
Sesuai hari yang terngiang-ngiang di benak Yana, terutama dari pria misterius itu membuat dirinya tidak tenang. Kebetulan hari ini, Vander sedang pergi dan pulang terlambat. Yana masih ingat perkataan suaminya itu. "Aku akan pulang terlambat, ada pertemuan untuk launching produk, tidak apa kan?" Saat itu mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.
"Tidak apa, mau ku antarkan makan siang?" Tawar Yana yang memang sudah jadi kebiasaan nya.
"Boleh, aku suka." Yana tampak tersenyum mendengar ucapan suaminya, manik Yana dihiasi dengan keaktifan Xavier di usia nya saat ini. Sambil ditemani oleh baby sitter nya, Xavier tampak lincah dan membuat bahagia Yana semakin menjadi.
Dan beberapa saat kemudian, Vander berangkat kerja seperti biasanya, dan waktu berlalu hingga pukul menunjukan waktu makan siang. Yana tidak bisa mengantarkan, jadi meminta supir mereka untuk mengantarkan ke kantor Vander.
Karena Yana mempersiapkan ASI-nya untuk putranya ketika ditinggalkan beberapa jam nanti. "Dengar, aku sudah meletakkan semuanya di lemari pendingin. Jangan lupa ya, dan kabari jika tuan pulang, mengerti?" Yana memberikan penjelasan kepada baby sitter putranya dan membuat baby sitter itu mengangguk-angguk mengerti.
Dengan segera, Yana keluar menuju hotel angkasa sesuai ucapan pria misterius itu. Dalam perjalanan, Yana masih menyempatkan untuk mengirim pesan kepada suaminya. "Semangat." Tulis Yana sambil memberi emoticon cinta dan tak lama segera dibalas oleh Vander.
"Aku akan pulang beberapa jam lagi, mungkin 4 jam lagi. Semuanya baik kan?"
"Iya, semuanya baik. Kenapa begitu lama? Mau ku bantu? Aku bisa kesana." Jawab Yana yang membuat Vander kembali mengetik.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau kau lelah. Cukup mengurus putra kita saja, apa kau tidak percaya? Mau ku kirimkan foto nya?" Tawar Vander dengan diakhiri emoticon tertawa.
"Aku percaya, sampai jumpa di rumah." Setelah itu Vander membalas dengan emoticon yang sama dan pesan keduanya berakhir.
Yana menggunakan taksi untuk kesini, dan langsung bergegas turun setelah sampai. Dengan langkahnya Tania menuju meja resepsionis dan anehnya resepsionis itu seolah tau akan kedatangannya dan membuat Yana cukup curiga, tapi sekarang yang terpenting adalah hal yang berada di ruangan itu membuat Yana menekan rasa lainnya dibandingkan rasa penasarannya.
Setelah keluar dari lift, Yana dipandu atau ditemani oleh seorang wanita staff hotel itu yang menuntutnya ke ruangan di sebelah kiri. " Tapi...." Ketika Yana ingin melayangkan protes, wanita itu seolah tau dan meminta Yana masuk.
Ketika Yana masuk, terlihat sebuah kursi dan meja yang disusun seperti bioskop kecil dengan infokus yang siap diputar. Yana segera duduk dan tak lama serta tanpa kata staff itu pergi meninggalkan nya dan ketika Yana terlihat ingin mengentikan pergerakkan staff itu, rekaman tampak dimulai.
Manik Yana langsung bekerja melihat pemeran dari video itu. Rasa penasaran tadi berubah menjadi campur aduk seiring dengan manik dan pendengarannya tengah bekerja.
"Ya, mau bagaimana lagi. Setidaknya ia sangat muda dikibuli."
"Apa karena anak itu? Kau masih saja bertahan dan melakukan sandiwara ini?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, kalau tidak papa ku bisa tau. Dan sangat jelas ia mendukung Yana dan tentunya membuat diriku sulit sayang. Kau harus bersabar, percayalah.... Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Yana. Sungguh..." Setelah mengatakan itu, tampak wanita itu tersenyum dan keduanya melakukan pertikaian lidah yang membuat Yana berpaling dari layar sejenak.
"Aku ke kamar mandi dulu. Tunggu ya." Sambil mengigit kuping sang pria, wanita itu menuju kamar mandi.
Yana ingin pergi karena sudah merasa tidak tahan lagi, tapi dialog selanjutnya membuat dia akan kembali duduk lagi. "Aku punya rencana sendiri dengan itu. Dan tidak ada yang tau, tidak ada. Sandiwara ini hanya untuk mengikat Yana dan juga anak itu. Anak pria itu.... Tidak akan ku biarkan semuanya lepas. Meskipun aku harus bersandiwara menyayangi Yana dan juga anak haram itu." Tak peduli dengan dialog berikutnya, Yana langsung pergi dari sana.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Untuk kedua kalinya, Yana merasa jatuh di lubang yang sama, dengan perlakuan manis Vander padanya membuat ia berpikir bahwa pria itu sama. Tapi rupanya, pria itu bertopeng iblis. "Pria itu benar, Vander... Dia... Aku tidak bisa begini, nyawa Xavier dalam bahaya. Aku tidak mau nyawa putraku dalam bahaya. Tidak akan! Aku harus segera pergi..... Sejauh mungkin dan tidak bisa dijangkau oleh Vander. Aku akan mengirimkan pesan kepada Mama dan Papa." Tanpa menunggu lagi, sambil dalam perjalanan, Yana mengirimkan pesan kepada orangtuanya.
Setelah sampai di kediaman neraka yang berkamuflase surga itu, Yana menghapus wajah kacaunya. "Jika dia berpura-pura, maka aku juga bisa. Setelah ini kau tidak akan bisa mendekati ku dan putraku, tidak akan!"
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!