Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Kembali


__ADS_3

Taman yang dibicarakan sejak tadi oleh Xavier sepanjang jalan, akhirnya sampai juga. Tampak Xavier begitu bahagia dengan pemandangan di depannya. Tumbuhan lili tengah bersemi di depannya dengan warna yang indah yang terlihat tersusun rapi.


"Mami lihat! Indah sekali, aku ingin berfoto di sana. Mami juga, ayo mami!" Tak mau kalah dengan pengunjung yang sudah mulai terlihat, Xavier menuntun tangan mami nya mengikuti langkah kakinya.


Diantara tumbuhan lili itu, ada jalan setapak kecil yang bisa dilewati oleh pejalan kaki saja, dan bertujuan tidak merusak tanaman.


Xavier tampak berpose senyum bahagia sambil menikmati pemandangan lili yang mengitarinya. Yana segera mengambil potret putranya yang terlihat menawan dan senyuman itu membuat hati Yana merasa sangat bahagia.


"Dia terlihat seperti mu, sangat. Xavier sudah tumbuh besar, terkadang aku merasa, kau ada disini. Melihat ku dan Xavier, dan ikut tersenyum sambil menikmati pemandangan ini bersama, seperti keluarga impian kita." Beberapa kali Yana mengambil potret putranya yang terlihat mengeluarkan berbagai ekspresi dan juga pose bak model yang terlihat sederhana tapi sangat indah.


Yana mengikuti langkah kecil putranya terhenti sejenak karena topi putranya terjatuh, membuat dirinya tidak tau apa yang terjadi kepada putranya.


Tampak Xavier yang berjalan juga ikut terhenti karena sosok didepannya. "Halo." Sapa pria itu yang terlihat dengan wajah eropa seperti yang ia sering temui, tapi ada sesuatu di manik matanya membuat Xavier menatap cukup lama.


"Matamu sangat indah, terlihat seperti ku." Ujar Xavier membuat pria itu tersenyum padanya.


"Kau juga terlihat begitu tampan."


"Sejak lahir sudah begitu, apalagi dengan mami ku yang cantik."


"Begitu? Kau hanya dengan mami mu saja?"


"Ya, apa kau sendirian saja?" Tak terlihat ada rasa canggung atau seperti saat bertemu dengan orang asing, Xavier justru terlihat bersahabat dengan pria yang baru ia temui.


"Ya, aku hanya sendiri, tapi sekarang sepertinya tidak lagi. Mau jadi temanku?"


"Teman? Aaaa... Bagaimana kalau..."


Yana yang kembali melangkah cukup kaget dan mengamati pelan-pelan pria yang terlihat sedang berbicara dengan putranya. Manik Yana melihat ekspresi putranya yang terlihat biasa tanpa ancaman seperti yang ia ajarkan. "Siapa itu?" Tak begitu jelas karena bertolak belakang membuat Yana mempercepat langkahnya untuk melihat sosok pria itu.

__ADS_1


"Xavier, pakai topinya." Pria itu masih membelakangi Yana membuat Yana tidak bisa melihat wajahnya.


Xavier yang sudah mendapatkan topinya kembali, langsung memakainya karena sinar mentari yang cukup hangat dan menyilaukan dirinya. "Ini mami ku, mami. Dia bilang ingin menjadi temanku, jadi..... Aku memintanya mengambil potret kita."


"Sayang, mami bilang jangan dekat dan bicara dengan orang....." Yana tidak melanjutkan ucapannya karena pria itu akhirnya berbalik dan Yana begitu jelas melihat wajah itu.


"Kau!" Ketika Yana ingin melangkah pergi membawa putranya, tangannya ditangkap satu oleh pria itu yang membuat Yana yang ingin meledak menahannya di depan Xavier.


"Beri waktu sebentar saja, kita perlu bicara. Hanya sebentar, setelah itu kau bisa putuskan bagaimana nanti. Dan aku tidak akan menemui mu lagi, aku bersumpah." Entah mengapa, Yana merasa pria yang tidak pernah ia bayangkan akan datang lagi tidak menimbulkan masalah.


"Mami mengenal nya?"


"Ya, kami pernah bertemu. Jadi, bagaimana kalau ke restoran sana?" Tunjuk nya yang membuat Xavier bersorak gembira karena disana ada permainan untuk anak-anak ketika orang tua ingin makan sambil mengawasi anak mereka.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Salmon dengan saos barbeque dan juga ekstra salad." Yana memandangi pria dihadapannya yang memesan makanan yang sama.


"Wah, sepertinya kita memiliki selera yang sama." Xavier tampak memecah kejadian itu sehingga kembali seperti semula, Yana hanya berpikir itu adalah kebetulan, tapi nyatanya tidak.


Tak lama pesanan mereka sampai, Xavier langsung memilih bangku di salah satu wahana bermain yang tak jauh dari Yana duduk. Sekarang hanya tinggal dirinya dan pria itu.


"Aku tidak suka berlama-lama, jadi... Apa yang ingin kau katakan Max? Atau Jaden? Atau kau memiliki seribu nama lain?"


"Xavier tumbuh dengan baik, dia juga sangat pintar. Kau telah menjadi mami yang baik."


"Aku katakan sekali lagi dia bukan putramu. Sedikit pun tidak!" Max tidak mengatakan apapun selain menatap Yana dihadapannya.


Yana yang menghindari tatapan Max, tak melihat makanan yang akan ia masukkan ke dalam mulutnya. Ketika ia ingin melanjutkan makanan itu ke saluran pencernaan nya, sebuah tangan langsung mengentikan nya.

__ADS_1


"Itu selada, kau alergi." Yana tentu merasa kaget dengan tindakan Max.


"Bagaimana kau tau? Apa kau mencari tau semuanya?" Yana tampaknya begitu curiga dengan Max.


"Untuk apa mempelajari soal yang sama jika sudah paham."


"Katakan dengan jelas, apa yang kau inginkan sebenarnya?"


"Aku ingin tenggelam dalam bola matamu, menjadikan tanganmu pegangan ku seumur hidup. Menjadikan kakimu sebagai langkah seumur hidup dan menjadikan senyuman mu seperti mentari dan air matamu seperti hujan. Aku ingin dirimu menjadi berbagai rasa dan tempat untuk kita menjalani pernikahan seumur hidup. Aku ingin anak-anak kita mewarisi semua yang ada padamu dan aku ingin kau akan menjadi obat untuk kesakitan ku dan toko serba guna untuk masalah yang terjadi dalam hubungan kita." Yana tidak bisa berkata-kata apapun lagi, entah mengapa air mata nya turun begitu saja. Semua rangkaian kata-kata itu ia kenali dengan sangat baik dan tidak akan pernah lupa.


"Darimana kau tau semua itu? Tidak ada yang tau, darimana kau tahu? Hah! Hanya Xander dan aku yang tau."


"Hotel Sky nomor 20, malam tahun baru." Yana tampak merasa sesak di dadanya.


"Siapa yang memberitahu mu? Apakah Xander? Apa Xander yang mengirim mu? Katakan!"


"Yana, kau tidak merasakan nya?" Tangan Yana yang berada di meja sekarang berada di debaran hebat itu.


Awalnya dia memberontak tapi tak lama bak sebuah lem membuat tangannya menempel disana. "Xander?"


"Meskipun semua orang memiliki wajah yang sama, tapi tidak..."


"Dengan manik dan debaran nya.... Kau ..."


"Aku kembali, Yana."


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2