yang lainnya."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di tempat lain, Papa Vander tampak baru saja selesai melihat rekaman yang berada ditangannya. "Dia pria yang sama dengan yang ku incar. Apa ini ada kaitannya dengan perselingkuhan ini?"
"Tuan besar mau kemana?"
"Aku ingin ke kantor Max, Vander juga ada di sana kan. Entah bagaimana polisi tidak jadi menangkap nya, aku ingin bertemu dengannya. Dan ingin tau apa maksudnya melakukan hal ini dan yang terpenting manik itu."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!