Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Hujaman Pertanyaan


__ADS_3

Dalam pemeriksaan yang tengah berlangsung itu, sesosok wanita masuk dengan kekhawatiran. Semuanya ikut menoleh bersamaan melihat kedatangan wanita itu. "Sebaiknya beberapa hari ini, tidak bisa digerakkan terlebih dahulu. Terutama tangan kanan yang lebih parah dengan lukanya." Ujar sang dokter terdengar dengan jelas oleh semuanya.


"Baik Dokter, terimakasih banyak." Tak lama dokter itu segera berlalu dan mata yang tadinya tertuju pada tamu kembali terulang.


"Vander...."


"Dia melukai dirinya sendiri. Dan juga dengan meneriakkan nama Xavier dan juga dirimu. Papa tau yang terjadi diantara kalian, karena itu Papa menghubungi mu Yana. Kita bisa membicarakan hal ini bukan? Dan kemana kau beberapa hari ini?" Tampak mertua Yana mendekati menantunya itu yang terlihat khawatir dengan pesan yang dia berikan.


Yana belum memberikan reaksi apapun, seolah tau. Mereka memberikan ruang untuk keduanya berbicara, karena sepasang suami istri yang masih terikat itu perlu bicara saat ini. "Ayo sayang, ikut opa hmm." Xavier sekarang berada di dalam gendongan papa mertua Yana dan mengajaknya keluar.


Untuk sejenak terjadi keheningan dan tidak ada yang mau bicara terlebih dahulu. Padahal di hati keduanya begitu banyak hal yang akan dibicarakan. "Aku tau yang terjadi tidaklah baik." Yana cukup kaget dengan pria itu yang memulai lebih dahulu.


"Dan untuk ucapan ku yang sudah terucap.... Aku meminta maaf, sungguh Yana aku tidak menginginkan hal itu." Dan itu tentu saja lebih membuat Yana kaget lagi.


Seolah pertengkaran mereka yang sudah terjadi langsung dilupakan begitu saja. "Mungkin memang benar, apa yang aku lakukan dan juga kau lakukan sama-sama salah. Daripada terus menyalahkan lebih baik memulai kembali bukan?" Yana masih belum bergeming dari tempatnya dan terus mendengarkan ucapan Vander.


"Bagaimanapun juga, Xavier sangat membutuhkan keluarga yang lengkap. Impian kita yang sempat terhenti, bukankah bisa kita lanjutkan kembali?" Yana menatap manik pria yang sempat melontarkan kata-kata tidak baik bahkan kata haram bagi hubungan mereka.

__ADS_1


"Apa ini semacam trik baru?" Vander menatap balik wajah Yana yang tidak bisa terjangkau olehnya.


"Tidak Yana, apa kau masih ragu? Aku mengaku salah, dan mengatakan hal buruk saat marah. Seharusnya aku tidak begitu padamu."


Yana tersentak ketika tangan kiri Vander menjangkau tangannya. Elusan mulai terasa yang membuat Yana merasakannya lebih meresap lagi. "Lihat mataku, dan katakan apa yang aku katakan adalah benar atau kebohongan?"


"Lalu wanita itu?"


"Dia hanya mainan saja, atau tempat singgah karena rasa marah serta frustasi atas apa yang terjadi Yana."


"Aku...."


"Kau...."


"Aku bukannya tidak percaya, tapi hanya ingin memastikan keraguan ku. Bukankah kau bilang kepercayaan adalah kunci hubungan kita?"


Ketika Yana ingin beranjak sejenak, tangan Vander yang terluka langsung terkena akibat pergerakan Yana yang membuat pria itu meringis. "Vander!" Dengan cepat Yana berteriak dan mengambil tangan Vander yang terluka untuk memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Apa sakit? Tanganmu...."


"Lihat, kau merasakan sakit ketika aku yang berteriak, bukankah perasaanmu masih sama?"


Sekarang Vander menatap lekat wajah Yana dan begitu juga sebaliknya, sekarang keduanya saling memandang tanpa halangan. Bukan hanya mata, tapi juga ada sentuhan di tangan keduanya. " Katakan Yana, apakah kau masih mencintaiku? Jika kau tanya aku, maka aku menjawab iya. Segala kenangan yang kita lalui, pertemuan pertama kita hingga pernikahan dan juga kelahiran Vander aku tersadar semuanya sangat berarti."


"Baik, mungkin kita bisa menerima kesalahan satu sama lain, tapi.... Bagaimana jika mungkin hal yang kita takuti terjadi?" Vander mengangkat alis matanya mendengar pertanyaan Yana.


"Maksudnya?" Vander seperti tidak mengerti dan meminta penjelasan lebih pada istrinya.


"Kebenaran mengenai Xavier. Bagaimana jika ia bukan putramu?"


"Bagaimana jika itu benar, dan apa yang akan kau lakukan?" Yana langsung saja meminta jawaban dari pertanyaan yang terasa menjadi beban besar dan berat baginya.


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!



__ADS_2