
Malam yang begitu tenang untuk tidur bagi obat mata itu tidak dilaksanakan. Justru tampak terjaga menatap sosok mungil yang belum mau tidur di atas ranjang yang begitu empuk itu. "Ayolah sayang, kenapa belum tidur juga? Kau sudah kenyang dan tidak kotor. Ada apa hmm?" Tampak Yana menatap putranya yang seolah-olah mengajak nya begadang malam-malam ini.
Xavier tampak begitu riang dengan menggerakkan tangan dan kakinya secara bersamaan serta maniknya yang membola terlihat indah ketika disapa oleh lampu kamar. "Kau merasakan kita di tempat baru? Mama tau.... Ini tempat orang salju. Kau pasti tidak bisa tidur hmm?" Yana mengatakan hal yang tidak baik tentang Max kepada Xavier yang terlihat mendengarkan.
"Setelah mama baikan, kita akan pergi dari tempat ini. Bukan hanya dari tempat ini tapi dari sini! Karena warna yang menghiasi hati serta mata mama membuat semuanya rusak sehingga tidak ada lagi warna." Yana menerawang jauh sambil berbicara pada putranya.
"Kau sudah mengantuk?" Tampaknya Xavier merespon ucapan Mama nya tapi tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh Yana.
"Sayang ini sudah malam, kalau...."
"Kenapa meminta nya tidur? Kalau kau mengantuk, kau saja yang tidur." Tidak diundang dan datang bak angin ribut, Maxim masuk begitu saja dan ikut bergabung dengan anak dan ibu itu.
"Kenapa kau mengatur ku? Dia putraku, tentu saja aku melakukan hal yang baik untuknya. Kenapa kau ikut campur?" Dengan tatapan sengit Yana menatap pria salju itu.
Max tidak menjawab lagi dan memilih mendekat ke arah ranjang membuat Yana bingung ketika bibirnya kembali melayangkan pertanyaan....
"Kau ingin begadang sayang? Jangan khawatir, Daddy akan mendampingi mu." Mata Yana makin membulat mendengar dengan bangganya Max mengumumkan dirinya dengan Daddy.
"Siapa yang memberikan mu untuk...." Bak patung, Max membawa Xavier keluar dari sana dan meninggalkan Yana sendiri dengan penolakan dirinya.
"Hei! Kau!" Ketika Yana ingin bangkit, seorang pelayan muda wanita masuk dan membawakan sesuatu.
"Nyonya jangan khawatir.... Tuan hanya akan membawa tuan kecil ke kamarnya. Nyonya bisa istirahat dan sebelumnya minum dulu vitaminnya. Jangan khawatir Nyonya, percayalah." Pelayan itu terus meyakinkan Yana seolah tau apa yang dipikirkan wanita cantik itu.
__ADS_1
"Tentu saja kau membelanya, dia tuan mu."
"Tapi seorang Ayah tidak akan pernah menyakiti putranya." Yana menatap pelayan itu yang setelah mengatakan nya langsung mengambil gelas kosong yang sudah Yana habiskan dan langsung undur diri.
"Apa katanya? Dia sudah mendeklarasikan dirinya kepada semua orang disini." Mungkin karena sesuatu atau mata dan tubuh Yana yang meminta istirahat membuat dirinya tertidur setelah itu.
Rasa kantuk yang menyerang tidak memberikan Yana kesempatan lagi untuk bergerak.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ruangan yang tak kalah besarnya, juga ranjang yang tak kalah dari ruangan lainnya menjadi tempat santai pria yang menjadi Daddy salju itu. "Ini kamar Daddy, dan juga kamarmu. Pasti kau merasa jengah dengan ucapan bak kaset rusak itu hmmm? Jangan dengarkan, dia tidak tau apapun." Max ikut berbaring bersama Xavier yang tampak girang disebelahnya.
"Persis...... Tidak ada yang berbeda, hanya orang buta yang tidak tau. Dan itu termasuk dirinya, aku tidak bisa percaya pada siapapun lagi kecuali dirimu Xavier. Kau adalah hal penting bagiku, dan tidak akan aku biarkan orang-orang menjadikan mu kelemahan ku, mereka salah besar jika beranggapan begitu. Tidak ada kelemahan bagiku, mungkin itu dulu tapi tidak lagi... Kau adalah kekuatanku, kita akan menyerang semua yang menganggu kita."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Lain lagi dengan ruangan yang masih diterangi oleh lampu, kursi yang mewah itu menjadi pelampiasan sosok yang menempati nya. "Kenapa kau mengentikan ku?"
"Vander.... Ini sudah malam, mau cari kemana? Mama mu juga sakit, wartawan bisa saja menjadi intel sekarang mencari berita dan menggoreng nya. Aku tau kau cemas dengan keadaan Xavier, tapi melihat tindakan mu, aku merasa kau tau sesuatu."
"Mia kau tidak bisa menjadi bagian telinga mendengar masalah yang aku hadapi, jaga batasan mu."
"Aku tau." Vander memilih bangkit meninggalkan wanita itu dan setelah menghilang dari pandangan nya, Mia menggenggam erat tangan kursi itu.
__ADS_1
"Mungkin sekarang tidak, tapi nanti... Bahkan rahasia seperti mikroba pun akan tertanam padaku Vander."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Bagaimana keadaan Mama?"
"Papa ingin bicara denganmu, jangan berpikir Papa tidak tau yang kau sembunyikan."
"Papa ingin tahu apa? Aku ingin menanti esok hari dengan tidak sabar."
"Siapa yang membawa Xavier? Dan juga kemana Yana sebenarnya? Kau menyembunyikan apa saja Vander? Jawab Papa!" Sungguh ingin sekali Vander mengatakan hal yang sebenarnya, tapi entah apa yang menghalanginya sehingga ia membatasi kebenarannya.
"Yana berselingkuh pa, dan selingkuhan nya yang membawa Xavier."
"Apa!"
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!
__ADS_1